.

.

(Issue) Sakura Haru

Sakura Haru adalah proyek novel terbaru saya setelah Home. Sambil menunggu Home terbit, saya mencoba mengembangkan cerpen lama saya, Sakura di Bulan April, menjadi sebuah kisah yang jauh lebih panjang. Barangkali sekarang Jepang tidak sepopuler Korea, namun toh saya tidak pernah menulis mengikuti arus. Saya sempat berpikir untuk membuang bau-bau negeri asing dari cerita yang satu ini. Sayangnya, itu tidak memungkinkan karena ide dasar dari Sakura Haru adalah, well, sakura.

Tentu teman-teman tahu sakura. Tumbuhan ini hanya berbunga selama satu-dua minggu. Memang singkat, tetapi karena itulah setiap tahun semua warga Jepang berkumpul beramai-ramai di taman kota untuk sekadar melihat sakura bermekaran.

Dalam novel (wannabe) Sakura Haru, saya kembali mengangkat dunia arsitektur dan fotografi. Si tokoh utama merupakan mahasiswa Arsitektur yang jauh di dalam hati merasa bahwa dirinya tidak berada di tempat yang tepat. Dia anak pasangan arsitek ternama Indonesia yang sesungguhnya lebih mencintai fotografi ketimbang seni desain ruang. Tekanan dari orang tua membuat tokoh ini tidak sanggup melarikan diri hingga dia bertemu dengan Haru, mahasiswi pertukaran dari Jepang, yang membuatnya sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk disia-siakan.

Ya. Ide kisah yang sederhana, namun saya suka sekali dengan semua tokoh yang muncul di Sakura Haru. Rayyi tipe mahasiswa yang sering menitip absen agar dia bisa dia berburu foto atau mendekam di kamar gelap berjam-jam. Sementara itu Haru merupakan gadis imut, periang, namun luar biasa ceroboh. Dia selalu mencerahkan suasana sekaligus bikin kesal.

Selain mereka, ada tiga sahabat Rayyi: Sube, Andre, dan Bev yang terinspirasi dari tiga teman saya semasa kuliah. Sube blasteran Jerman-Makassar yang penampilannya bule, namun logat bicaranya persis gaya Yusuf Kalla. Andre terkenal tanpa ekspresi dan dia selalu memakai jaket yang sama setiap waktu. Bev gadis menarik yang sering dapat nilai A karena mirip Natalie Portman.

Lalu, ada juga Erod Matin. Pembaca Orange pastinya tidak asing dengan fotografer ternama Asia ini. Di Sakura Haru, Erod hadir sebagai pembuka jalan bagi Rayyi di dunia fotografi. Yang membuat saya bersemangat, porsi Erod di novel ini akan jauh lebih banyak dari porsi Erod di Orange. Sejak awal saya mengembangkan karakter Erod, saya sudah jatuh hati. Karena itu ketika ada kesempatan untuk menampilkan dia lagi, saya tidak pikir panjang.

Secara keseluruhan, Sakura Haru akan menjadi novel roman. Rentang waktu yang cukup besar (mungkin 2008-2012) dalam garis cerita mengharuskan semua karakter berkembang sesuai usia dan pengalaman mereka. Satu lagi yang saya gemari adalah menampilkan perkembangan itu. Bagaimana satu tokoh mempengaruhi tokoh lain, bagaimana kejadian-kejadian membuat mereka menentukan arah hidup, dan lain-lain.

Oh, well. Semoga Sakura Haru bisa saya selesaikan segera. Saya akan tampilkan secara teratur bab demi bab di kemudian.com (jangan lupa, ID saya miss worm). Selamat membaca!

1 comment: