Song For Alice: First Chapter


Dia bisa merasakannya. Dia bisa mendengarnya. Luapan emosi yang ditujukan kepadanya. Histeria.

Suara-suara menyerukan namanya. Jerit liar yang mengandung kecintaan sekaligus keputusasaan. Tangan-tangan terulur berusaha menjangkaunya. Tubuh-tubuh melompat bersama-sama mengikuti musik. Wajah-wajah basah, entah oleh keringat atau air mata. Udara sesak, panas, dan bergemuruh, seakan-akan hendak menghancurkan ruang pertunjukan.

Di tengah-tengah luapan emosi tersebut, dia berdiri pada panggung besar, di antara cahaya-cahaya kuning dan biru yang menyorot ke arahnya, di hadapan lautan manusia. Satu tangannya memegang gitar. Tangannya yang lain menarik mikrofon mendekat ke mulutnya. Dia membisikkan lirik-lirik bengal,

“It’s to die for.
Wild cherry.
Soft lips.
Your kiss.”

Gitar lain meraung di belakangnya. Bas bergumam rendah. Drum dipukul keras dan cepat. Semakin lama semakin keras, semakin cepat, semakin menggila. Bunyi-bunyi itu tumpang-tindih dengan jerit liar tadi. Mendesak. Merasuk ke dalam dirinya seperti roh yang gusar.

Detak jantungnya memburu. Darahnya bergejolak. Dia menggerakkan kepala dan tubuhnya dengan sama keras dan cepat. Jari-jarinya menari di permukaan gitar miliknya. Alat musik itu melengking, bunyinya melejit ke langit-langit diiringi ledakan cahaya dan amukan drum.

Dan, dia tidak lagi sanggup membendung luapan emosi. Dia membanting gitarnya, menghentikan musik, membungkam jerit, menyisakan dengung panjang yang memekakkan telinga.

Dengung tersebut menguap perlahan-lahan. Ruang pertunjukan senyap sesaat. Tetapi, detik berikutnya, lautan manusia di hadapannya kembali menjerit. “Arsen!” Di telinganya, suara-suara menyerukan namanya tidak putus-putus.

Arsen menarik napas dengan susah payah. Pundaknya naik turun. Dia tersengal-sengal. Keringat mengalir deras di kening, leher, dan punggungnya. Kausnya kuyup. Tangan dan kakinya kehilangan tenaga.

Dia maju ke tepi panggung. Langkahnya sedikit gontai. Di sana, dia merentangkan kedua tangannya dan menengadah, menyambut sorak-sorai dan sorot cahaya yang panas. Matanya terpejam.Seringai menghiasi wajahnya.

Ah.

Dia benar-benar bisa merasakannya. Luapan emosi yang ditujukan kepadanya.

Sial.

Hidupnya sempurna. Dia bisa mati kapan saja dan tidak punya penyesalan apa-apa.

*


“Bersulang, untuk Arsen Rengga!”

Botol-botol kaca hitam berbenturan di udara. Bir dingin memercik. Denting berderai, beradu dengan musik keras. Lalu, tawa-tawa pecah menambah riuh suasana dan sekumpulan pemuda dengan pakaian serbahitam di tengah-tengah pub menenggak minuman mereka.

“Harus kukatakan, tadi itu pertunjukan yang bagus.”

“Bagus?” Arsen menaikkan alis sambil mencibir. Dia melirik pemuda kurus berkucir ekor kuda di sebelahnya. “Tadi itu pertunjukan yang luar biasa.Kau tidak lihat tadi penonton menggila? Belingsatan.”

Si pemuda berkucir ekor kuda terkekeh. “Ya, oke. Luar biasa. Kuralat, karena ini pestamu.”

“—Dan kau yang bayar minuman kami.” Seorang lain menimpali. Pemuda bertubuh besar yang memiliki tato di leher.

“Berengsek,” maki Arsen. Dia dan teman-temannya kembali tertawa.

Ini memang pestanya. Acara yang dia adakan tepat setelah pertunjukannya selesai. Dia meminta manajernya menyewa sebuah pub bernuansa industri di selatan Jakarta, lalu mereka mengajak para sponsor, kru, wartawan, dan beberapa penggemar setia untuk bersenang-senang. Tamu-tamunya bisa minum sepuasnya sambil mengobrol, merokok, main biliar, atau sekadar duduk menikmati musik yang dilantunkan oleh grup tidak ternama dari panggung kecil di sudut.

Lalu, tiba-tiba musik yang dilantunkan dari panggung kecil di sudut tersebut berhenti. Detik berikutnya, seseorang memanggil menggunakan mikrofon, “Oi, Arsen.”

Obrolan dan tawa ikut berhenti. Perhatian seisi pub, bukan hanya perhatian Arsen, beralih kepada lelaki dengan celana jin sobek dan kaus tanpa lengan yang berdiri di panggung.

Lelaki itu mencabut mikrofon dari penyangga seraya mengacungkan seloki. Tubuhnya sempoyongan dan skotch dalam seloki di tangannya bergoyang-goyang. Dia berbicara seperti berkumur-kumur, “Kurasa, sudah banyak yang mengatakan ini, tapi aku akan tetap mengatakannya. Selamat untuk pertunjukanmu. Salah satu pertunjukan paling bergairah yang pernah kusaksikan.”

Sebagai balasan, Arsen mengacungkan birnya. “Terima kasih.”

Tetapi, kemudian lelaki di panggung menambahkan, “Oh, dan semoga albummu yang baru tidak laku, kau bocah sialan. Kau membuat kami, musisi-musisi lain, tidak kedengaran.”

Seisi pub tertawa.

Dari kerumunan dekat bar, seorang gadis berteriak. “Ah, aku juga ingin memberi selamat.” Gadis itu naik ke meja. Pakaiannya jaket kulit dan gaun pendek. Kelopak matanya gelap. Bibirnya dipulas ungu nyaris hitam. Dia sama sempoyongannya dengan lelaki tadi.

“Aku tidak pintar dengan kata-kata,” akunya, “jadi, aku akan menari.” Dengan isyarat tangan, dia meminta musik kembali dilantunkan.

Grup tidak ternama yang semula menghibur seisi pub pun mulai melantunkan musik lagi. Kali ini, mereka mengiringi gadis mabuk yang terlihat seperti akan jatuh setiap dia menggerakkan tubuhnya.

Arsen menyeringai. Dia membiarkan gadis itu menghibur tamu-tamunya. Yang demikian sudah biasa. Pesta yang dia adakan tidak pernah tidak disudahi dengan kegilaan. Dia menenggak beberapa teguk terakhir birnya, lalu memutuskan untuk mengambil minuman baru ke bar.

Di sana, dia bertemu Mar. Perempuan kurus berambut merah, berpakaian merah pula, yang tampak mencolok di tengah-tengah puluhan penggemar musik rock. Mar duduk sendiri, hanya ditemani segelas soda dan sebundel majalah.

Perempuan itu mengerling ke arah Arsen dan berkomentar, “Tamu-tamumu mulai mabuk.”

“Kita sedang berpesta, Mar. Semua orang mabuk.” Arsen membalas dengan santai. Dia mengerling balik. “Semua kecuali kau, sih.”

“Harus ada yang tetap sadar untuk mengantarmu pulang.” Mar memasang ekspresi masam.

Arsen terkekeh. Dia mengenal Mar tiga tahun lebih, sejak dia memulai kariernya sebagai musisi rock profesional. Perempuan itu manajernya. Bukan manajer yang ramah dan asyik. Justru, Mar senang menggerutu. Tetapi, Arsen sudah kebal.

“Omong-omong, memangnya kau harus membanting gitar, ya?” tanya Mar.

“Hem? Gitar? Oh, di pertunjukan tadi? Maaf, maaf, aku tidak tahan. Terlalu dikuasai emosi. Rasanya, tubuhku mau meledak.”

“Yang kau banting itu Gibson Les Paul. Lain kali, kalau kau mau menghancurkan gitar di akhir pertunjukanmu, beri tahu aku. Akan kusiapkan Epiphone.”

“Apa? Kau menyuruhku pakai gitar murah? Jangan bikin aku menangis.” Ekspresi Arsen berubah sedih. Meskipun demikian, bibir pemuda itu memperlihatkan seringai lebar.

Mar, yang tahu pemuda itu tidak menanggapinya secara serius, tertawa sinis. Dia mengoper majalah di tangannya. “Baca. Kau akan menangis sungguhan.” Rolling Stone terbaru.

Arsen membuka-buka majalah tersebut. “Apa ini?” tanyanya, tetapi manajernya tidak menjawab. Mar menyesap soda sambil melempar pandangan ke panggung.

Majalah yang diberikan oleh perempuan itu adalah majalah musik. Di dalamnya, Arsen menemukan ulasan mengenai albumnya yang baru. Dan, perlahan-lahan, saat dia membaca, seringai di bibirnya menguap.

Dia mengerutkan alisnya. Matanya menyiratkan perasaan kecewa dan gusar yang bercampur aduk.

“Produser sudah baca itu juga,” ujar Mar pelan, dengan nada penuh arti, “dan dia tidak senang.”

Arsen menarik napas panjang. Pemuda itu membuka mulut, lalu melepaskan tawa yang terdengar dipaksakan. Dia mengembalikan majalah yang tidak mau dia baca lagi tersebut kepada Mar. “Ulasan seperti ini tidak perlu dianggap serius,” katanya, “‘Wild Cherry’ nomor satu di mana-mana. Penggemar-penggemar suka. Aku tidak butuh kritikus untuk menilai musikku.”

Setelah itu, dia menyambar sebotol bir yang diletakkan di meja bar oleh pramusaji untuknya. Sambil menenggak minumannya, dia kembali ke tengah-tengah pub.

Mar memperhatikan pemuda itu ditelan kerumunan. Di antara tamu-tamu yang bergantian menepuk bahunya dan mengucapkan selamat, pemuda itu tersenyum masam. Mar tahu, suasana hati pemuda itu tidak lagi sebagus tadi.

Lalu, pandangan Mar berpindah ke majalah di hadapannya, ke judul ulasan yang berbunyi, “Ceri Liar yang Mentah, Album Baru Arsen Rengga Tidak Menawarkan Banyak Hal.”

Bukan sembarang orang yang membuat judul ulasan tersebut, melainkan kritikus yang kata-katanya sanggup memengaruhi dunia musik dalam negeri. Kritikus yang sama dengan yang pernah berkata bahwa Arsen Rengga adalah batu berharga yang ditunggu-tunggu selama puluhan tahun.

Mar mendesah. Dia menutup majalah di hadapannya. Yah, pikirnya, wajar saja bocahnya patah hati.

*

Arsen tidak ingat berapa botol bir yang dia minum. Dia tidak ingat sebagian besar yang terjadi di pesta. Dia juga tidak ingat kapan dia meninggalkan pub. Dia hanya tahu, Mar yang membawanya pulang.

Harus dia akui, untuk seorang perempuan, manajernya luar biasa kuat. Perempuan itu berhasil memapahnya dari pelataran parkir sampai ke depan pintu tempat tinggalnya di lantai kedua puluh gedung apartemen di pusat Jakarta.

Begitu mereka memasuki ruang duduk, Mar menaruhnya di sofa—atau lebih pas jika disebut membiarkannya jatuh—ke sofa. Perempuan itu menghilang sebentar ke dapur, lalu kembali dengan segelas air. “Minum ini. Setelah itu, coba untuk tidur,” kata Mar.

