(Review) BIDADARI YANG MENGEMBARA : Rumor Absurd Seputar Alit

“INI cerita yang kurangkai sendiri dari penggalan-penggalan omongan orang tentang Alit ...,” begitu ungkap narator dalam salah satu cerpen A.S. Laksana di buku Bidadari Yang Mengembara (2004).

‘Penggalan-penggalan omongan orang’ ingin saya generalisir sebagai ‘rumor’, sebuah kata serapan dari bahasa Inggris, rumour. Menurut Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English, rumour diartikan sebagai berikut:

general talk, gossip, hearsay, (statement, report, story) which cannot be verified and is of doubtful accuracy.

Saya ingin garis bawahi keterangan terakhir dari definisi di atas, bahwa rumor tidak dapat diverifikasi kebenarannya dan akurasinya diragukan. Baur dan memang seperti itu lah, saya kira, A.S. Laksana ingin mengarakterkan beberapa tulisannya. Narator dalam beberapa cerpen di buku ini diposisikan olehnya sebagai pihak kesekian yang mendengar kisah-kisah melalui pihak kesekian-pihak kesekian lain, kemudian mengisahkannya kembali kepada pembaca.

Berbeda dengan perilaku narator yang biasa hadir dalam teks-teks fiksi umum yang kerap saya temukan, narator milik A.S. Laksana sama tidak yakin-nya dengan pembaca akan akurasi kisah yang tengah ia sampaikan sendiri. Beberapa kali, sang narator mengungkapkan keraguan-keraguannya seperti tertulis dalam cerpen Bidadari Yang Mengembara : “Di hari ketiga, kudengar seribu kunang-kunang membimbingnya ke sebuah muara yang tak pernah dikunjungi orang. (Kalimat ini agak meragukan sebenarnya. Sebuah muara tak pernah dikunjungi orang, sedangkan bulan sudah diinjak-injak orang. Tapi aku hanya menuturkan apa yang kudengar.)”

Hal itu menarik karena eksistensi narator menjadi begitu kuat dengan sifat yang subyektif dan memiliki banyak peranan. Narator tidak lagi hanya sekedar menjadi perpanjangan tangan penulis untuk mengisahkan sesuatu yang sangat definitif tapi justru membaurkan kisah tersebut sambil sesekali juga mengingatkan pembaca untuk bersikap awas saat alur cerita yang dibuat oleh penulis mulai rumit. Dalam cerpen-cerpennya, A.S. Laksana membuat narator menjadi sangat aktif, bukan sebaliknya.

Kembali ke definisi rumor dan ketidakakuratan-nya, maka sah-sah saja jika lalu muncul distorsi cerita sampai tahap ekstrim yang saya nilai absurd. Bidadari Yang Mengembara kaya akan imajinasi-imajinasi liar tidak realis. Ide dan penggambaran tokoh-tokohnya tidak lagi bisa diukur dengan logika formal. Gagasan-gagasan aneh mengobsesi tokoh-tokohnya. Ada yang terobsesi dengan fantasi kematian ayahnya saat onani (Peristiwa Pagi Hari), ada yang terobsesi dengan ular di dalam kepalanya (Seekor Ular Dalam Kepala), ada juga yang terobsesi melukis kemaluan laki-laki pada setiap media gambar manapun yang ia temukan (Menggambar Ayah).

Sebelum saya membahas absurditas dan gagasan tersebut dalam Bidadari Yang Mengembara secara lebih detil, saya ingin mengklarifikasi terlebih dahulu bahwa kehadiran absurditas itu sendiri di dalam cerpen bukan sebagai akibat dari konsep rumor yang dipakai oleh penulis. Absurditas di sini berdiri sendiri. Ia dihadirkan secara sadar dan seksama terhadap gambaran-gambaran simbolis.

Dengan menghadirkan absurditas, bukan berarti A.S. Laksana mengingkari realitas. Melalui Bidadari Yang Mengembara, ia justru menggambarkan realitas dalam absurditas. Perlu diketahui bahwa imajinasi-imajinasi absurditas yang ganjil sesungguhnya adalah rangkaian provokasi literer yang bergerak di antara kebetulan yang berserakan dalam keseharian dan mimpi abadi akan dunia atau semesta yang satu dan saling terhubungkan. Lalu, apakah itu berarti A.S. Laksana ingin memprovokasi sesuatu lewat cerpen-cerpennya?

Untuk menjawab itu, mari bertolak dari ide mengenai gagasan-gagasan aneh yang mengobsesi tokoh-tokoh dalam Bidadari Yang Mengembara.

