.

.

Shopaholic

Dalam banyak kuisioner, ada pertanyaan mengenai hobi. Biasanya pilihan yang diberikan adalah: membaca, menonton, mendengarkan musik, atau -barangkali saja pilihan klise ini masih ada- filateli. Betapa membosankannya, tidak hanya ketika mendapatkan pertanyaan itu, tetapi juga saat saya harus memberikan jawaban.

Saya akui menonton dan membaca merupakan dua dari beberapa yang akan saya centang. Namun, sewaktu Bodyshop memberi pilihan 'belanja' sebagai jawaban atas pertanyaan yang sama, barulah saya merasa benar-benar dipahami. (Okelah, saya tahu itu hanya trik marketing -supaya mereka tahu harus meng-sms member yang mana ketika ada sale- tapi tetap saja itu membuat senang seorang shopaholic).

Entah sejak kapan, belanja telah menjelma hobi bagi saya. Saya senang window shopping dan sangat lemah terhadap tawaran sale. Setiap ada sale dan saya mengungkapkan itu kepada Gendut, Gendut akan bertanya, "Memangnya kalau ada sale, maka kamu harus beli?"

Saya jawab, "Tentu saja. Kapan lagi beli dengan harga dipotong sekian persen?" Akhir-akhir ini saya tahu, sejak saya punya toko online sendiri, 'sale' hanyalah sebutan belaka. Sesungguhnya tidak pernah ada sale. Itu hanya -sekali lagi- trik marketing. Bahkan, saya sangat sering menerapkannya di toko saya. Luar biasa besarnya omzet toko saya ketika saya gelar 'sale' dan saya sama sekali tidak rugi, bahkan untung besar. Tapi, tetap saja, kegemaran yang tidak sehat ini tidak juga berhenti.

Ah, penyakit!


*note: this post is part of 30 Days of MEME.

No comments:

Post a Comment