.

.

Dari Cerpen Menjadi Novel

Sebenarnya, ini artikel yang saya buat beberapa waktu lalu atas permintaan penerbit sebagai bentuk kerjasama kami dengan media tertentu (saya lupa apa). Saya tidak tahu persis apakah ini sudah dimuat di media tersebut. Tetapi, karena ini sudah cukup lama ditulis, saya berasumsi tidak apa-apa untuk membagikannya lewat blog. Semoga ini bisa membantu dan menginspirasi teman-teman yang senang menulis.

--------------


Novel keempat saya, Montase, terinspirasi dari sebuah cerpen.

Sebelum saya bercerita lebih banyak mengenai itu, mari kita kembali sebentar ke pertengahan 2008, ketika Dewan Kesenian Jakarta masih memiliki program brilian bernama Bengkel Novel.

Saya mengikuti program tersebut–bersama dua belas penulis berbakat lain yang kemudian dijuluki montir. Pada pertemuan pertama, kami diberi tiga kata oleh mentor dan diminta membuat sebuah paragraf pembuka. Paragraf itu, kemudian, dikembangkan menjadi cerpen. Dan cerpen itu, seharusnya, bisa dikembangkan menjadi novel–tetapi tidak seorang montir pun yang melakukannya hingga program berakhir karena seringkali bakat berdampingan akrab dengan rasa malas. Saya belajar bahwa sebuah tulisan–apa pun bentuknya–selalu punya potensi untuk berkembang.

2011, saya menyelesaikan Memori, lalu mulai memikirkan kisah yang akan ditulis berikutnya. Saya teringat pada cerpen-cerpen lama saya. Sejak awal belajar menulis fiksi, saya lebih suka berkutat dengan novel, tetapi ada masanya saya bereksplorasi dengan berbagai tema dan menghasilkan banyak cerpen. Beberapa cerpen melekat kuat dalam ingatan saya. Salah satunya adalah “Sakura di Bulan April”.

Saya pun memutuskan untuk mengubah “Sakura di Bulan April” menjadi novel, bukan karena tidak ada ide lain, tetapi karena saya merasa cerpen itu pantas diberi perhatian lebih.

Cerpen itu mengambil tema sakura. Ada banyak filosofi mengenai sakura, tetapi saya fokus pada ide bahwa sakura adalah lambang kehidupan yang tidak abadi. Di cerpen itu, seorang pemuda bernama Rayyi serta-merta pergi ke Tokyo setelah mendapat surat dari kekasihnya, Haru, yang telah lama pergi. Di sana, dia bertemu dengan orangtua sang kekasih dan diajak melihat sakura di Taman Ueno. Dari sakura, dia belajar melepaskan kenangan.

Itu sebuah pecahan dari kehidupan Rayyi, satu momen dari kisah yang lebih besar. Saya menyampaikannya lewat sudut pandang pemuda itu sambil sesekali menyelipkan petikan surat Haru.

Sepatutnya sebuah cerpen, adegan yang ditampilkan terbatas, begitu juga tokoh dan lokasinya. Diceritakan bagaimana Rayyi tiba di Narita, mencari-cari rumah Keluarga Enomoto di Taito-ku, berbicara dengan orangtua Haru, lalu merekam suasana hanami dan menangis saat teringat masa lalu. Tidak digambarkan saat-saat Rayyi dan Haru bersama atau ketika mereka berpisah. Hubungan mereka terangkum dalam beberapa kalimat ini:

‘Di sepanjang jalan menuju Taito-ku, pikiranku sibuk mereka ulang setiap kenangan yang kulalui bersama Haru. Kami bertemu di sebuah pameran foto di Jakarta. Haru adalah fotografer profesional yang ikut serta dalam pameran tersebut sementara aku hanya mahasiswa yang baru belajar menggunakan F5.

Waktu kami dahulu tidak panjang, tetapi tidak satu detik pun kami sia-siakan. Hampir seluruhnya kami isi dengan berburu foto, bepergian dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari gambar terbaik yang bisa kami temukan, atau berkutat berjam-jam di kamar gelap.

Bagiku, Haru adalah guru, sahabat, dan kekasih yang sangat kucintai.’

Untuk menyulap cerpen menjadi novel, saya harus menciptakan kisah yang lebih besar, gambar keseluruhan dari kehidupan Rayyi. Saya membutuhkan konflik, rangkaian kejadian yang lengkap, tokoh-tokoh baru, rentang waktu lama, dan banyak lokasi. Ini bukan sekadar memanjang-manjangkan 2.000 kata menjadi 40.000 kata. Mengembangkan tulisan tidak sama dengan memanjang-manjangkan. Mengembangkan tulisan berarti mengeksplorasi elemen-elemen yang ada dalam tulisan tersebut hingga bertambah detail dan kaya.

Pertama, ada satu hal penting yang harus ditentukan: sejauh mana saya akan setia pada cerpen? Apa yang tetap dan apa yang diubah?

