.

.

Surat Cinta untuk Ju


Surat Pertama

Ju,

sebelum kamu salah paham terhadap saya sehubungan dengan surat ini, saya perlu perjelas bahwa surat ini bukan surat pribadi, apalagi surat cinta (saya bukan satu dari sekian banyak gadis yang mengidolakanmu di kampus). Saya tulis lalu saya berikan padamu karena saya ingin menyampaikan satu hal.

Saya perhatikan, kamu sering membawa pulang sayur segar. Saya tahu kamu bekerja sambilan di pasar swalayan dan mungkin, sayur yang kamu bawa pulang adalah sayur sisa yang tidak terjual. Sayur itu sendiri tidak masalah, sayur baik untuk kesehatan. Yang menjadi masalah adalah, saat kamu tidak memasak habis sayur yang kamu bawa pulang itu lalu membuangnya ke tempat sampah (saya menemukan sayur sisa di tempat sampahmu hampir setiap hari).

Pertama, itu suatu pemborosan. Kamu harus tahu, tidak semua orang beruntung seperti dirimu bisa memakan sayur. Penjaga kantin di kampus kita misalnya, orang malang seperti dia, saya yakin, tidak setiap saat bisa menikmati sayur dalam menu makan sehari-harinya.

Kedua, saat membuang sayur itu ke tempat sampah, kamu tidak membedakannya sebagai sampah organik. Itu mempersulit kerja tukang sampah. Begini, di depan kamarmu ada tiga buah tempat sampah yang disediakan oleh pemilik flat bukan sekedar agar terlihat hebat. Masing-masing tempat sampah disiapkan untuk jenis sampah yang berbeda-beda. Dan tugas kita sebagai pemilik flat adalah membuang sampah dengan tepat dan saya yakin kamu bisa melakukannya.

Sebelum surat ini saya akhiri, saya perlu perjelas juga bahwa saya tidak punya maksud menggurui. Saya hanya berniat baik dan berharap kamu akan menerima masukan saya.

Salam,
An


Surat Kedua

Ju,

terima kasih atas surat balasanmu. Saya senang kamu menanggapi surat saya, walau saya tidak berharap kamu akan menyampaikan apa yang sudah kamu sampaikan dalam suratmu itu. Sejujurnya, tanggapanmu membuat saya kecewa.

Bukankah sudah saya katakan di akhir surat pertama? Saya tidak punya maksud menggurui dan ya, memang apa yang saya singgung itu sepenuhnya adalah hak pribadimu, tetapi kita tinggal di dalam satu flat, pada dua kamar yang bersebrangan dan saya harus jujur bahwa saya terganggu dengan kebiasaanmu.

Lagi pula, apa sulitnya mengurangi pemborosan dan membuang sayur sisa ke tempat sampah yang tepat?

Salam,
An


Surat Ketiga

Saya tertawa membaca surat balasanmu, tawa sinis tentu saja. Tidak ada yang mencari keributan di sini, Ju, kecuali kamu. Tapi baiklah, jika kamu ingin bertemu untuk menyelesaikan ini, saya harap kamu datang dengan kepala dingin dan dilengkapi akal sehat.

Kamu selesai kerja pukul delapan malam, kan? Saya tunggu kamu di kafe kecil dekat swalayan tempatmu bekerja.

An


Surat Keempat

Julian Dunn,

kali ini kamu benar-benar membuat saya kecewa. Tidak hanya kamu membuat saya menunggu selama dua jam, tetapi kamu juga tidak datang. Apa memang seperti ini caramu memperlakukan perempuan? Saya bukan satu dari sekian banyak pacar-pacamu, tetapi lelaki yang baik tidak membiarkan perempuan menunggu.

Annette


Surat Kelima

Ju,

jangan surati saya lagi. Memang, saya lah yang dulu memulai surat ini, tetapi saat itu saya tidak tahu bahwa situasi akan berkembang menjadi seperti saat ini.

Perlu kamu ketahui, saya tidak suka keributan, apalagi dengan teman satu flat. Ya, saya akui saya memiliki sifat perfeksionis yang akut dan mungkin standar kedisiplinan saya terlalu tinggi untuk dimengerti orang kebanyakan (termasuk kamu). Jadi mari kita lupakan saja masalah sayur itu. Silakan buang sisa sayurmu sebanyak yang kamu mau dan silakan saja pergunakan tempat sampah di depan kamarmu dengan semena-mena. Saya rasa, selain saya, tidak akan ada yang protes. Dan karena saya sudah memutuskan untuk menutup mata, maka tidak akan ada yang protes sama sekali.

