Cik Nur


SAYA tidak habis pikir. Mengapa orang-orang bisa mempercayai rumor, bahwa penjaga kedai es di pojokan stasiun dekat kampus saya nyaris menjadi istri pejabat? Tidak tanggung-tanggung, pejabat yang dimaksud adalah bapak X (tidak boleh saya sebutkan namanya di sini, tentu saja) yang kini mengepalai Dinas Y (juga tidak boleh saya sebutkan nama lembaga tersebut) dan kabarnya menjadi kandidat kuat gubernur Jakarta pada Pilkada tahun depan.

“Sampeyan tidak percaya?”

Cik Nur bercerita sambil menyerut es batu. Para pelanggannya duduk berdesak-desakan di dalam kedai. Mata mereka menatap perempuan itu penuh antusias, telinga mendengar dengan awas, sementara tangan dan mulut sibuk menyeruput es cincau masing-masing. “Memang terdengarnya seperti bohongan, tetapi benar ini. Saya ini nyaris jadi istri pejabat!”

Saya tertawa geli di pojok ruangan pengap. Tidak terdengar, kalah oleh gemuruh suara kereta listrik yang memasuki stasiun. Salah seorang pelanggan berteriak, “Kalau tidak salah, bapak pejabat itu kemarin masuk TV, Cik.”

“Apa iya? Berita?”

“Didemo. Biasa, mahasiswa.”

Cik Nur beralih menatap ke arah saya. Suasana sudah kembali lebih tenang sekarang. Di luar kedai, orang-orang sibuk berebut keluar dan masuk gerbong kumuh. Riuh ditemani suara para penjaja kaki lima dan musik-musik dari sejumlah radio murahan yang saling beradu.

“Kamu ini dan teman-temanmu demo terus, Ju,” kata Cik Nur. Dia berhenti menyerut es. Tangannya cekatan menyiramkan sirup merah ke atas gunungan cincau berwadah mangkuk putih di hadapannya.

“Biar ramai sedikit, Cik. Akhir-akhir ini kegiatan kampus sepi.” Saya menjawab.

Cik Nur menghampiri saya. Dia menyodorkan semangkuk es cincau. “Biarpun didemo, tidak ada yang berubah. Daripada ribut, lebih baik kamu sampaikan pesan. Bilang padanya, Cik Nur mencari,” katanya sambil tertawa. Saya balas tertawa, sedikit sinis, tetapi tidak menyanggah.

Seorang pelanggan menyeletuk, “Cik, cerita lagi! Waktu sampeyan bertemu bapak pejabat itu di desa.” Yang lain menimpali setuju, penuh antusias. Saya lirik, mangkuk-mangkuk mereka sudah kosong. Es cincau mereka sudah tandas tapi tampaknya mereka masih betah berlama-lama di dalam kedai kecil ini. Agak konyol karena sebenarnya udara di dalam ruangan sangat panas dan cahaya yang masuk hanya seadanya. Ditambah Lalat-lalat yang beredar dari satu meja ke meja lain, yang meski kerap diburu oleh Cik Nur dengan raket berarus listrik tanpa lelah, tidak ada habisnya.

“Kalau tidak salah, usia saya waktu itu masih enam belas tahun.”

“Sekarang berapa?”

“Tiga puluh dua, kalau tidak salah.”

“Lalu?”

“Lalu.”

Saya hapal cerita ini. Luar kepala. Konon, Cik Nur bertemu pejabat itu saat dia berusia enam belas tahun di desa asalnya di Jawa Timur, Porong. Waktu itu, si pejabat yang dirumorkan sedang bertugas di desa tersebut, masih muda dan belum memiliki kedudukan tinggi. Mereka bertemu di Kantor Kecamatan. Tepatnya, di Kantin Protes Lapindo Brantas yang terletak di belakang kantor (ya, nama ini memang sangat ganjil jika mengingat korelasi waktu yang tidak tepat dan sesungguhnya Cik Nur kerap mengganti nama kantin tersebut setiap kali dia bercerita, tetapi nama ini-lah yang paling sering dia gunakan, mungkin, karena nama ini dirasanya sangat aktual).

“Sampeyan kerja di kantin?” Seorang pelanggan menyela.

