.

.

"Hibuk" yang Malang

Hari ini, pagi-pagi, saya terpaksa mengoceh bahasa lewat twitter. Pasalnya, sejumlah pembaca ribut masalah "hibuk" di novel-novel saya. Mereka menyebut itu sebagai kesalahan ketik.

Sebagai penulis, sebenarnya, saya jarang menanggapi kritik. Saya lebih suka membiarkan novel saya membela dirinya sendiri--atau dibela pembaca lain. Tetapi, kali ini, saya merasa perlu berbicara. Karena, yang saya bela bukan novel saya, melainkan "hibuk" yang malang. 

Ya. Dia perlu dibela. Kalau tidak, dia akan dianggap sebagai wujud kesalahan ketik secara terus-menerus. Lalu, lama-lama, kita semua memercayai itu. Dan, pada akhirnya, kita menyingkirkannya. Dia punah. Saya ingin mencegah dia punah.

"Hibuk", teman-teman, adalah kata baku. Dia ada di kamus bahasa kita. Artinya hampir sama dengan "sibuk", tetapi saya menganggap  "hibuk" memiliki intensitas yang lebih tinggi. Dia saya jadikan super sibuk. Saya kerap memakainya di novel karena "super sibuk" berkesan hiperbolis.

Memang, "hibuk" tidak populer. Tetapi, dia tidak sendiri. Pernah mendengar kata "syak"? Saya menemukannya secara tidak sengaja. Dia berarti: rasa kurang percaya, sangsi, tidak yakin, ragu-ragu. Betapa cantiknya kata itu. Hanya empat huruf pula. Ada pula "pagut" dan "lenguh". Lalu, "gemercik" dan "gemerencik", dua kata yang mirip, tetapi berbeda arti. Yah, pada kenyataannya, masih banyak sekali kata yang tidak kita ketahui di kamus bahasa.

Mereka tidak populer. Bukan berarti mereka tidak perlu dipakai dalam tulisan--atau bahkan percakapan. Kata-kata itu justru harus dikenalkan ulang kepada pembaca. Jika tidak begitu, jika penulis hanya memakai kata-kata yang populer, seperti yang saya katakan di atas, "hibuk" dan kawan-kawan akan punah. Sayang betul. Padahal, mereka indah.

Lewat kamus bahasa, saya mendapati beberapa kata yang ternyata saya salah kaprah terhadapnya selama ini. Misal, "memelesat", bukan "melesat". Ternyata, kata dasarnya adalah "pelesat". Lalu, "kemboja", bukan "kamboja". "Nahas", bukan "naas". "Genius", bukan "jenius". Belakangan, saya malah mumet gara-gara menemukan kebenaran ini: "frustrasi" adalah kata benda, bukan kata sifat. Saya tidak bisa lagi membuat kalimat semacam "dia frustrasi lantaran tidak lulus sekolah".

Teman-teman, kita harus mulai mencurigai pengetahuan kita mengenai bahasa. Kita harus mulai mempertanyakan hal-hal yang kita kira kita tahu kebenarannya. Itu akan membuat kita berhati-hati. Kita akan menjadi lebih teliti dan awas terhadap bahasa. Kita akan lebih rajin mengintip kamus untuk menemukan kebenaran. Menurut saya, ini penting.

Saya adalah tipe penulis yang sebisa mungkin memikirkan setiap kata yang saya pakai. Apakah "tetapi" atau "tapi"? "Kepada" atau "pada"? Hal sepele semacam itu menghantui saya selama berhadapan dengan tulisan. Meletakkan tanda koma saja, saya berpikir dulu. Saya begitu karena mencintai bahasa. Saat menulis, saya tidak hanya membuat cerita. Saya berkencan dengan kata-kata.

Jadi, saya tidak bisa diam saat sebuah kata--yang saya tahu dia nyata--dianggap tidak ada. Saya tidak rela dia dikesampingkan. Dia perlu dibela dan, lewat ocehan ini, saya membelanya.

6 comments:

  1. Ada beberapa kata yang aku tahu (seperti pagut dan lenguh), tetapi selain itu, pengetahuanku nol. Hibuk, memelesat, genius, dan kawan-kawannya.

    Mungkin karena frustasi berasal dari kata frustation (n), bukan frustrated (adj.). Ah, jadi malu dengan pengetahuan tentang bahasa sendiri.

    Terima kasih atas tulisan dan ilmunya yang bermanfaat, Kak.

    ReplyDelete
  2. sama kayak relaks, bukan rileks, ya, Mbak.

    trus, pengganti frustrasi apa, dong, Mbak? ;___; *ikut mumet karena udah terlanjur sayang sama kata itu sebagai kata sifat*

    ReplyDelete
  3. lewat ini saya jadi tahu kalo kata "hibuk" itu eksis....
    by the way, saya suka gaya bahasanya mbak windry :)

    ReplyDelete
  4. Paparannya memberikan pengetahuan mbak Win, terimakasih mbak Win :D

    ReplyDelete