.

.

(New Book) Glaze

Galeri Patah Hati Kara & Kalle

Seperti glasir di permukaan keramik, aku merasakanmu sepanjang waktu.
Mataku tak lelah menatapmu, diam-diam mengabadikan senyummu di benakku.
Telingaku mengenali musik dalam tawamu, membuatku selalu rindu mendengar cerita-ceritamu.
Bahkan, ketika kita berjauhan, aku selalu bisa membayangkanmu duduk bersisian denganku.

Seperti glasir di permukaan keramik, kepergianmu kini membungkusku dalam kelabu.
Ruang di pelukanku terasa kosong tanpa dirimu.
Dadaku selalu sesak karena tumpukan kesedihan mengenang cintamu.
Bahkan, ketika aku ingin melupakanmu, bayanganmu datang untuk mengingatkan betapa besar kehilanganku.

Aku menyesal telah membuatmu terluka, tapi apa dayaku?
Aku yang dulu begitu bodoh dan naif, terlambat menyadari kalau kau adalah definisi bahagiaku.

--------------------------------------------------

Akhirnya, saya sampai juga di buku kesepuluh. Bagi saya ini sesuatu yang harus dirayakan. Karena, saya penulis lamban. Untuk menulis sepuluh buku, saya butuh sepuluh tahun. Benar-benar lamban, kan? Itu kekurangan yang saya ciptakan sendiri. Saya, si melankolis yang senang memperumit proses. Tetapi, sekali lagi, ini harus dirayakan.

Buku kesepuluh saya terbit dengan logo Roro Raya, imprint Twigora--penerbit milik Christian Simamora. Barangkali, sebagian dari kalian bingung karena hampir semua buku saya terdahulu terbit dengan logo GagasMedia. Saya punya cerita mengenai hal ini, tetapi tidak untuk sekarang.

Nah, bekerja sama dengan Christian Simamora selalu menyenangkan. Sejak dia masih di GagasMedia, saya senang jika mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi ide dengannya. Dia tipe editor yang--entah bagaimana--begitu mengenali penulis-penulisnya. Dia tahu persis karakter saya, apa yang suka saya tulis, dan bagaimana saya menuliskannya. Dan, ini yang paling menyenangkan, saat bekerja sama dengannya, saya selalu dibuat terkejut dengan diri saya sendiri. Saya terkejut mengetahui apa yang bisa saya lakukan.

Kisah Kara dan Kalle yang hadir dalam Glaze bukan kisah paling rumit atau paling filosofis atau paling inspiratif yang pernah saya tulis. Kisah mereka sederhana. Tetapi, saya menghabiskan banyak waktu yang luar biasa menyenangkan saat menulis kisah mereka. Mereka manis, lucu, romantis (dengan cara mereka sendiri), dan--entah mengapa--begitu segar, paling tidak bagi saya.  

Saya sedang lelah menulis tokoh sendu. Jadi, Kara dan Kalle seperti pelarian saya. Mereka juga memberi saya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sejak lama ingin saya lakukan dalam menulis. Karena itu, saya sangat berterima kasih kepada mereka.

Semoga kalian menyukai mereka seperti saya. Tetapi, kalau suka tokoh-tokoh yang menggemaskan, kalian pasti menyukai mereka.

4 comments:

  1. Yatta~ akhirnya :D Glaze... Omedeto Gozaimasu Kak Windry :) saya selalu suka dengan buku-buku kakak. dari Orange,Metropolis,Memori,Montase,London,Interlude,WAY,Last Forever,hingga Angel In The Rain semua aku punya :D sekarang saatnya Glaze menjadi keluarga baru di Rak buku saya hehe :D sudah PO belum kak ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, ya. Nanti akan diinfokan pas open PO.

      Delete
  2. Meskipun aku baru baca Interlude dan WAY, aku masih penasaran dengan karya-karya Kak Windry yang lain. Semoga punya kesempatan buat baca yang lain-lain..

    ReplyDelete