.

.

Retak Rumah Baru Pak Jono


RETAK itu seperti satu helai rambut tebal, meliuk di permukaan balok beton yang menjadi rangka bakal rumah Pak Jono. Kemarin sore, jejak sulur itu belum ada. Saat para pekerja bangunan pulang meninggalkan proyek, balok penyangga lantai atas itu masih kelihatan mulus tanpa cacat. Baru tadi pagi kehadiran retak itu disadari, waktu salah seorang kenek akan mengaci dinding dan mendapati balok buatan mereka sudah cacat.

“Retak, Le?”

“Retak, Kang! Satu jengkal lebih.”

Mandor mendekati kenek yang menemukan retak itu. Kepala Mandor mendongak, alisnya berkerut dan tangannya sibuk menggaruk-garuk kepalanya. Benar kata si kenek dan hatinya lekas disergap perasaan khawatir. Kalau retak itu berada di dinding, tidak mengapa. Dinding memang kerap retak saat masih beradaptasi setelah dibangun. Tetapi retak itu muncul di balok beton yang menjadi rangka utama bangunan. Itu jelas bermasalah.

“Kasih tanda, Le. Nanti sore kamu ukur lagi.”

Kenek yang ia beri suruhan buru-buru melakukan sesuai perkataannya. Mandor menghampiri tukang-tukangnya yang lain satu per satu, lalu ia memberitahu mereka apa yang harus dikerjakan sepanjang hari ini sampai sore nanti. Retak itu dilupakan dulu untuk sementara, begitu pikirnya. Kalau sampai sore retak tidak bertambah, maka tidak ada yang perlu ia khawatirkan.

Hari ini genap tiga bulan proyek pembangunan rumah Pak Jono berjalan. Ia yang masih seduluran dengan Pak Jono ditunjuk menjadi mandor. Pak Jono sendiri juga seorang mandor tapi sedulurnya itu ngantor hampir setiap hari di sebuah perusahaan konstruksi di daerah Kuningan, sehingga tidak sempat memandori sendiri pembangunan rumahnya.

Untuk membangun rumah Pak Jono, Mandor membawa serta empat orang anak buahnya. Mereka bekerja cepat, lebih cepat dari tukang-tukang lain jika membangun rumah. Mungkin orang lain melihat kerjanya seperti terburu-buru karena ia mengurangi usia kering beton beberapa hari, yang seharusnya tidak boleh ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi? Pak Jono ingin rumah itu jadi sebelum lebaran bulan depan dan dirinya sendiri beserta empat anak buahnya ingin merayakan hari besar bersama keluarga mereka di kampung. Karena itu, retak-retak semacam retak pada balok beton tadi memang besar kemungkinannya muncul, bahkan sering ia dapati dalam proyek yang dikerjakannya.

Omong-omong, kata ‘proyek’ sebenarnya agak berlebihan. Ia hanya mandor kelas teri dan pekerjaan-pekerjaannya pun hanya sebatas membangun rumah-rumah kecil kelas teri juga. ‘Borongan’ lebih tepat untuk menyebut pekerjaan-pekerjaannya, walau bakal rumah Pak Jono juga tidak bisa ia kategorikan sebagai borongan. Ia cuma dibayar tenaga oleh sedulurnya itu sementara hampir semua bahan bangunan dibeli sendiri oleh Pak Jono.

Keuntungan borongan upah semacam ini tidak besar. Karena itu, ia harus mengakali setiap kesempatan untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Seperti kemarin saat ia membelikan Pak Jono besi tulangan untuk pengisi kolom dan balok, ia memilih besi berdiameter delapan mili dibanding besi dua belas mili. Ukuran-ukuran kolom dan balok juga ia kurangi sedikit agar ia bisa menghemat pembelanjaan semen dan pasir. Tidak banyak tapi lumayan untuk membelikan istri dan anaknya di kampung sepasang daster baru.

Memang curang tapi lebaran kan hanya sekali dalam setahun. Tidak apa-apa mengambil untung sedikit dari sedulurnya. Tidak akan diketahui dan tidak akan berakibat apa-apa. Itu yang saat ini Mandor pikirkan dan bibirnya mengulas senyum tanpa ia sadari. Sudah terbayang olehnya, wajah gembira dan senyum sumringah istri dan anaknya saat menerima baju baru yang akan ia bawa nanti, meski cuma daster.



RUMAH Pak Jono yang lama memang dirasa sudah terlalu kecil. Walau berlokasi di dalam komplek perumahan Kostrad dekat daerah elit Pondok Indah, rumah Pak Jono menyempil di antara barisan rumah petak kecil milik komunitas pekerja kasar bangunan, kenek, tukang batu, tukang kayu, tukang besi dan yang paling tinggi mandor. Rumah Pak Jono hampir seragam dengan rumah-rumah lain yang beratap asbes dan berukuran kurang lebih hanya tiga kali delapan meter per segi. Sisi kanan dan kiri langsung menempel dengan rumah sebelah sehingga kalau Pak Jono dan keluarganya bicara keras sedikit, suara mereka kerap menjadi penghibur tetangga seperti sandiwara radio yang disiarkan RKM.