Arsen menudingkan kedua telunjuknya kepada Mar. “Pesta terbaik yang pernah kita adakan. Pesta tadi.” Dia meracau demikian.

Manajernya menanggapi dengan datar, “Aku tidak lihat perbedaannya dengan pesta-pesta sebelumnya.”

“Apa? Jelas beda, Mar. Pesta yang diadakan sehabis pertunjukan selalu beda.”

Mar tetap kelihatan tidak peduli. “Besok kita ketemu produser. Pukul tiga. Jangan telat. Ada pembicaraan penting.”

Sebelum Arsen sempat membalas, manajernya sudah pergi. Sosok perempuan itu ditelan pintu kayu hitam yang berderik pelan saat ditutup. Apartemennya yang serbakelabu pun senyap setelah perempuan itu tidak ada.

Dalam kesendiriannya, Arsen mencibir, “Pembicaraan penting.”

Dia meminum airnya, lantas merebahkan diri. Matanya terpejam, satu tangannya memegangi kening, tetapi dia tidak bisa tidur. Dia ingin tidur. Tubuhnya nyaris tidak bertenaga. Hanya saja, kepalanya tidak mau berhenti berpikir.

Pembicaraan penting yang dimaksud oleh Mar, pasti ada hubungannya dengan ulasan di majalah.

“Ulasan sialan,” maki Arsen. Dia berusaha mengingat-ingat kata-kata kritikus yang menulis ulasan tersebut. Di salah satu bagian, kritikus itu berkata:

Di album pertama, saya rasa kita semua sepakat, Arsen Rengga memperdengarkan musik-musik rock yang kaya. Sesuatu yang membuat kita bersorak dan berharap musisi muda ini akan memperdengarkan lebih banyak lagi.

Sayangnya, kita dibuat kecewa di album kedua. Saya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi “kaya” sama sekali bukan kata yang tepat untuk menggambarkan “Wild Cherry”, “Hello”, dan “Room No.6”. Tidak ada kreativitas di dalamnya. Tidak ada eksplorasi, apalagi permainan nada yang berisiko. Lagu-lagu itu dangkal dan tidak benar-benar selesai. Mentah. Ceri liar yang masam.

Barangkali, Arsen Rengga terlalu sering berpesta sampai lupa cara membuat musik yang benar. Sekarang, saya bertanya-tanya, apakah dia serius ingin tetap berada di industri ini? Karena, apabila dia lebih senang ke pub untuk menenggak bir daripada ke studio untuk memetik gitar, dia tidak akan bertahan lama.

Benar-benar, ulasan sialan.

Arsen memaksa dirinya bangkit. Dia melangkah terhuyung-huyung menghampiri pintu di salah satu sisi ruang duduk. Dia membuka pintu itu, lalu masuk ke ruangan besar yang lantai dan dinding-dindingnya berlapis kayu, tempat dia biasa menghabiskan sebagian waktunya untuk membuat lagu.

Ruangan itu menyimpan banyak alat musik. Belasan gitar berbaris rapi dalam lemari kaca yang menyentuh langit-langit. Permukaannya mengilat dan beberapa di antaranya masih memiliki label harga. Selain gitar, ada piano elektrik dan satu set drum juga. Dua alat musik yang terakhir itu sedikit berdebu.

Arsen mengambil satu gitar dan menarik sebuah kursi tinggi dari sudut. Dia duduk memangku alat itu. “Lupa cara membuat lagu yang benar, hah?” katanya, “Sok tahu.” Lalu, jari-jarinya mulai memetik.

Nada-nada keluar dari gitar tersebut. Satu per satu. Perlahan. Arsen berdendang pelan. Dia memejamkan mata dan menengadah. Senar-senar yang dia sentuh terasa berat. Nada-nada keluar dengan susah payah, semakin lama semakin tersendat, dan dia tidak kunjung sanggup merangkai melodi.

