(Review) Cinta Yang Melahirkan Jejak

Resensi untuk Monet (KISS)oleh Zabidy Ibnoe Say
dari Perkosakata 2008

Secara keseluruhan sebagai sebuah karya prosa, Monet cukup menarik, menyentuh juga menggelitik. Pembacapun langsung dibawa dalam diskripsi ruang sebuah galery Tate Modern di Thames, London. Cerita kemudian bergulir dari lantai satu ke lantai berikutnya, dari ruang pamer satu ke ruang pamer lainnya, seiring dengan dialog dua tokohnya. Kedua tokohnyapun tak bernama hanya memakai kata aku (orang pertama) dan Kau/kamu (orang kedua).

Meski kita tak menemukan perangkat atau idiom yang berhubungan langsung dengan maut, misalnya percikan darah, wajah kebiruan, rintihan, jeritan, yang secara jelas menggambarkan maut. Membaca “Monet” tetap menorehkan kesan sebuah drama tragedi percintaan, yaitu kematian salah satu tokohnya.

Di sini kematian seakan ingin didiskripsikan secara wajar, manusiawi namun tetap indah. Bahwa setiap manusia ingin meninggalkan jejak dalam hidupnya. Nah, seberapa kuat hal itu dapat ditangkap oleh pikiran dan perasaan pembaca, semuanya tergantung bagaimana seorang penulis menyajikannya. Tema yang lekat dengan diksi (pilihan kata yang selaras dan seimbang) dan metafora serta simbol-simbol lainnya. Maka diharapkan bangunan cerita akan menjadi kokoh, utuh, padat dan berjiwa.

Akhirnya, sejauh mana pencapaian itu diperoleh, saya serahkan kepada pembaca untuk masuk dan menyelaminya sendiri. Selamat menikmati.

Salam sastra

No comments:

Post a Comment