.

.

I Yam What I Yam: Menulis Sebagai Ekspresi

Pernah seorang penulis pemula bertanya kepada saya, “Buku seperti apa yang sedang laris saat ini? Apa trennya?”

Saya menjawab, “Novel bernuansa Korea, mungkin. Tapi, yang paling laris dari masa ke masa–menurut saya–adalah novel-novel semi biografi yang inspiratif seperti Laskar Pelangi dan Negeri Lima Menara. Itu trennya.“ Saya juga bertanya balik, “Kenapa, memangnya?”

Penulis pemula itu mengaku, dia berniat menulis novel yang senada dengan novel-novel laris tersebut.

Saya pikir, oke, silakan saja. Siapa pun pasti meninginkan karyanya laku di pasaran. Siapa pun mau sesuatu yang ditulisnya berbulan-bulan dengan susah payah disukai banyak pembaca. Tetapi, secara pribadi, saya punya beberapa alasan untuk tidak menulis berdasarkan tren.

Pertama, tren selalu berubah. Tema cerita yang disukai pembaca saat ini tidak sama dengan tema cerita yang disukai pembaca satu-dua tahun ke depan. Bisa bayangkan apabila kita menulis mengikuti tren yang tidak pernah tetap itu? Melelahkan. Taruhan, kita pasti ngos-ngosan. Dan, jika sudah begitu, kita akan mulai benci menulis. Menulis akan menjadi beban dan tidak lagi menyenangkan.

Kedua, menulis berdasarkan tren tidak menjamin novel kita akan laris. Apa pernah ada Ahmad Fuadi kedua? Negeri Lima Menara hanya satu-satunya. Seringkali, novel-novel yang berusaha mengikuti jejaknya justru tertatih-tatih–bahkan tertinggal jauh–di belakang.

Ketiga, saat kita menjadikan tren sebagai rujukan menulis, kita kehilangan sisi eksplorasi. Karya-karya yang mengekor novel-novel laris sesungguhnya sedang menciptakan homogenitas bersama-sama. Semua karya akan menjadi serupa, tidak lagi personal, seperti produk pabrik. Dan, penulisnya tidak berbeda dari buruh seni.

Padahal, karya tulis sama dengan karya seni. Ada karakter individu di dalamnya, ada ruh yang menjadikan dia identik, unik, orisinal. Dan, ingat ini, karya yang bertahan lama di toko maupun di benak dan hati pembaca adalah karya yang orisinal.

Jadi, mari kita sepakati bersama, berhenti menulis cerita yang kita kira akan disukai banyak orang, atau cerita yang sedang laris di pasaran.

Sekarang, pertanyaannya: kalau begitu, apa yang harus kita tulis?

Begini. Salah satu hal terpenting dalam menulis adalah menjadi diri sendiri. Jujur. Itu kuncinya. Tidak perlu memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang sama sekali bukan kita. Jangan berpura-pura. Menulis semata-mata adalah ekspresi diri.

Mungkin tidak banyak yang sadar, dalam diri kita, ada banyak bibit ide yang berpotensi untuk diolah menjadi kisah menarik. Setiap penulis berbeda, spesial. Tema cerita boleh kuno–ayolah, tidak ada tema yang benar-benar baru. Lokasi cerita bisa jadi tidak asing. Tetapi, cara kita memandang tema atau lokasi itu, itulah yang akan membuat ide kita segar. Bagaimana pun, sudah tugas kita–para penulis–untuk menjadikan dunia ini kembali baru di mata pembaca.

Saya beri contoh sederhana. Jika saya menyebut Paris, apa yang kerap terbayang di benak? Romantis? Pastri? Mode? Glamor? Woody Allen punya pendapat lain. Bagi dia, merujuk kata-katanya lewat Midnight in Paris, Paris paling cantik saat hujan. Dan, Paris paling menakjubkan pada tahun lima puluhan, yakni kala seniman-seniman dan penulis-penulis terbaik sepanjang masa–versi dia–berkumpul di tempat itu (Hemingway, Fitzgerald, Picasso, Dali, dan lain-lain). Menarik.

Mulailah mengenali diri kita sendiri secara lebih baik. Cari tahu ini: apa yang kita suka? Apa yang menyebabkan kita bergairah–dalam artian baik? Apa yang membuat kita berapi-api saat membicarakannya? Itulah yang kita tulis.

Saya pencinta Jepang, maka menulis Montase–novel keempat saya yang idenya berasal dari filosofi sakura. Saya tertarik pada film dokumenter, maka menyisipkannya dalam cerita. Saya menyukai lelaki genius yang menyebalkan, maka lahir Samuel Hardi. Sesederhana itu.

Pedoman ‘tulislah apa yang kita tahu’ salah. Yang benar, ‘tulislah apa yang kita suka’. Jika kita menggunakan hal-hal favorit–hobi, aktivitas, sesuatu yang kita miliki, apa saja–dalam karya, kita akan bersemangat mengerjakannya. Kita akan selalu diganggu perasaan tidak sabar. Kita ingin cepat-cepat menuliskannya, agar cerita itu bisa segera dibaca oleh orang lain.

