.

.

Link


Do you remember?

Hari itu, langit bertabur kelopak mawar merah muda.

When we were young, standing on our tiptoes. There was a door we couldn’t reach.

Berdua kita bersembunyi di balik pintu kayu yang tinggi besar dan tebal. Mencoba mencuri lihat lewat lubang kaca yang kala itu terlalu tinggi untuk kita raih. Kau, tidak peduli dengan kebaya dan kain batik yang rapat membungkus tubuhmu, menaiki sebuah meja. Dengan berani kaki telanjangmu berjinjit di atas permukaannya dan sepasang mata bulatmu menatap ke dalam ruangan di balik pintu dengan antusias.

Aku menatapmu. Menunggu kau berkata sesuatu tapi mulutmu saja yang terbuka tanpa ada kata terucap.

“Kelihatan, Ra?” akhirnya aku bertanya dengan tidak sabar.

Kau mengangguk. Matamu beralih menatapku. Sebuah senyum terulas lebar. “Naik ke sini, Re!”

“Na..naik ke situ?” tanyaku ragu sambil menatap ngeri pada meja yang tengah kau pijak. Meja yang sedang kau naiki itu bergoyang, Ra. Dan lagi, aku takut ketinggian.

“Penakut!” cibirmu sambil tertawa lalu kau mengulurkan tangan ke arahku. “Ayo, aku bantu naik. Ngga ingin lihat tante Mia?”

Aku menelan ludah. Tentu saja ingin! Maka, sekuat tenaga aku mengusir rasa takutku. Kubuka selop hitam yang kukenakan, begitu juga blankon di kepala dan keris yang tersampir di pinggang. Setengah kulempar benda-benda itu ke lantai lalu tanganku meraih tanganmu dan kita berjinjit di atas meja berdua, mencuri lihat ke dalam ruangan di balik pintu.

Aku menahan nafas.

Forgetting about time, we wandered, always end up in amaze.

Hari itu, Ra, aku melihat bidadari berbalut pakaian pengantin Jawa warna putih. Berhias melati dan mawar merah muda. Bersayap cinta.

“Cantik, kan?” bisikmu pelan di telingaku. Mata kita masih terpaku pada bidadari di balik pintu. Aku mengangguk lalu kau berkata lagi, “suatu saat, aku ingin seperti tante Mia, Re.”

Sempat kulirik wajahmu. Aku tidak memahami maksud perkataanmu tapi senyum di wajahmu kala itu, Ra, tidak pernah kulupakan.

Subconsciously, I couldn’t stop searching for your smile.

Senyum yang lama kau bawa pergi begitu jauh. Bertahun-tahun. Bermil-mil. Senyum yang tanpa sadar terus kucari. Tidak melalui orang lain. Bukan dari siapapun kecuali dirimu.

Without changing anything. Even now I continue to run.

Lalu saat kita sama-sama sudah dewasa, masih terpisah begitu jauh, kusadari ada ikatan transparan di antara kita. Ikatan yang tidak mengenal jarak, tidak juga terpengaruh waktu.

“Kita sahabat baik kan, Re?” sekali waktu, pernah kau bertanya lewat telpon.

Kau tidak melihat aku menggelengkan kepala saat itu, Ra. Tidak. Kita bukan sahabat baik. Aku tidak menginginkannya karena aku sudah mengerti maksud perkataanmu dulu dan aku ingin mewujudkannya oleh tanganku.

“Aku mencintaimu, Ra,” kata-kata itu keluar begitu saja.

Kau tidak langsung menjawab. Hanya tarikan nafas terkejutmu yang sempat terdengar lalu entah berapa lama hening menguasai ruang di antara kita kala itu. Apa yang kaupikirkan dalam kediaman itu, Ra? Apa yang menghias wajahmu yang tidak bisa kulihat?

“Aku,” pelan kudengar suaramu, “tidak tahu kapan aku kembali ke Jakarta, Re.”

“Aku akan menunggu,” jawabku segera.

“Aku takut kau harus menunggu cukup lama.”

“Berapa lama pun akan kutunggu.”

“Sangat lama. Kau bisa bosan menunggu, Re.”

Kali itu aku tidak menjawab, hanya mengulas senyum yang tidak bisa kaulihat. Tidak mungkin, Ra. Karena aku mencari senyummu.

“Penakut!” ejekku dan kau tertawa sebagai balasan. Bernada cinta.

Even if we are far apart, our hearts are linked. Even if mischief is our fate, the link won’t be broken.

Apakah kau menghitung waktu yang berlalu, Ra?

Aku tidak. Bagiku, tidak masalah sebanyak apa waktu yang kuhabiskan untuk menunggu. Dan kini aku berada di dalam ruangan luas yang begitu megah. Berdiri di tengah kesibukan puluhan orang menyiapkan banyak hal. Menatap panggung berhias ratusan bunga di ujung ruangan yang kita sebut pelaminan. Setengah jadi pelaminan itu dan aku masih bercelana jeans.

“Re!” seseorang berseru memanggilku dari kejauhan, “dekorasi bagian depan sudah selesai. Coba kau periksa sebentar!”

Aku mengangguk. Sebelum beranjak pergi, sempat kulirik sekali lagi panggung di hadapanku.

Hari ini, langit akan bertabur kelopak mawar merah muda, Ra.

Dan suatu hari, langit akan bertabur kelopak mawar merah muda milik kita. Di hari yang sama kala aku memiliki bidadariku sendiri. Berbalut pakaian pengantin Jawa warna putih. Berhias melati dan mawar merah muda. Bersayap cinta.

Kau.


Jakarta, 21 Agustus 2007
untuk Maya dan Boyke

No comments:

Post a Comment