Panjang delapan meter tadi dibagi menjadi tiga ruangan, dipisahkan dengan papan kayu dan tirai kain. Bagian paling luar adalah ruang serbaguna. Disebut serbaguna karena di pagi hari Bu Jono menyiapkan katering pesanan pelanggannya di ruangan itu, siang hari digunakan untuk menjemur dan menyeterika pakaian, sore untuk ngerumpi bersama tetangga dan malam untuk Pak Jono beristirahat sepulang kerja serta untuk kedua anak mereka belajar atau, lebih seringnya, menonton artis-artis lokal di layar televisi.

Ruang tidur berada tepat setelah ruang serbaguna. Pak Jono, istrinya dan kedua anak mereka tidur berempat di atas dua kasur yang digelar tanpa dipan di lantai ruangan tersebut. Mereka berdesak-desakkan di malam hari, saling menendang dan berebut bantal juga guling saat melindur.

Lalu satu ruangan terakhir adalah dapur yang dilengkapi kamar mandi semi terbuka. Mudah sekali mengintip ke dalam kamar mandi itu, cukup dengan satu kursi untuk dinaiki, tapi Pak Jono tidak punya kursi di dalam rumahnya. Ia tidak punya mebel satu pun kecuali lemari pakaian dan meja televisi. Di dapur juga Bu Jono tidak memiliki meja untuk memasak. Setiap hari, untuk menyiapkan makan satu keluarga dan seluruh pesanan kateringnya, Bu Jono harus berjongkok di atas lantai semen tanpa keramik selama berjam-jam. Nongkrong di hadapan kompor gas sampai pinggang dan lututnya nyeri, dan kalau sudah begitu, tinggal tunggu waktu, asam urat Bu Jono akan kambuh.



“GIMANA, Le?”

“Duh! Nambah, Kang. Satu senti.”

Mandor menggaruk-garuk kepalanya lagi. Kali ini lebih keras sampai, ia tidak sadar, rambutnya yang ikal dan gondrong menjadi berantakan. Sekarang wajahnya kusut, berlipat-lipat seperti kertas diremas. Kekhawatiran di dalam hatinya yang tadi pagi sempat ia singkirkan kembali hadir, bahkan lebih besar. Kalau dalam satu hari saja retak itu sudah bertambah satu senti, bagaimana dengan satu bulan ke depan? Lalu tiga bulan dan satu tahun selanjutnya? Celaka! Bisa rubuh bakal rumah itu sebelum selesai dibangun.

Reaksi Pak Jono kalang kabut saat ia memberitahu perihal retak itu. Tidak, sedulurnya itu tidak marah. Pak Jono terlalu baik untuk marah, apalagi menyudutkannya.

“Kok bisa retak ya?”

“Aku juga bingung, Mas. Kalau diperhatikan, campurannya yang keliru, mungkin kurang rata saat diaduk.”

Pak Jono tidak berkomentar banyak. Raut miris di wajahnya sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan perasaan asan tak asan yang sedang berkecamuk. Mandor tidak tega melihat itu dan ia buru-buru menenangkan Pak Jono, meyakinkan sedulurnya bahwa semua akan baik-baik saja, walau sebenarnya tidak.



MEMILIKI rumah baru yang lebih luas merupakan impian terbesar Pak Jono saat ini. Sepulang kuliah di luar kota, Dwi, anak perempuan terkecilnya, sering protes saat harus tidur berempat di dalam satu ruangan. Sebelumnya Dwi tidak pernah mengeluhkan kondisi mereka, tetapi anak itu sudah pernah merasakan punya kamar sendiri sewaktu indekos. Dwi sering membangga-banggakan kamar kosnya, “Biar kecil tapi ngga harus desek-desekkan. Malah bisa pasang poster UNGU di dinding. Dindingnya juga dicat ungu, warna kesukaan Dwi.”

Seperti iringan semut, satu keluhan memancing keluhan-keluhan yang lain. Setelah Dwi, giliran si kakak yang berkata, “Eka juga ingin Yah, sekali-kali mengajak teman-teman untuk ngaji di rumah. Selama ini, setiap dapat giliran, Eka selalu menolak.”

“Kenapa menolak? Kalau ingin mengajak teman untuk ngaji di rumah kita, ya ajak saja.”

Anak perempuan tertuanya tidak menjawab tapi Pak Jono tahu, anak itu malu mengajak teman-temannya ke rumah. Ruang serbaguna mereka terlalu kecil dan kondisi ruangan itu memang kerap membuat minder.