Oke, terkadang kita memiliki kekhawatiran. Kita takut hal yang kita sukai terlalu aneh bagi pembaca, atau terlalu membosankan, lantas kita takut pembaca tidak akan menyukai hal itu juga. Sekali lagi, kita tidak menulis untuk disukai pembaca. Kita menulis untuk mengekspresikan diri kita.

Sesuatu yang kita suka bukan satu-satunya yang bisa ditulis. Sebagai manusia, kita memiliki rahasia. Banyak rahasia. Mari mengaku saja. Masing-masing kita menyimpan harapan, impian. Kita menyembunyikan ketakutan, penyesalan, yang barangkali tidak pernah diketahui orang lain.

Kita bisa menuliskan itu. Jika kita cukup berani. Tetapi, kita harus berani. Writing is an act of courage. Untuk bisa mendapatkan ide dan menulis dengan baik, kita harus mengambil risiko membuka diri kepada pembaca.

Saya pernah melakukannya. Dalam Memori, saya menceritakan salah satu ketakutan terbesar saya: bahwa tidak ada hubungan antara perempuan dan lelaki yang bisa berlangsung selamanya. Bahwa, cepat atau lambat, perasaan yang mereka miliki akan terkikis dan yang tersisa kemudian hanya rasa benci. Di akhir kisah, saya membisikkan harapan saya: bahwa itu mungkin. Bahwa, hubungan antara perempuan dan lelaki bisa berlangsung selamanya.

Jangan salah paham, saya tidak curhat lewat novel. Kisah Mahoni bukan kisah saya. Saya hanya menjadikan ketakutan kami sama.

Dalam London pun demikian. Lewat cerita rekaan, saya membagikan hal yang saya percayai: konon, hujan turun membawa serta malaikat surga. Saat hujan turun, keajaiban terjadi. Cinta akan datang kepada setiap orang dengan cara yang tidak disangka-sangka, pada waktu yang juga tidak terduga.

Semua itu personal. Dan, pembaca menyukai sesuatu yang personal. Seakan-akan, lewat novel, kita berbicara dari hati ke hati dengan pembaca kita. Itu akan meninggalkan kesan dan karya kita akan tertanam kuat di hati pembaca.

Kita tidak bisa menyenangkan semua pembaca. Itu mustahil. Yang bisa kita lakukan adalah jujur dan pembaca yang menerima kita apa adanya akan berkumpul dengan sendirinya. Menulis itu seperti mencari jodoh. Kita tidak membuat pembaca menyukai hal yang kita sukai lewat karya. Kita mencari pembaca yang menyukai hal yang sama dengan kita lewat karya.

Dan, percayalah, Tuhan telah menciptakan jodoh pembaca bagi setiap penulis.

Jadi, seperti kata Popeye, "I Yam What I Yam."


* tulisan ini merupakan materi seminar kepenulisan yang saya berikan dalam Author Visit Arisan Buku GagasMedia.

28 comments:

  1. Wah! Tipsnya saya butuh banget kaaaak. :D

    Terima kasiiih.

    ReplyDelete
  2. be your self ya. Ga harus ikutan yang sedang tren, rejeki kita ga pernah tahu.

    ReplyDelete
  3. kinda a mood-booster, mbak windry... terimakasih sudah berbagi. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama. terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  4. Wadoh, itu seminar kapaaan? Besok-besok mbok ya aku dicoleeek to. TFS, Wind. Very inspiring!

    ReplyDelete
    Replies
    1. seminarnya di Kendari, mbak Ratih. akhir bulan lalu.

      Delete
  5. Dear mba Windry, baru hari ini aku jalan-jalan di blognya mbak.
    Seru dan bikin termotivasi banget, sampai aku berkhayal "boleh nggak sih kita tukeran tempat, mbak?"
    Aku suka nulis dari SD karna sejak kecil sama papaku sering banget dibeliin buku-buku dongeng, terutama dongeng dari Disney.
    Dimulai dari hobiku yang suka bengong dan berkhayal akhirnya kebiasaanku menulis cerpen berubah jadi coba nulis naskah novel. Dan pas SMP aku beraniin diri kirim naskah perdanaku ke salah satu penerbit besar Jakarta yang tentunya ditolak dan bikin aku ngurung diri dikamar mogok makan *masih labil soalnya* x))

    Sesuai kata mbak Windry, I am What I am, aku selalu nulis naskah yang bertema romance. Pernah mau coba nulis horror dan baru beberapa lembar aku malah merinding sendiri dan akhirnya naskah horror itu 'goodbye' begitu aja ;p
    Genre komedi, aku nggak bakat. Karna emang pada dasarnya aku hobi ngayal yang oh-so-sweet-plis-aku-mau-banget-kayak-si-tokoh-utama hehehe
    Tapi aku bersyukur hobi bengong dan ngayalku akhirnya berbuah hasil, dua naskahku bisa diterbitkan salah satu penerbit daerah Jogjakarta. Hal itu buat aku makin membuatku yakin aku bener-bener mau jadi PENULIS.
    Sayangnya, orangtuaku lebih suka cita-citaku dijadikan side job aja, aku harus kerja kantoran.
    Intinya sih jadi curhatan aku yang banyak ini, aku mau minta saran sama Mbak Windry, gimana caranya aku meyakinkan orangtuaku soal keseriusan aku menjadi penulis ini?
    Karena aku ngga bisa jadiin nulis sebagai side job.
    Atau aku harus bener-bener ngerelain 'kegiatan menulis'ku demi orangtua?
    Aku sedih banget, pengen bisa kayak Mbak Windry yang bisa nulis kapanpun :"((((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Alfida. mungkin kamu bisa coba bicara lagi dengan orangtua untuk mencari jalan tengah. semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. kamu dan mereka hanya perlu saling memahami.