Dia berhenti sesaat. Matanya kembali terbuka. Alisnya berkerut. Ada nada yang tidak pas. Dia menyetem senar-senar gitarnya. Setelah itu, dia mulai memetik lagi. Tetapi, nada-nada yang keluar dari gitarnya masih terdengar tidak pas.

“Sial.”

Kali ini, Arsen bangkit untuk menukar gitar. Dia memilih gitar yang paling baru di lemari. Percuma, sayangnya. Nada-nada yang keluar kemudian tetap tidak seperti yang dia inginkan. Lalu, pemuda itu menukar gitar lagi, dan lagi, sampai dia sadar bahwa bukan gitar-gitarnya yang tidak sanggup menghasilkan nada-nada brilian.

“Sial.” Dia memaki lagi.

Pemuda itu berhenti. Gitar di tangannya jatuh ke lantai. Tubuhnya berdiri lunglai. Matanya berkilat gusar. Dia menggeleng. Tidak. Ini karena dia lelah, dalih pemuda itu. Bukan karena—meminjam kata-kata kritikus di majalah—dia lupa cara membuat musik yang benar.

Arsen meninggalkan ruangan tersebut, lalu keluar ke balkon. Dia disambut udara dini hari yang menggigit. Langit di hadapannya biru gelap, sedikit terang dekat garis batas, dengan kumpulan jutaan lampu jingga di bawahnya.

Dia menarik napas panjang, menghirup aroma besi dan debu yang bercampur dengan embun. Ujung-ujung bibirnya melengkung naik. Kumpulan lampu di hadapannya seperti tabung-tabung bersinar yang dilambaikan penonton-penontonnya di pertunjukan tadi.

Penonton-penontonnya yang menggila. Dia masih bisa mendengar suara mereka di kepalanya. Jerit liar yang mengandung kecintaan sekaligus keputusasaan. Dan, dia masih bisa merasakannya. Luapan emosi yang ditujukan kepadanya.

Arsen pun merentangkan tangan seakan-akan dia berada di panggung. Suara-suara di kepalanya semakin jelas. Dia membayangkan dirinya berada di hadapan lautan manusia, di antara cahaya-cahaya kuning dan biru yang panas. Seringai di bibirnya mengembang.

Sungguh, sempurna. Dia tidak butuh apa-apa lagi dalam hidupnya.

Tetapi, lalu tiba-tiba seringai itu memudar dan alis Arsen berkerut. Arsen meremas kausnya. Dadanya nyeri. Ah, bukan. “Nyeri” bukan kata yang tepat. Seperti ada lubang di dadanya. Ada kehampaan.

Dia merasakan ini juga sesaat di akhir pertunjukannya tadi.

Di antara cahaya-cahaya kuning dan biru yang menyorot ke arahnya, ada sesuatu yang hilang. Dia tidak tahu apa.


(Notes: This is the unedited version of Song For Alice first chapter)

2 comments:

  1. Mbak Windry, I'm your long time fan. Udah lama banget saya ngikutin dan baca novel2 mbak. Saya suka gaya bahasa Mbak Windry tiap kali bercerita. Fix, Song for Alice ini udah bikin saya penasarannnnnn banget. Setiap kata yang saya baca, saya deg degan, merinding. Sama seperti waktu saya baca novel "Interlude", saya dibikin cinta mati sama Kai. Of course, I will love Arsen too! Belum baca seutuhnya, tapi saya tahu ini akan jadi salah satu karya terbaik dari mbak. Sukses terus mbak, saya selalu, selalu menantikan karya-karya Mbak Windry! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Aku senang sekali berkenalan dengan pembaca yang sudah menemani perjalanan aku selama ini. Aku sangat menghargainya. Selamat membaca kisah Arsen dan Alice. Semoga menyukainya.

      Delete