Istrinya juga pernah mengungkapkan keinginan memiliki meja dapur, obat paling mujarab untuk penyakit lutut dan punggung yang selama ini wanita itu derita. Tidak berat bagi Pak Jono untuk membuatkan sebuah meja. Ia bisa mengumpulkan sisa-sisa bahan bangunan di proyek, tetapi malangnya, dapur mereka terlalu kecil untuk memuat meja itu.

Mereka tidak bisa memperluas dapur mereka, seperti mereka juga tidak bisa memperluas ruangan-ruangan yang lain. Satu-satunya lahan tersisa di sekeliling rumah mereka hanyalah jalan setapak di bagian depan, sementara membangun lantai kedua di atas rumah papan mereka sudah pasti bukan pilihan. Maka, tampaknya, tidak ada solusi yang lebih tepat untuk memenuhi permintaan keluarganya selain membuat rumah baru yang lebih luas.



“SIAPA itu, Le?”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Mandor mendapati seorang perempuan seumuran anak pertama Pak Jono mondar-mandir di proyek mereka. Perempuan itu berpakaian seperti orang-orang proyek dari kontraktor besar: kemeja dengan rompi, celana bahan licin dan sepatu bot dari karet. Tangannya sibuk mengukur tebal setiap kolom dan balok beton yang baru saja kering dengan meteran sambil sesekali mencatat hasil pengukurannya pada sebuah buku yang disisipkan pada salah saku rompinya.

“Konsultan arsitektur, katanya, Kang,” bisik salah seorang kenek, “Datang berdua. Yang satu lagi, bapak-bapak, saat ini sedang ngecek lantai atas.”

Pria yang dimaksud oleh keneknya muncul tidak lama kemudian, turun dari lantai atas menggunakan tangga monyet. Usia pria itu sama dengannya. Bersosok pendek dan gemuk. Kulitnya hitam, wajahnya bulat, berkumis tebal dan berpakaian seperti koboi modern, lengkap dengan topi kulit dan ikat pinggang bermata besar.

Mata mereka bertemu dan pria koboi itu langsung tahu, siapa yang berkuasa di lokasi proyek tersebut. Ia dihampiri lalu mereka berkenalan. Ia juga dikenalkan pada perempuan muda yang datang bersama pria koboi itu. Perempuan tadi, rupanya, seorang arsitek yang dimintai bantuan oleh Pak Jono, sementara si Koboi adalah seorang kontraktor yang biasa bekerja bersama perempuan itu.

“Rumah sampeyan retak, Mas,” kata si Koboi sambil menunjuk balok beton penyangga lantai atas.

Mandor sudah menduga, pastilah kedua orang itu datang sehubungan dengan retak tersebut. Ia menjawab seperti saat ia ditanya oleh Pak Jono. “Mungkin kurang rata saat diaduk.”

“Oh bukan, Mas. Ini bukan retak karena adukan,” si Koboi tidak setuju. Pria itu mengambil sebuah bangku lalu naik ke atas bangku tersebut untuk memeriksa retak yang mereka bicarakan. “Sudah berapa lama proyek sampeyan?”

“Tiga minggu,” salah seorang keneknya menjawab tanpa diminta dan Mandor bisa merasakan sendiri kedua matanya mendelik kesal ke arah kenek itu. Tiga minggu bukan waktu yang wajar jika melihat perkembangan proyek mereka. Usia kering beton yang baik adalah dua minggu. Untuk bisa mulai membuat tiang penyangga lantai pertama, mereka harus menunggu sampai pondasi bangunan itu kering. Begitu juga dengan proses berikutnya. Untuk bisa mulai membuat balok dan plat lantai kedua, mereka harus menunggu sampai tiang-tiang penyangga di lantai pertama kering. Rumah Pak Jono saat ini sudah siap naik atap. Itu berarti, tiang penyangga serta balok di lantai kedua sudah dibuat. Jika proses pembangunan rumah itu benar, maka lama pengerjaan sampai tahap kini seharusnya adalah enam minggu.

“Wow!”

Teman kerja si Koboi berseru dengan nada penuh arti, tetapi perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Setelah memeriksa retak di balok, si Koboi memeriksa kolom. Dengan sebuah palu, pria itu membobol salah satu kolom sampai mereka bisa melihat tulangan baja yang mengisi beton tersebut. Diameter tulangan itu diukur lalu si Koboi memberi beberapa instruksi.

“Naik atap boleh tapi jangan pasang ubin dulu. Balok sampeyan terlalu tipis. Kolom ini juga terlalu kecil dan tulangannya kurang besar. Minimal dua belas banci, Mas, bukan delapan banci.” Banci adalah sebutan untuk ukuran yang tidak sesuai. Jika sebuah tulangan besi disebut delapan banci, berarti diameter sesungguhnya penampang besi itu tidak sampai delapan milimeter, hanya mendekati.

