Meet Kara & Kalle: Satu


Kali pertama aku melihatnya, perempuan itu berjalan ke arahku dengan air mata membasahi kedua pipinya.

Malam sudah sangat larut. Hari itu Selasa pertama Juli, aku ingat benar. Aku harus meninggalkan pertemuan bisnis di Bali agar bisa secepatnya pulang ke Jakarta. Pesawatku terlambat mendarat. Dari bandara, aku langsung ke rumah sakit.

Aku bertemu dengan perempuan itu di sana. Dia keluar dari ruang tunggu operasi. Sosoknya yang sangat ramping melewati pintu kaca. Langkahnya agak terhuyung. Tatapannya kosong.

Dia berjalan ke arahku, tetapi tidak melihatku. Perempuan itu menubrukku. Bahunya yang kecil melanggar dadaku. Aku lebih besar—karena aku lelaki—dan sepasang kakinya tidak menapak dengan benar. Dia pasti sudah jatuh kalau aku tidak menangkap lengannya.

“Hati-hati.” Aku berkata demikian kepadanya.

Perempuan itu tidak menjawab, tidak juga berpaling. Aku tidak yakin dia mendengarku. Kulitnya dingin dan berbau aneh: perpaduan logam dengan batu-batuan. Dia menegakkan tubuhnya perlahan-lahan, lalu kembali berjalan. Lengannya melepaskan diri dari genggamanku. Punggungnya menjauh bersama suara sepatunya yang diseret. Aku memperhatikannya ditelan lorong rumah sakit.

Untuk beberapa saat, aku masih bisa mencium bau logam dan batu-batuan. Itu yang membekas di benakku. Itu dan air mata di kedua pipinya. Lalu, untuk beberapa saat, aku melupakannya.

“Kalle.”

Namaku dipanggil dari dalam ruang tunggu operasi. Aku melihat adik Papa dan istrinya di balik pintu kaca. Aku masuk. Mereka memelukku bergantian. Adik Papa berusaha menahan tangis sementara istrinya sudah sesenggukan.

“Maaf, Nak. Kami minta maaf.”

Aku tahu jelas maksudnya. Operasi tidak berhasil. Mendadak, kakiku lemas. Aku melepas kacamataku dan menjatuhkan diri ke kursi di sudut. Tubuhku merunduk dan tanganku menutupi wajah. Aku berbisik, “Ya, Tuhan.” Dadaku luar biasa sakit sewaktu aku menarik napas.

Perempuan itu. Untuk beberapa saat, aku melupakannya. Sampai aku melihatnya lagi di pemakaman adikku.

*

Pemenang Buku Parent's Stories

Terima kasih, teman-teman yang sudah ikut berbagi di Virtual Book Tour Parent's Stories 4 Maret lalu. Saya sangat menghargainya dan terharu membaca setiap tulisan. Rasanya, seperti diberi kepercayaan untuk menyimpan sebagian kecil keping kenangan kalian. Saya yakin cerita teman-teman akan menginspirasi para orangtua dan calon orangtua. 

Pembaca yang beruntung mendapat buku terbaru Adhitya Mulya adalah Sekar di Yogyakarta, ibu muda bagi dua adiknya. Selamat, ya. Semoga buku ini bisa memberi semangat untuk tetap berjuang. Mohon infokan nama, alamat beserta kode pos, dan nomor telepon ke windry.ramadhina@yahoo.com. Sekali lagi, selamat!

Untuk teman-teman yang belum beruntung, saya sangat menyarankan buku Parent's Stories ini. Kita bisa sama-sama belajar dari Adhitya Mulya tentang membentuk anak yang berdaya.

Tetap kunjungi blog saya untuk info terbaru mengenai buku, tulisan, dan karya-karya saya. Sampai lain waktu!


[Virtual Book Tour Parent's Stories] Balerina dan Jendela di Sudut Mikrolet



Tulisan saya kali ini adalah cerita sederhana yang ingin saya bagi setelah membaca Parent’s Stories Adhitya Mulya—buku terbaru PandaMedia.

Ini cerita orangtua. Saya si orangtua itu. Sebagian pembaca saya sudah tahu, walau banyak juga yang tidak, bahwa saya seorang ibu. Gadis kecil saya, Balerina, berumur enam tahun lebih sedikit. Dia lucu, manis, aneh, dan menjengkelkan pada saat yang bersamaan. Oh, dan di akhir cerita, kalian bisa mendapatkan buku Adhitya Mulya!

Nah, cerita saya dimulai dengan pertanyaan.

“Kita mau ke mana?” Pertanyaan pertama. Datang dari Balerina. Ditujukan kepada saya pada satu pagi.

Last Forever: Book Jacket


Saya dan GagasMedia menyiapkan edisi terbatas Last Forever. Edisi ini disertai jaket buku yang didesain khusus. Kami menampilkan beberapa ilustrasi yang ada dalam buku di jaket tersebut. Bahannya kain. Gambar dicetak digital sehingga hasilnya cantik.

Ide membuat jaket buku muncul dari keinginan saya menghadirkan merchandise unik seperti yang saya hadirkan saat Orange terbit ulang. Tetapi, saya ingin merchandise yang berbeda dan jaket buku jarang ditemukan.

Jika ingin memilikinya, teman-teman bisa memesan di sini. Ada tiga desain.

Last Forever: Lana Lituhayu Hart

Lana Lituhayu Hart 

Lana Lituhayu Hart lahir ketika saya bertanya-tanya, seperti apakah perempuan yang bisa membuat seorang Samuel Hardi bertekuk lutut.

"Dia harus sempurna," kata seorang teman, "kalau tidak, Samuel hanya akan menyukainya secara parsial, lalu meninggalkannya setelah bosan." Teman saya benar.