Kamu bisa tenang sekarang.

Salam,
An


Surat Keenam

Apakah isi surat saya yang sebelumnya kurang jelas? Baiklah, anggap saja saya memohon. Saya sibuk dan saat ini saya sedang tidak berminat meladeni arogansimu, jadi tolong berhenti menyurati saya.

An


Surat Ketujuh

Ju,

saya menulis surat ini di rumah sakit. Di sela-sela kepenatan merawat ayah saya.

Pertama-tama, saya ingin berterima kasih padamu karena sudah mau menghentikan surat-suratmu. Saya sangat menghargainya. Kedua, saya ingin minta maaf karena justru saya yang menyuratimu lagi. Saya butuh teman bicara dan hanya kamu yang teringat oleh saya, tetapi tolong jangan disalah-artikan. Saya bukan ingin mengajakmu bertemu atau lalu merepotkanmu. Saya hanya ingin bercerita dan kamu boleh membuang surat ini tanpa perlu meneruskan membacanya jika kamu keberatan.

Ayah saya baru beberapa minggu di rumah sakit tapi kondisi kesehatannya menurun dengan cepat. Dia seperti sudah kehilangan semangat untuk hidup dan saya rasa, usianya tidak akan lama lagi. Mungkin saya terlalu melebih-lebihkan, tetapi setiap saya melihat ayah saya, saya hanya bisa menangis. Saya merasa lemah. Sangat lemah sampai kadang saya berdoa agar semua ini cepat berakhir dan saya bisa melanjutkan hidup. Bagaimanapun, kesibukan saya di rumah sakit sudah mempengaruhi banyak hal, salah satunya adalah kuliah saya. Rasanya saya tertinggal cukup banyak dan bukan hal yang menyenangkan melihat nilai buruk di antara nilai-nilai sempurna saya.

Ya, terdengar seperti ucapan seseorang yang tidak punya hati nurani. Di saat ayah saya terbaring sekarat, yang saya kuatirkan justru nilai-nilai saya.

Saya anak tunggal, Ju, karena itu saya menanggung beban ini sendirian. Ibu saya meninggal satu tahun yang lalu, kemungkinan besar, penyebab ayah saya jatuh sakit. Sesungguhnya tidak ada yang perlu saya khawatirkan jika ayah saya meninggal. Biaya hidup saya sehari-hari ditanggung oleh negara. Kuliah saya gratis dan begitu lulus, saya akan dikirim ke Jerman untuk mengambil gelar Master.

Tapi ayah saya, adalah satu-satunya teman hidup yang saya miliki. Saya tidak suka mengakui ini padamu, saya adalah perempuan menyedihkan yang kesepian. Saya tidak punya saudara, walau saudara jauh. Saya tidak dekat dengan siapapun di kampus, juga di gedung flat kita. Satu-satunya orang yang pernah saya surati adalah kamu. Itu pun untuk bertengkar (semoga surat saya kali ini tidak memicu pertengkaran lagi. Saya sudah memilih kata-kata saya dengan berhati-hati).

Salam,
An

NB: kamu tidak perlu membalas surat ini.


Surat Kedelapan

Ayah saya meninggal. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, dia meminta dikuburkan di desa. Bisa saya minta bantuan? Ujian akhir dimulai minggu ini dan saya tidak akan sempat mengurus izin saya.

Salam,
An

NB: tolong kabari saya secepatnya jika kamu tidak bisa membantu saya.


Surat Kesembilan

Terima kasih. Berkat kamu, saya lulus dengan nilai yang baik. Tidak sempurna tapi nilai-nilai itu masih pantas untuk mahasiswi sepintar saya. Dengannya, saya masih bisa mendapatkan beasiswa ke Jerman. Bagaimana denganmu? Kalau tidak salah, kamu juga ikut ujian akhir.

Oh, atau mari kita bertemu saja? Walau tinggal dalam satu flat, kita tidak pernah bertemu dalam beberapa minggu terakhir ini. Kamu masih bekerja di pasar swalayan itu? Bagaimana kalau kita minum kopi di kafe dekat tempat kerjamu?