Pada cerpen Menggambar Ayah, tokoh Aku terobsesi oleh keinginannya bertemu dengan sang ayah. Sejak lahir dan sepanjang cerita, sang tokoh hanya hidup berdua dengan ibunya yang mengandung dirinya di luar nikah. Begitu kerasnya obsesi itu, di suatu hari, sang tokoh mulai menggambar sebatang penis di dinding kamarnya yang ia analogikan sebagai ayah. Ia berbincang-bincang dengan gambar itu, berguru dan belajar banyak hal. Makin hari, sang tokoh merasa semakin dekat dengan gambar itu dan ingin selalu bersama, maka ia lalu menggambar ‘ayahnya’ di setiap dinding rumah hingga tembok-tembok kota.

Saya menginterpretasikan kisah ‘Aku’ tersebut sebagai sebuah kritik terhadap isu seks bebas yang menggambarkan pemberontakan. Di sini penulis menceritakan kondisi kejiwaan tokoh Aku yang sebenarnya adalah ‘korban’ dari isu tersebut. Tokoh Aku memberontak melalui identifikasinya mengenai sosok ayah secara mandiri dan puncaknya adalah saat ia tidak lagi bisa menolerir intervensi orang luar terhadap hubungan ia dan ayahnya. Di akhir cerita, tokoh Aku bahkan mengusir ibunya dengan berkata, “Aku ingin kau menyelamatkan diri ke puncak gunung.” Entah apakah ini bisa dinilai sebagai solusi (yang belum tentu tepat) tapi saya menangkap pesan, penulis menganalogikan itu sebagai wujud hukuman bagi ia yang bersalah.

Sedikit berbeda dalam cerpen Peristiwa Pagi Hari, dikisahkan Alit (oleh narator dengan menggunakan konsep rumor), seorang remaja yang sedang gelisah atas gejolak hasrat di pagi hari. Alit mulai dewasa dan ia menjadi mudah tertarik kepada lawan jenis secara seksual. Ia menganggap hal tersebut sebagai masalah karena hasrat itu tidak bisa ia tahan. Alit ingin agar orang tuanya tahu tapi bagaimana menyampaikannya?

“... orang tua memang sering tidak berguna, dan harus digambarkan seperti itu ...,” begitu lah kata narator menggambarkan perasaan Alit sambil bercerita bagaimana Alit memfantasikan kematian ayahnya saat ia bersenggama sendiri untuk memicu orgasme. Lagi-lagi, fantasi tersebut adalah bentuk protes dan bahkan pemberontakan (walau tidak berdampak pada tokoh lain secara nyata) terhadap sosok orang tua, kali ini ayah. Jelas sekali diungkapkan dalam kalimat-kalimat berikut :

“Tapi ayahnya bukan orang tua yang suka menunjukkan perhatian kepada anaknya, karena itu Alit melakukan onani sembari membayangkan kematian mendekati ayahnya, semula dalam wujud makhluk bersayap warna putih, lalu ia ubah makhluk itu menjadi loreng dan mukanya dilumuri warna peperangan. Ia juga kemudian sering membayangkan, ketika melakukan onani, orang tua itu sekarat tanpa menghadapi malaikat berbentuk apa pun sehingga nyawanya lepas dengan sendirinya dan tak tahu mana tempat yang harus dikunjungi oleh orang-orang yang sudah mati.”

Memang, tidak hanya sekali dua kali A.S. Laksana mengangkat tema hubungan anak dan orang tua. Selain tema cinta dalam beberapa cerpen lain yang juga diangkat, saya kira, hubungan orang tua – anak mendominasi dan menjadi tema utama dalam buku Bidadari Yang Mengembara. Hal ini juga terlihat dari repetisi pemakaian ‘Alit’ untuk nama tokoh yang dalam bahasa Jawa (secara literal) berarti ‘kecil’. Atau lebih luas lagi, bisa dipahami sebagai simbol dari seorang ‘anak’. Kisah-kisah ekstrim mengenai Alit, seakan ingin mewakili berbagai isu masalah anak atau remaja dalam tataran kejiwaan, dihubungkan dengan tanggung jawab orang tua yang (mungkin) menyebabkan timbulnya masalah tersebut dan seharusnya mampu menangani serta menjadi solusi bagi sang anak.

Tentu, kisah hubungan orang tua – anak ini tidak melulu bernada negatif. Dalam cerpen Telepon Dari Ibu, misalnya, isu tersebut justru diangkat secara positif. “Pada saatnya nanti, ia akan bisa menceritakan kepada anaknya tentang neneknya – sebuah akar dari mana pohon keluarga mendapatkan kekuatannya,” begitu bunyi pesan moral yang disampaikan A.S. Laksana dalam cerpen itu.

No comments:

Post a Comment