The Boy in Yellow Sweater at Aoyama - 1


1st

Aoyama, Tokyo

Prada Aoyama Boutique. Salah satu seni berwujud bangunan arsitektur yang lebih mirip berlian raksasa setinggi sembilan lantai. Seluruh dinding juga atapnya berupa kumpulan kaca cembung transparan berbentuk wajik pipih yang dibingkai dalam rangka baja. Bagian dalamnya terlihat jelas. Warna-warni pakaian, tas dan asesoris Prada ramai seperti serpihan kertas origami dalam kotak kaca. Hadir kontras di hadapan latar langit Aoyama yang biru cerah.

Ini kali pertama Koto melihat bangunan yang dicap radikal dan spektakular itu dengan jarak begitu dekat. Ia berdiri di seberang jalan beraspal dalam balutan jaket selutut merah muda dan sepatu boot putih obralan yang dibeli pada kaki lima di pinggiran jalan Takeshita. Pakaian terbaik yang bisa ia temukan tadi pagi di dalam lemari untuk hari pertamanya bekerja di butik Prada.

Kalau bukan karena Aoki, ia tidak mungkin melewati Aoyama, Omotesando dan sekitarnya. Wilayah yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan murah Takeshita itu dipenuhi butik-butik kelas atas. Gucci, Louis Vitton, Prada dan yang termurah mungkin Zara. Jelas, bukan tempat yang sesuai dengan isi dompet seorang mahasiswa rantauan dari Fukuoka seperti dirinya.

Satu semester Koto tinggal di Tokyo. Kuliah di Universitas Hosei dengan kiriman uang minim setiap bulan yang akan dihentikan ibunya mulai bulan depan. Kondisi keuangan keluarga mereka di Fukuoka sedang tidak bagus dan awal tahun adiknya akan memasuki sekolah menengah. Koto harus segera mencari uang sendiri atau ia terpaksa kehilangan tempat tinggal saat bulan berganti. Ia butuh pekerjaan.

Karena itu, saat teman satu kelas bahasa Inggrisnya Minamoto Aoki menawarkan pekerjaan paruh waktu di butik Prada, Koto segera menerima tanpa pikir panjang. Aoki sudah lebih dulu bekerja di butik itu. Mereka berjanji untuk bertemu di depan butik pagi-pagi sekali hari ini. Tidak lama lagi seharusnya Aoki muncul.

Sebuah bis berhenti di hadapannya. Beberapa orang turun. Tidak ada Aoki. Diliriknya jam di pergelangan tangan kiri. Lewat sepuluh menit dari janji mereka. Mungkin Aoki bangun kesiangan. Cukup sering memang Koto mendapati temannya itu terlambat saat kelas pagi.

Bis itu berlalu. Kini di samping Koto berdiri seorang pemuda yang tadi ikut turun dari dalam bis. Seorang pelajar. Ia bisa mengenali seragam sekolah menengah swasta di balik sweater kuning yang pemuda itu kenakan. Pemuda bertampang lumayan, sesaat ia melirik. Dengan postur tinggi dan rambut dicat kecoklatan.

Pemuda itu tidak beranjak, justru mengambil posisi duduk di tepi trotoar. Tas sekolahnya tetap tersampir di bahu. Sebuah iPod Video di tangannya dan earphone menutupi kedua telinga.

Koto melirik sekali lagi. Pelajar kaya yang bolos sekolah, ia mengasumsikan. Kalau tidak, mana mungkin pemuda itu berkeliaran di wilayah perbelanjaan elit saat jam pelajaran seperti ini.

“Aihara!”

Seseorang berseru memanggil Koto. Dilihatnya Aoki berlari menghampiri dari kejauhan. Rambut panjang bergelombang milik Aoki yang beberapa hari lalu masih berwarna coklat kini sudah berubah jingga. Dalam sebulan, Aoki bisa mengganti warna rambutnya sebanyak tiga kali.

“Ohayo,” sapa Aoki begitu tiba di hadapannya. Pipi dan hidung gadis itu merah karena udara dingin. Wajah cantik Aoki yang dihiasi make up mengulas senyum lebar. “Gomen, Aihara. Aku tertidur di bis, terlewat sampai Nezu.”

Koto tersenyum geli. “Iie. Daijobu,” jawabnya lalu mereka menyeberangi jalan untuk memasuki Prada Aoyama Boutique.

Sempat ia melirik untuk terakhir kalinya pada pemuda ber-sweater kuning di tepi trotoar. Mata mereka bertemu kali ini. Cukup lama. Lalu, seakan mengejeknya yang ketahuan mencuri pandang, pemuda itu tersenyum penuh arti dan bisa Koto rasakan wajahnya memanas karena malu.

Buru-buru Koto memalingkan wajah. Baka.

(pastinya bersambung)

Author's Note : It was suddenly when I want to write something about Prada Aoyama and the title above came easily. I wrote without plot and direction so I don't know what this story will be. That's why I named it draft

No comments:

Post a Comment