.

.

A Piece of Strawberry Pie in the Morning

Hari ini hujan turun. Tidak deras. Maya duduk di salah satu sudut cafe yang kosong. Ia sendiri; hanya ditemani sepotong pai stroberi yang tadinya hangat. Sepasang matanya sudah sejak satu jam yang lalu tidak lepas menatap keluar lewat jendela berbingkai putih di sampingnya. Ia tengah menatap waktu.



Hari itu tahun berganti. Mereka duduk bersama di salah satu sudut cafe, di samping jendela berbingkai putih. Seperti biasa. Ia memakan sepotong pai stroberi dan pria di hadapannya meminum secangkir teh panas.

"Tidak ada yang salah, hanya memang sudah waktunya berakhir," bibir itu berbisik pelan, menjawab pertanyaannya setelah memberi ciuman hangat.

Ruang cafe berwarna jingga terpendar sinar matahari terbenam. Sore hari yang cerah; kala itu. Sepasang matanya tidak dapat melihat dengan jelas, blur karena genangan air mata dan pai miliknya tidak habis dimakan saat mereka berpisah kemudian.

Hari ini tahun berganti. Ia duduk di dalam cafe yang sama, mengambil tempat duduk di meja yang sama, memesan pai stroberi yang sama. Di pagi hari. Seperti orang bodoh, tidak ingin lupa tapi terlalu takut untuk bertemu kenangan.

Dihelanya nafas letih; letih berbuat sia-sia. Hujan berhenti dan ia bangkit berdiri, lagi-lagi meninggalkan pai itu tidak tersentuh.

Sudah lewat dua tahun dan mungkin ia harus berhenti datang.

3 comments:

  1. Kisah ini seperti cerita di novel walking after you. Apa dugaanku benar, Mba Windry? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan. Cerita di Walking After You dikembangkan dari cerpen berikut: http://www.windryramadhina.com/2008/02/draft-kucing-hitam-lelaki-asing-dan.html?m=1

      Delete