“Baloknya bagaimana?” Kenek yang tadi kembali bersuara.

Si Koboi menjawab dengan tenang, “Balok ini sudah pasti akan bengkok. Nanti dinding di atasnya akan retak. Biarkan saja, jangan ditambal. Kalau balok ini sudah kembali lurus, baru sampeyan boleh tambal.”

“Lalu cara meluruskannya?” tanya si kenek lagi.



PAK Jono beruntung karena tidak jauh dari rumah lamanya, ada sepetak tanah kosong yang dijual. Tanah itu milik salah seorang tetangga yang berprofesi sebagai tukang besi, berukuran lima kali dua belas meter per segi. Tanah warisan, dan tetangga Pak Jono itu tidak pernah bisa mengumpulkan cukup uang untuk membangun sesuatu di atasnya.

Ia berhutang di sana sini agar bisa membeli tanah tersebut. Pekerjaannya di sebuah perusahaan kontraktor besar membuat Pak Jono berani melakukan itu. Pasalnya, sebagian besar bahan yang digunakan untuk membangun rumah barunya disumbangkan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Ia hanya perlu membayar upah tukang. Dengan ditambah uang simpanan yang ia kumpulkan selama ini, serta uang hasil menjual rumah lama mereka, tanah itu ia dapatkan.

Kepada pembeli rumah lama mereka, ia meminta waktu dua bulan untuk mempersiapkan kepindahan. Tidak perlu dipertanyakan lagi, rumah baru mereka harus sudah selesai dibangun sebelum waktu itu habis. Tepatnya, sebelum lebaran. Ia tekankan hal ini kepada sedulurnya yang ia jadikan mandor dan semua tampak berjalan lancar selama ini, tetapi lalu retak itu muncul.



“SATU-SATUNYA jalan keluar adalah membuat rangka baru untuk menyangga rangka yang sekarang.” Rumah Pak Jono sudah hampir jadi. Dinding-dinding sudah lengkap, tinggal dicat. Sebagian keramik sudah terpasang, jaringan listrik dan saluran air sudah siap. Tidak mungkin membongkar itu semua hanya untuk mengganti rangka beton yang saat ini tidak cukup kuat.

“Tidak bisa kalau dipertebal saja, Mbak?” tanya Bu Jono pada arsitek muda yang didatangkan oleh suaminya.

Arsitek itu menjawab, “Beton tidak bisa diperlakukan seperti itu, Bu. Beton berbeda dengan kayu. Saya sarankan, kalian pasang rangka tambahan. Dari baja. Dan harus secepatnya. Kalau tidak, rumah Bapak dan Ibu tidak akan bertahan lama.”

Bu Jono mengerutkan alis. Ia menatap pada sang suami yang duduk di sebelahnya. Tanyanya lagi, “Bisa rubuh, begitu?”



PAK Jono pernah membayangkan, rumah baru mereka selesai dibangun tepat pada waktunya. Ia membayangkan dirinya merayakan lebaran bersama istri dan kedua anaknya dalam ruangan luas berbau cat baru. Mereka duduk di atas perabot kayu yang juga baru. Teman-teman ngaji Eka datang berkunjung dan anaknya itu tidak perlu lagi merasa minder. Ia juga membayangkan, istrinya memasak opor ayam dan sayur lodeh di meja dapur mereka yang dilapis keramik bergambar. Ia membuatkan istrinya satu set lemari dapur di atas meja itu untuk menyimpan piring dan alat makan lainnya. Untuk Dwi, anaknya yang satu lagi, ia menyiapkan kamar tidur di lantai atas. Dinding kamar itu ia cat warna ungu dan melalui jendela di salah satu sisinya, mereka bisa melihat pemandangan komplek tempat tinggal mereka dari ketinggian.

Kini Pak Jono duduk di hadapan rumah yang setengah jadi. Hari sudah sore, rumah itu berpendar jingga. Mandor sedulurnya sudah pulang, begitu juga empat anak buah yang ikut membantu. Dari arah luar, melalui lubang jendela yang masih kosong, ia bisa melihat retak di permukaan balok beton penyangga rumah itu. Ia mencoba memikirkan penyebab munculnya retak tersebut, tetapi ia tidak ingin menyalahkan siapa pun.

Arsitek dan kontraktor itu berkata, perlu waktu sekitar dua minggu untuk membuat rangka tambahan. Biaya yang harus ia siapkan adalah tujuh juta rupiah. Ia tidak tahu, harus ke mana lagi ia meminjam uang sebanyak itu. Ia juga tidak bisa terlalu lama menunda karena rumah mereka taruhannya.

Impian mereka.


Jakarta, 29 April 2008
untuk Kinu Triatmodjo

No comments:

Post a Comment