.

.

Hari Ini Kita Berpisah, Rani


Terkadang, perpisahan adalah hal yang sangat kuinginkan.

Seringkali, sakit di kepalaku ini seperti tidak bisa kutahan lagi. Malam hari di tengah tidur, antara sadar dan tidak, sakit ini mengamuk, menjadi-jadi, lalu tumpah lewat erangan dari mulutku. Keringat dingin mengalir begitu deras seperti ingin menguras habis cairan dalam tubuh ini dan aku tidak lagi bisa mengendalikan setiap lembar syaraf di tangan dan kaki.


Setiap malam aku meronta tanpa kendali untuk mengusir rasa sakit dan terkadang, Rani. Hanya terkadang. Sosokmu yang menghambur masuk ke dalam kamar mengusir rasa sakit itu tiba-tiba. Hanya terkadang, cukup dengan melihat senyum di bibirmu, hangat tatapan matamu, aku bisa bertahan.

Namun seringkali, bahkan kecupanmu, pelukanmu atau air matamu sekalipun, tidak cukup untuk menghentikan itu semua. Seringkali sepasang lengan ini menarikmu ikut serta merasakan penderitaan, seakan ingin meremukkan tulang dalam tubuh kurusmu. Dan aku meracau di sela teriakanku,

“Cabut saja nyawa ini, Tuhan!” karena hanya kematian yang bisa mengakhiri rasa sakit ini. Tapi malaikat tidak juga datang menjemput.

Beritahu aku, Rani. Kapan ini berakhir?


Seringkali, perpisahan adalah hal yang sangat kutakutkan.

Kapan ini akan berakhir, tanyamu?

Setiap hari dalam kesendirian, Re, kupaksakan bibirku tersenyum berjam-jam lamanya di hadapan cermin. Maka, saat malam tiba dan dirimu memekau penuh derita, aku sanggup menawarkannya dengan senyuman. Dan saat kau mendekapku dengan begitu kencang, aku sanggup menghindari rintihanku sendiri.

Namun satu yang aku tidak yakin sudah mampu melakukannya. Mengantarmu pergi dengan senyuman.


Terkadang, aku bertanya, siapa yang sesungguhnya egois? Kau? Ataukah aku?

“Tidak lama lagi,” kata-katamu tidak pernah mencoba menipuku, Rani, “dan kuantar kau dengan senyuman,” tapi kau mengeluarkan air mata. Kau menangis bukan mengulas senyum.

Kusadari bagaimana malaikat kematian seolah ikut jatuh cinta padamu, memihakmu, dan memberi apa yang kau minta. Karena dirimu, Rani, ia tidak juga membawa nyawa ini. Karena kau belum sanggup tersenyum. Karena kau belum bisa melepaskanku. Jadi, kapan kau akan membiarkanku pergi? Sampai kapan kau ingin aku bertahan dalam rasa sakit ini?

Dan kurasakan bukan lagi cinta yang ada di matamu. Bukan lagi emosi yang selama bertahun-tahun ini kutemukan. Melainkan, hal sama yang kurasakan juga tersirat dari mataku.


Seringkali, perpisahan adalah hal yang tidak bisa kita hindari.

“Hari ini kita berpisah, Re,” dan wajah tampanmu yang sudah lama tidak sudi menatapku, kini menoleh. Di teras rumah, kita berdua duduk bersama. Di atas dipan kayu, menatap langit senja berwarna jingga di atas padang ilalang. Ditemani suara kepak sayap burung-burung di udara dan ramain gunjingan daun yang diterpa angin.

“Aku bermimpi semalam,” kataku lirih.

Kau merebahkan tubuhmu, menyandarkan kepala di pangkuanku. Jari-jari tanganmu lembut meraih wajahku, menyentuh bibir ini, mata, pipi, lalu kau bertanya, “Kau tersenyum dalam mimpimu?”

Aku mengangguk dan cinta yang sempat hilang di antara kita hadir kembali detik selanjutnya lewat tatapanmu.


Terkadang, perpisahan adalah hal yang sangat indah.

Baru kusadari, aku belum ingin pergi tapi kau berkata bahwa kita akan berpisah hari ini. Cinta, yang kulihat dalam indah kedua bola matamu. Cinta yang sudah lama hilang. Cinta yang kurindukan. Cinta yang akhirnya melepaskanku pergi.

Kapan malaikat itu datang, Rani? Bisa kauminta dia untuk memberiku sedikit tambahan waktu? Aku ingin menatap wajah cantikmu lebih lama lagi.

Agar bisa kuatasi rindu yang akan hadir di hati setelah aku pergi nanti.

“Aku mencintaimu, Re.”

Bisikmu hampir tidak terdengar. Wajahmu keemasan diterpa cahaya jingga. Silau, ruang di sekelilingmu. Aku hampir tidak bisa melihat apapun, kecuali senyum hangat di bibir merahmu dan aku membalas senyum itu dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Ah, ternyata benar. Hari ini kita berpisah, Rani.

No comments:

Post a Comment