“Dagang cincau.”

Cik Nur berdagang cincau di kantin tersebut. Enam hari dalam satu minggu. Sore hari selesai jam kerja, menurut cerita, si pejabat kerap mampir membeli es dagangannya. Semula tidak terlalu sering, hanya satu atau dua kali dalam satu minggu, tetapi lama-kelamaan, lelaki itu menjadi rutin berkunjung setiap hari.

“Dulu saya banyak yang naksir, Mas,” aku Cik Nur, “termasuk bapak pejabat itu.”

“Sampeyan naksir juga?”

Wajah Cik Nur bersemu merah. Malu-malu dia menjawab, “Ya pastinya. Siapa yang tidak mau dengan orang kota?”

Lha ... lalu kok batal jadi istri pejabat?”

“Oh, begini ceritanya ...“

Nah, ini bagian paling menarik (dan juga klise). Konon, kedua orang tua Cik Nur adalah keturunan santri Sidoarjo. Lebih dari tujuh generasi. Mereka memiliki tradisi menjaga kemurnian darah Jawa mereka dan rupanya bapak X ini bukan berdarah Jawa, apalagi keturunan santri. Fakta bahwa lelaki itu berasal dari Ibu Kota dan menjabat di Kantor Kecamatan tidak lantas membuat orang tua Cik Nur goyah. Mereka justru semakin tidak rela melepas anak semata wayang mereka. Orang Jakarta membawa pengaruh buruk pada tradisi santri, kata mereka, dan pejabat suka makan uang haram. Maka hubungan yang katanya sempat terjalin selama satu tahun itu tidak dapat diteruskan. Lalu si pejabat kembali ke Ibu Kota dengan hati hancur.

“Akhirnya saya nikah dengan santri Sidoarjo. Belum ada setahun, saya ditinggal pergi. Ujung-ujungnya, saya merantau juga ke Jakarta.”

“Malang benar nasib sampeyan!”

“Begitulah.”

Saya kembali tertawa. Buat saya, para pelanggan yang terperdaya oleh cerita Cik Nur jauh lebih malang lagi. Saya kasihan sekaligus heran, bagaimana mungkin mereka bisa mempercayai itu semua? Kalau saja mereka mau lebih teliti, mereka akan tahu bahwa cerita Cik Nur itu tidak benar.

Nama Kantin Protes Lapindo Brantas itu, misalnya. Mereka perlu tahu bahwa enam belas tahun yang lalu, perusahaan Lapindo Brantas belum terbentuk. Bisa saja, memang, Cik Nur sengaja mengganti nama kantin itu untuk membumbui kisahnya. Tapi mereka perlu tahu juga, walaupun benar bahwa bapak X pernah dinas di Sidoarjo, pejabat itu ditugaskan di desa itu empat belas tahun yang lalu. Bukan enam belas tahun yang lalu seperti keterangan Cik Nur. Nah!

“Cerita sampeyan ini, Cik, kalau dijual ke tabloid, pasti bikin geger!”

“Apa iya?”

“Bener!”

“Ah, tapi saya malah tidak mau bikin geger.”

“Lho! Kenapa?”

Kadang, saya berpikir bahwa sebenarnya para pelanggan itu tidak sebodoh yang saya kira. Mungkin mereka bukannya terperdaya oleh cerita Cik Nur, melainkan, sengaja membiarkan diri mereka terperdaya. Bagi orang susah macam mereka yang sehari-hari mencari uang dengan mengojek motor atau berjualan tahu di stasiun kereta, cerita Cik Nur bisa menjadi hiburan menarik yang murah, hanya modal dua ribu perak untuk membayar semangkuk es cincau. Apalagi pakai bawa-bawa nama pejabat. Zaman sekarang, siapa yang tidak suka mendengar berita miring seputar pejabat?

“Cik, saya dengar di berita, bapak pejabat itu juga korupsi saat masih menjabat di Sidoarjo.”

“Oh, ya. Kasus lama itu,” tanggap Cik Nur seraya sedikit berbisik. “Saya saksinya saat dia terima amplop. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Saya malas urusan dengan polisi.”

