.

.

Metropolis (2013)

demi ayahku yang sudah mati

Setiap kota punya sisi gelap dan di sana mereka--mafia--berpesta.

Bram, polisi muda yang cerdas, anak seorang pecandu yang mati dibunuh pengedar. Miaa, perempuan misterius yang tidak pernah memiliki ayah. Johan, lelaki yang lahir di kalangan mafia dan punya banyak piutang nyawa. Indira, perempuan berhati bersih, orang yang salah di tempat yang salah.

Keempatnya tenggelam dalam kegelapan metropolis, di tengah-tengah konflik antargeng pengedar narkotika Jakarta. Tetapi, mereka tidak hitam, bukan pula putih sepenuhnya. Mereka manusia biasa yang punya ambisi, memendam niat buruk, melakukan kesalahan, serta merasakan benci dan cinta.

* * *

Oke, inilah wajah baru buku kedua saya yang diterbitkan ulang. Kami--saya dan penerbit--berusaha mencari wajah lembut Metropolis, tetapi tidak berhasil. Buku ini, bagaimana pun, memang gelap. Menjadikannya terlihat terang sama saja seperti menyuruhnya berpura-pura.

Metropolis diterbitkan pertama kali pada Mei 2009. Ini bukan novel yang bisa ditulis begitu saja ketika seorang penulis pemula (baca: saya empat setengah tahun lalu) menemukan ide cerita tentang perang antargeng pengedar narkotika. Diperlukan usaha lebih untuk mengumpulkan materi-materi seputar bisnis gelap, organisasi kejahatan, kepolisian, forensik, dan banyak lagi lainnya, termasuk Chronic Myelogenous Leukimia. Dan dipentingkan ketelitian saat menyusun plot yang mengandung konflik berlapis serta menampilkan banyak karakter yang terhubung satu sama lain dalam jejaring yang rumit. Jadi, untuk diketahui oleh kalangan terbatas saja, saya senang menghasilkan novel ini.

Pada awalnya, novel ini tertuang tanpa embel-embel ambisi. Ketika menuliskan bab pertama dan mempublikasikannya di situs kemudian.com pada 2008, saya tidak punya tujuan selain ingin memuaskan diri sendiri dengan sebuah kisah anti protagonis yang jarang saya temui di luaran. Bahkan saya tidak pernah menampilkan lebih banyak dari lima bab di situs tersebut. Tepat ketika bab keenam hendak ditulis, saya mengalami krisis kepenulisan--yang datang terlalu dini--dan memutuskan untuk rehat.

Yang kemudian menyebabkan saya kembali menulis Metropolis adalah pekerjaan rumah dari sepasang penipu Yusi Avianto Pareanom dan AS Laksana, guru saya di Bengkel Penulisan Novel DKJ. Sebagai balasan mendapat pelajaran gratis, saya dan tiga belas murid yang lain wajib menghasilkan sebuah novel dan mengikuti Sayembara DKJ. Pada akhirnya, hanya dua dari empat belas yang memenuhi itu dan saya salah satunya.

Oh, bagi yang belum tahu, Metropolis adalah drama kriminologi--apakah saya sudah mengatakan itu? Ada roman di dalamnya, tetapi yang mendominasi adalah teka-teki, konspirasi, dan aksi. Buku ini memperlihatkan sisi lain dari saya, sisi yang tidak akan ditemukan dari buku-buku saya yang lain. Saya akan sangat senang jika kalian rela terseret ke dunia yang satu ini.

Pada pertengahan Desember 2013, buku ini sudah mulai disebar di toko (atau begitulah rencananya). Jadi, mari beramai-ramai mengambilnya dari rak. Jangan sampai kalian kehabisan lagi. Jangan menunggu hingga buku ini langka lagi.

10 comments:

  1. Momennya tepat sekali. Saya juga sedang senang membaca buku-buku "gelap" yang (mungkin) seperti Metropolis ini. Saya gak mau kehabisan lagi! Harus beli! Harus punya! Harus baca!

    ps:
    Lebih suka kover lama, Mbak. Lebih "lembut".

    ReplyDelete
    Replies
    1. desainernya lain. beda karakter, memang.

      Delete
  2. Penasaran bukumu mbak. Temenku ada yang baca 1 bukumu trus ketagihan ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kaish. aku tunggu pendapatmu :)

      Delete
  3. Wah... kaver barunya tampak gelap dan lembut. sudah nggak sabar nunggu di toko buku. Dan novel ini menjadi pelengkap koleksi novel karyamu, Mbak.

    Cheers...

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih. aku pun sedang nunggu :D

      Delete
  4. tidak bermaksud untuk membandingkan, tapi jujur.. aku lebih suka cover yg lama dan sampai saat ini pun masih jatuh cinta sama cover yg lama. hehe, But anyway, cover yg baru juga tidak kalah bagus dan tidak mengurangi rasa penasaranku untuk membaca metropolis. Semoga kali ini aku gak akan kehabisan lagi untuk membelinya... Ahhh, rasanya tidak sabar untuk berburu "metropolis" :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha. it's okay. membandingkan itu biasa.

      tapi isinya lebih ciamik yang ini. saat editing ulang kemarin, aku dan redaksi banyak melakukan perubahan dalam struktur kalimat dan detail informasi. kami juga menambahkan sejumlah ilustrasi.

      Delete
  5. wowww... jadi semakin penasaran. andai aku punya metropolis versi lama, mungkin akan asyik untuk diperbandingkan dengan versi baru. :D
    tapi aku yakiiinnn, dalam versi yg baru ini u do ur best yaaa, actually aku yakin kamu selalu melakukan yang terbaik dalam setiap tulisanmu. Goodluck windry :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank you. good luck for you too :)

      Delete