.

.

(Tips) Getting to Know Your Character

Aih, berapa lama saya tidak menulis sesuatu di blog ini? Belakangan saya memang benar-benar sibuk. Selain mempersiapkan terbitnya 'Memori' yang telah rilis awal bulan Mei, saya fokus mengedit novel berikutnya. Kini, setelah dua urusan itu selesai, saya punya sedikit waktu luang untuk berbagi beberapa tips menulis.

Saya ingin bercerita tentang penokohan. Seringkali, kita menemukan tokoh-tokoh yang, well, klise dalam sebuah novel. Banyak penulis, semoga saya tidak termasuk, kesulitan menghadirkan sebuah tokoh yang utuh, yang terasa nyata dan mampu melekat dalam benak pembaca untuk waktu yang lama.

Sebenarnya, ada beberapa panduan sederhana untuk mengembangkan tokoh dalam novel. Saya telah mempraktikkan ini dan ingin menyarankannya kepada teman-teman.

Pertama. Deskripsikan ciri fisik tokoh kita secara detail. Tinggi dan berat badan, gaya rambut, bentuk tubuh, postur (bagaimana cara dia berdiri, duduk, melangkah, dll), warna kulit, warna rambut, warna mata, bentuk hidung, suara, dan seterusnya. Catat juga apabila dia memiliki tanda lahir, bekas luka yang tidak bisa hilang seperti bekas jahitan yang dia dapat ketika umur tujuh tahun. Bagian tubuh mana dari dirinya sendiri yang dia sukai, bagian mana yang dia tidak sukai.

Kedua. Deskripsikan ekspresi-ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sering ditampilkan tokoh kita. Apakah dia punya gerak-gerik khusus yang menjadi kebiasaannya, seperti mengusap-usap tengkuknya saat gugup atau mengetuk-ngetuk lutut dengan jemari saat merasa bosan.

Ketiga. Deskripsikan isi lemari pakaian tokoh kita (pakaian, sepatu, tas, aksesori). Penulis harus tahu persis apa-apa saja yang biasa tokohnya kenakan. Apa pakaian kesukaannya, sepatu kesukaannya, tas yang dijinjingnya. Bagaimana dia bergaya dalam situasi tertentu--pesta, misalkan. Bahkan, penulis harus tahu brand yang karakternya pakai, di mana pakaian-pakaian itu dibeli, berapa kisaran harganya, apakah dia memang sanggup membeli itu atau itu barang fake. Kesan apa yang ingin ditampilkan lewat itu. Apakah dia glamor, chic, kasual, rapi, kuno, feminim/ maskulin/ metroseksual, dll.

Keempat. Deskripsikan properti apa saja yang dimiliki tokoh kita. Apakah dia punya rumah atau mengontrak atau menumpang? Di mana? Bagaimana dia mendapatkannya? Seperti apa tempat yang dia tinggali, seluas apa, bagaimana lingkungan dan tetangganya. Apa dia punya kendaraan? Motor, mobil, atau sepeda? Apa tipe, warna, dan brand kendaraan itu (atau malah kalau bisa keluaran tahun berapa)? Apa dia punya aset seperti perusahaan, tanah, emas, dll.

Kelima. Deskripsikan barang-barang yang dimiliki tokoh kita, termasuk benda-benda kenangan yang dia simpan secara khusus. Dalam buku 'Memori', Simon memiliki sketsa usang yang mempertemukan dia dengan Mahoni. Dalam 'Orange', Faye memiliki kamera kesayangan Nikon F5, Diyan memiliki ponsel berisi nomer telepon Rera dan kumpulan foto Paris di kamarnya. Dalam 'Metropolis', Johan memiliki banyak CD Nouvelle Vague.

Keenam. Deskripsikan ketertarikan dan hobi tokoh kita. Apakah dia penggila fotografi, penyuka acara dokumenter 'Mega Structures', atau penggemar Frank O Gehry. Apa musik, film, buku, makanan, minuman kesukaannya? Apakah dia memilih Jazz atau Rock? Ethan Hawk atau Brad Pitt? Film roman atau komedi? Junkfood atau salad? Kopi atau teh? Jus atau soda? Apa yang dia lakukan di waktu luang? Apa hobinya? Apakah dia punya hobi yang kini telah dia tinggalkan? Oh, banyak sekali yang bisa kita gali dalam hal ini.

Ketujuh. Deskripsikan sifat dan kepribadian tokoh kita. Melankolis, plegmatis, koleris, atau sanguinis? Introvert atau extrovert? Pemalu atau pandai bergaul? Senang bercanda atau serius? Cermat atau ceroboh? Penakut atau pemberani? Feminim atau tomboi? Cerewet atau pendiam? Cuek atau sensitif? Pemarah atau sabar? Sediakan waktu yang cukup banyak untuk mendalami kepribadiannya. Ini hal penting yang akan berpengaruh kepada tingkah lakunya, keputusan yang dia ambil, tindakannya, dan ujung-ujungnya jalan cerita. Karena, saya percaya, karakter lah yang menentukan arah cerita kita. Bukan penulis. Konflik semata-mata adalah perbenturan karakter dengan karakter, kepentingan dengan kepentingan.

Terakhir. Ceritakan perjalanan hidup tokoh kita sebanyak beberapa halaman, dari dia lahir hingga titik yang diinginkan dalam kisah. Fokus kepada hal-hal penting yang dia alami, yang menentukan arah hidupnya.

Oke, barusan itu adalah delapan poin yang selalu saya gali untuk tokoh-tokoh novel saya. Biasanya, saya menggunakan sebuah buku tulis khusus untuk pendalaman karakter tokoh-tokoh tersebut dan menyertakan sketsa wajah dan tubuh. Barangkali tidak semua informasi di atas akan terpakai dalam novel, tetapi--percaya kepada saya--semua itu tidak akan sia-sia. Semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin kuat tokoh dalam novel kita. Kita pun akan memiliki keterkaitan emosi dengannya.

Ingat satu hal ini, teman-teman. Pesan dalam novel kita bisa tersampaikan apabila pembaca memiliki empati kepada tokoh kita. Seperti Johan. Dia jelas-jelas tokoh antagonis, tetapi kebanyakan pembaca 'Metropolis' justru terpikat kepadanya dan sedih ketika tokoh itu berakhir dengan tragis. Dan, empati diawali dari kedekatan antara pembaca dengan tokoh.

Nah, selamat mencoba. Ayo, buat tokoh-tokohmu utuh dan kuat!

10 comments:

  1. Pas banget, nih, saya baru bingung bikin karakter yang kuat *baru belajar nulis novel*

    ReplyDelete
    Replies
    1. d^_^b yay, writing is cool! selamat mencoba tips ini, ya :)

      Delete
  2. keren tipsnya mbak, novelnya juga keren, yg Memori :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih :). thanks for reading Memori

      Delete
  3. kak windry, tipsnya bermanfaat pake banget. kebetulan saya baru mau mulai nulis novel true story, ditunggu tips"lainnya kak! sukses terus!! :D

    ReplyDelete
  4. Thank, mbak windry, vlbuat tipsnya ^^

    ReplyDelete
  5. wah, membantu sekali infonya. Saya suka baca article yang ditulis kak windry, banyak membantu~

    ReplyDelete
  6. terimakasih tipsnya mbak windry. alhamdulillah, membantu sekali. ^^

    ReplyDelete