      menulis, sebagai pekerjaan utama atau sampingan, tetap asyik. asal kita menikmatinya dalam situasi apa pun, nggak masalah kan. saya sendiri menulis sambil melakukan banyak pekerjaan lain.

      tetap menulis, ya :)

      Delete
  6. Ini tips jadi moodbooster banget. Aku jadi 'gatel' pengen nulis lagi lho, Kak. Hihi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi glad if it helps :). selamat menulis lagi yaaah :)

      Delete
  7. bener banget mba Windry.....
    jadilah diri kita sendiri saat menulis, jangan ngikutin gaya orang lain..:)

    ReplyDelete
  8. terimakasih kak sudah memberi banyak pencerahan :) saya faham, keterpaksaan dalam menulis hanya akan menimbulkan rasa bosan :) #original

    ReplyDelete
  9. dari semalam saya baca postingan2 kakak, dan ternyata oh ternyata dari blog ini saya mendapat banyak peajaran. terima kasih kak Windry Ramadhina ..
    salam kenal ya kakak ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama. terima kasih sudah mampir ke sini. salam kenal :)

      Delete
  10. Thank u buat saran-sarannya. I really love it. :)

    ReplyDelete
  11. Saya suka saran-saran yg ada di blog ini :) Tiap kali stuck nulis, pasti ke sini. Entah knp langsung ada mood utk nulis lagi.
    Saya jg suka novel-novel mbak Windry. Somewhat different :) Lg nunggu Interlude jg :D
    Boleh tanya dikit gk mbak? Saya jg mau jadi penulis. Novelnya lg diedit sendiri, klo udh selesai baru dicoba kirim. Tp sya susah mendeskripsikan gerakan tubuh dan ekspresi kata (maksudnya apa ia lg berseru, mempertegas, dll). Itu gmna ya?
    Thanks before :)

    ReplyDelete
  12. kak. ijin share beberapa artikel ya. :) makasih. ini sangat memotivasi.

    ReplyDelete
  13. Aku mendapat nyawa lewat postinganmu ini Kak. Terimakasih. Mari berkarya. Mari menulis dari hati. :))

    ReplyDelete
  14. Saya sangat suka dengan postingan Mba diatas dan membuat saya kembali termotivasi dalam menulis. Jika tidak keberatan saya ingin bertanya "Apa yang Mba lakukan jika merasa kurang percaya diri atau tidak bersemangat dalam menulis? Terima kasih atas postingannya:)

    ReplyDelete
  15. Aaaaah! Kenapa baru kali ini tahu blognya Kak Windry. Tahu gitu kan aku sering-sering mampir, hihihi.

    Kak, selama ini aku selalu bercita-cita bisa menghasilkan karya berupa tulisan / novel. Aku sudah menyelami diriku sendiri dan merencanakan, mau seperti apa tulisanku itu. Dan, postingan kakak yang satu ini seperti menyadarkanku. Awalnya aku kira menulis mengikuti tren itulah yang paling... apa ya? Menguntungkan, mungkin. Tapi ternyata tidak begitu, ya. Baiklah. Terimakasih sudah memberi pengertian tentang pentingnya menjadi diri sendiri dalam berkencan dengan kata-kata.

    Anyway, aku suka banget London-nya kakak.

    Sukses terus, Kak! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo. terima kasih sudah mau mampir dan baca tulisanku di blog ini. aku senang bisa membantu. selamat menulis! selamat bersenang-senang :)

      Delete
  16. Kak Windy blognya benar-benar menginspirasi. Sayangnya baru beberapa hari ini saya baca blog ini hehehe...

    Saya sekarang sedang menulis novel fantasy. Jujur saya tidak peduli dengan tren karena selama ini ide-ide yang datang, yang terngiang-ngiang di kepala selalu saja cerita fantasi. Belum pernah ide cerita romantis apalagi horor hinggap di pikiran saya.

    Memang benar sepertinya akan tersiksa jika saya mengikuti tren.
    Salam kenal, semoga semakin sukses!

    ReplyDelete
  17. Well, it's true. Kita enggak akan pernah sekalipun bisa membuat orang lain menyukai karya kita, kita hanya tinggal fokus membuat karya yang identik dengan personalitas kita, semua orang pasti punya pembaca yang menerima kita dan karya buatan kita sebagaimana adanya.

    This writing tips is awesome. :)

    Blognya sudah difollow ya, ditunggu follow backnya, terimkasih. :)

    ReplyDelete