Salam,
An


Surat Kesepuluh

Ju,

apakah kamu menerima surat saya yang sebelum ini? Kamu tidak membalas dan saya bertanya-tanya, apakah surat itu yang tidak sampai atau kamu keberatan bertemu dengan saya.

Salam,
An


Surat Kesebelas

Saya tidak tahu alasanmu tidak membalas surat-surat saya, tetapi saya mencoba untuk menghargai sikapmu itu. Akhir bulan ini saya berangkat ke Jerman (untuk alasan yang sudah pernah saya beritahu). Saya tidak akan kembali dalam lima tahun. Atau mungkin sepuluh tahun. Saya belum tahu pasti. Jika kamu tidak keberatan, saya ingin sekali bertemu denganmu sebelum saya pergi. Saya ingin berterima kasih secara langsung dan juga ada satu hal penting yang ingin saya bicarakan.

Salam,
An


Surat Terakhir

Ju,

ini adalah surat terakhir saya. Besok saya berangkat ke Jerman dan saya tidak akan menulis surat untukmu lagi.

Sebelumnya, saya ingin perjelas bahwa surat saya kali ini adalah surat pribadi dan ya, kamu boleh mengkategorikannya sebagai surat cinta. Saya tidak tahu bagaimana seharusnya isi sebuah surat cinta. Saya tidak pernah membaca juga tidak pernah menulis surat semacam itu sebelumnya. Jadi cukup kamu ketahui saja bahwa ini adalah surat cinta.

Saya tidak tahu sejak kapan dan bagaimana. Mungkin justru kamu yang menyadari lebih dahulu, karena itu kamu tidak membalas surat-surat saya. Saya mengerti. Cukup jelas bahwa perasaan saya bertepuk sebelah tangan. Selamat tinggal, kalau begitu, dan semoga kita tidak perlu bertemu lagi (atau surat menyurat lagi).

Salam,
An

NB: jangan membalas surat ini.



Jakarta, 27 April 2008

7 comments:

  1. wah ini oke banget!!!
    keren... gue suka

    cuma satu: tentang ibunya annette udah meninggal, masak si ju temen satu flatnya nggak tau???

    ReplyDelete
  2. hooo good point! *baiklah akan dijadikan catatan saat mengedit nanti*

    shankiu, honey. im glad you like it.

    ReplyDelete
  3. yap, benar..

    ini bagus sekali..

    jadi penasaran bagaimana respons Ju kepada surat-suratnya An..

    Jujur saja, bukankah An bukanlah seorang gadis yang mudah jatuh hati (menurut penggambaran yang kudapat sih begitu, miss) .. tapi kok..

    di ending.... dia jatuh hati pada Ju?

    ReplyDelete
  4. terima kasih, Michelle. saya memberikan sejumlah ruang besar untuk pembaca isi sendiri: waktu dan sudut pandang Ju. silakan bereksperimen dengan dua ruang itu, sehingga perkembangan karakter An menjadi tepat.

    karakter bisa berkembang. karakter harus berkembang. seperti manusia. itu pendapatku. bagaimana prosesnya dan selama apa, itu pertanyaannya.

    good point, Michelle. sekali lagi, terima kasih :)

    ReplyDelete
  5. Oh, begitu ya, Miss?

    Eksperimen yang hebat ^^

    Maaf, nih, Miss.. mau belajar, referensi-referensi apa saja yang miss baca selama ini?

    Kok bisa hebat sekali menulisnya?

    Salam ^^

    ReplyDelete
  6. cukup banyak, Michelle. kunjungi tiga link di bawah ini saja, ya. rasanya pernah kushare di MPku.

    http://www.goodreads.com/user/show/145888
    http://missworm.multiply.com/journal/item/40
    http://missworm.multiply.com/journal/item/110

    ReplyDelete
  7. wah...ju ga mesti tau kok soal kehidupan keluarga An...kan si An cuma satu flat aja tapi gadis pintar dan arogan, kelihatannya sendirian terus, buktinya ga punya teman....kalo sampe si Ju punya terlalu banyak informasi malah akan mengganggu misteri cerita dan justru daya tarik ceritanya akan berkurang....

    btw seru...segar seperti sayur dan bittersweet seperti cinta

    ReplyDelete