Saya mempertahankan tema sakura. Itu jiwa kisah ini. Itu ide yang ingin saya ceritakan kepada pembaca sejak awal. Maka, konflik yang dipilih untuk novel harus mendukung tema itu. Untuk memperkuatnya, saya menambahkan isu ‘mengejar impian’. Di novel, Rayyi memiliki masalah. Dia berada di antara tuntutan orangtua dan impiannya sendiri. Adalah Haru–dan filosofi sakura bawaan gadis itu–yang memberinya keberanian untuk membuat keputusan.

Saya juga tidak mengubah akhir cerita. Saya tidak yakin ada akhir cerita yang lebih pas. Itu akhir cerita yang kuat, meskipun berisiko tidak disukai pembaca.

Adegan-adegan yang ada di cerpen dipakai kembali, diletakkan di prolog dan epilog novel, digambarkan nyaris sama. Bahkan, isi surat Haru tidak diotak-atik. Sementara itu, adegan-adegan setelah prolog dan sebelum epilog sama sekali baru, berjumlah delapan belas bab, berupa kilas balik.

Apakah ada yang berbeda? Ada. Profesi Rayyi. Semula, saya menampilkan fotografi. Setelah saya berdiskusi dengan editor, fotografi digantikan perfilman dokumenter yang jarang dieksplorasi oleh penulis-penulis lokal. Hal lain yang berbeda adalah karakter Haru. Di cerpen, Haru berusia empat-lima tahun lebih tua dari Rayyi. Di novel, mereka seumuran, sama-sama mahasiswa tahun ketiga. Saya ingin menampilkan percintaan yang manis, yang lugu dan malu-malu, yang lain dari buku-buku terdahulu saya.

Kedua, tidak boleh ada elemen yang terlewat dalam proses pengembangan tulisan. Penokohan, waktu, lokasi. Semua mendapat perhatian yang sama.

Sah-sah saja apabila penulis menampilkan seorang tokoh tanpa latar belakang dalam cerpennya. Tetapi, dalam novel, tokoh harus utuh. Rayyi tidak lagi bisa menjadi sekadar ‘pemuda yang pergi ke Tokyo setelah mendapat surat dari kekasih lama’. Dia harus lebih dari itu, maka saya memberi dia karakter, hasrat, celetukan khas, kamera kesayangan, teman, keluarga, idola, dan banyak lagi.

Tidak hanya Rayyi. Kehadiran konflik menuntut banyak tokoh baru. Masing-masing punya peranan penting. Haru, salah satunya. Dia tidak muncul di cerpen. Dia memang bersuara lewat suratnya, tetapi tidak digambarkan. Jejaknya hadir, tetapi tidak demikian dengan sosoknya. Di novel, dia mendampingi Rayyi hampir di setiap bab.

Rentang waktu dikembangkan dari satu hari menjadi beberapa tahun sehingga saya bisa menyuguhkan kisah Rayyi dan Haru dari awal sampai akhir secara lengkap. Saya bisa menggambarkan kepada pembaca kejadian-kejadian yang semula hanya disebutkan secara sekilas di cerpen.

Lokasi yang semula terbatas rumah Keluarga Enomoto dan Taman Ueno di Tokyo menjadi lebih beragam. Kini ada Institut Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Kota, Museum Prasasti, Jagakarsa, Cilandak.

Begitulah. Pada pertengahan 2012, Montase rampung dan saya menikmati sekali mengerjakan novel yang satu ini. Asyik rasanya mengetahui tulisan lama saya bisa disulap menjadi tulisan baru yang serupa, tetapi sekaligus sangat berbeda. Saya ingin mencoba melakukannya lagi suatu saat nanti. Siapa tahu cerpen-cerpen saya yang lain–atau barangkali sepotong paragraf tidak jelas yang dibuat iseng bertahun-tahun lalu–bisa bermetamorfosis juga. Ide bisa muncul dari apa saja.

6 comments:

  1. Luar biasa ternyata kisah dibalik Montase ^^ .. tak salah saya menggandrunginy ^^ ..
    salam kenal mb windry :)

    ReplyDelete
  2. boleh buatkn satu cerita jadikan novel x? saya akan bayar... kalau boleh tlong sms 0174555079

    ReplyDelete
  3. mba windryyy... dari SD saya ingin sekali menulis novel. tetapi sampai sekarang (umur saya 20 tahun), satu pun novel belum ada saya selesaikan. saya punya banyak kerangka, tetapi selalu saja di pertengahan saya merasa cerita saya kurang menarik, sehingga saya memutuskan untuk tidak menulisnya lagi, dan membuat kerangka dengan cerita yang baru.... tetapi, hal yang tadi terjadi lagi.

    saya harus bagaimana, mba? :( kalau mau mampir boleh mampir dulu lihat-lihat blog saya.. zulaikhaamaliasrg.blogspot.com :) terima kasih.. ditunggu balasannya ya, mba... selamat buat atas karya barunya :"

    ReplyDelete