Saya mengerutkan alis saat mendengar ucapan Cik Nur, sedikit terkejut. Belum pernah sekali pun Cik Nur mengungkapkan itu dalam cerita-ceritanya. Sempat saya berharap apa yang dia katakan barusan adalah benar, tetapi itu tidak mungkin. Cepat, saya habiskan es di hadapan saya lalu beranjak dari tempat duduk untuk meninggalkan kedai.

“Sudah mau pergi, Ju?”

“Panggilan, Cik. Besok ada demo,” jawab saya seraya menghampiri Cik Nur. “Berapa, Cik? Sekalian dengan yang kemarin-kemarin.”

Cik Nur membuka notes kecil yang selalu dia bawa. Diperiksanya catatan hutang saya lalu mulai menghitung. “Empat kali dua ... delapan ribu, Ju.”

Saya memberikan satu lembar dua puluh ribuan dan Cik Nur mengembalikan sebelas ribu rupiah kepada saya. Perempuan itu salah menghitung lagi tapi tak apa lah. Saya sedang buru-buru.

“Besok datang lagi ya, Ju!”

Saya mengangguk tapi tidak datang keesokan harinya, juga lusa dan esoknya lagi. Baru setelah satu minggu capai berdemo, saya merindukan es cincau buatan Cik Nur yang segar. Saya mampir sepulang kuliah ke kedai kecil di pojokan stasiun itu tapi tidak menemukan Cik Nur di sana. Kedainya masih ada dan masih menjual es cincau khas Jawa Timur.

“Cik Nur pulang kampung, Dik,” kata lelaki yang kini menjaga kedai itu. “Saya adiknya. Sementara, saya yang menggantikan.”

Saya tidak banyak komentar. Hanya mengangguk sembari mengambil posisi duduk di pojok kedai seperti biasa.

“Cak Lis nama lelaki itu,” bisik seorang pelanggan yang duduk di samping saya tiba-tiba. Matanya melirik penuh curiga pada Cak Lis. “Sementara kamu sibuk demo, Cik Nur diculik, Ju.”

Hah?

Pelanggan itu menggeser duduknya ke arah saya agar posisi kami semakin rapat. Suaranya bertambah kecil. “Beberapa hari sebelum Cik Nur menghilang, dua orang yang mencurigakan datang ke kedai ini untuk membeli es cincau.”

Saya ikut berbisik, “Mencurigakan bagaimana?”

“Mereka berkata, ingin mendengar cerita Cik Nur yang nyaris menjadi istri pejabat.”

“Apa anehnya? Sejak dulu memang banyak orang datang ke kedai ini karena ingin mendengar cerita Cik Nur,” balas saya.

“Mereka pasti preman kiriman pejabat itu.”

“Bagaimana Bapak bisa tahu?”

“Cik Nur tidak punya adik.”

Pembicaraan kami berhenti saat Cak Lis mengantarkan semangkuk es cincau untuk saya. Pelanggan yang barusan menegur saya beranjak dari tempat duduknya. Dia membayar es yang dia minum lalu buru-buru melangkah keluar kedai dan menyusuri selasar stasiun. Saya perhatikan, gerak-geriknya seperti orang yang ketakutan karena dikejar-kejar.

Sempat saya menertawakan pembicaraan konyol barusan di dalam hati, tetapi lalu saya lihat di tengah keramaian, pelanggan tadi dihadang beberapa orang bertubuh tegap. Orang-orang itu, rasa-rasanya, bukan preman setempat yang biasa nongkrong di stasiun ini. Entah apa yang mereka bicarakan tapi kemudian pelanggan tadi diseret masuk ke dalam toilet.

Kedua mata saya terbelalak.

Yang benar saja! Apa yang barusan terjadi?

Saya beralih melirik Cak Lis. Memang, seingat saya, Cik Nur pernah berkata bahwa dia adalah anak tunggal. Lalu siapa lelaki ini? Sulit bagi saya untuk percaya bahwa semua yang Cik Nur katakan dulu benar dan perempuan itu memang diculik oleh preman-preman kiriman bapak pejabat X. Tapi lalu saya ingat sesuatu.

Cik Nur selalu salah menghitung.


Jakarta, 11 Februari 2008
untuk Kinu Triatmodjo

No comments:

Post a Comment