Koto dan Setumpuk Kartu Tahun Baru (ver 5.0)


Aku menggunakan garpu makan berujung tumpul.

Kurobek nadi di pergelangan tanganku, cepat dan tanpa pikir panjang. Darah memercik, merintik-rintik seperti hamburan butir-butir salju pada akhir Desember, membasahi baju tidur bercorak bunga matahari yang kukenakan, mengotori lantai tatami di bawah kakiku, dan berkubang di sana.

Garpu makan itu kukembalikan ke tempatnya semula, bersama nasi kare yang tidak kuhabiskan, piring bundar tanpa gambar, dan sendok pasangannya yang tergeletak di pojok kamar. Dari sudut yang sama aku menarik kursi ke samping jendela, lalu duduk di atasnya seraya menyandarkan wajah pada permukaan kaca yang sedingin es.
Ada setumpuk kartu tahun baru di pangkuanku, setiap lembarnya terlihat usang. Kuambil satu dan kubaca isinya dalam diam:

Selamat Tahun Baru!
Mari berlibur bersama lagi pada musim panas berikutnya.

Permukaan kartu itu bergambar kembang api dengan latar belakang langit malam yang biru, dilukis menggunakan cat air dengan detail yang rapi. Aku sangat menyukai kartu tahun baru itu. Seorang teman di sekolah yang mengirimkannya tapi aku lupa siapa. Nama pengirimnya sudah tertutup oleh bercak darah yang mengering dan berubah warna menjadi cokelat.

Kuletakkan kartu itu di bibir jendela membelakangi langit berkabut di luar ruangan, kemudian aku memeriksa kartu-kartu yang lain satu persatu. Beberapa yang kusukai kupisahkan dari tumpukan dan kupajang seperti kartu bergambar kembang api tadi. Kukumpulkan sisanya yang berserakan di pangkuanku dan di lantai, kusatukan, kuikat dengan sehelai pita putih, kemudian kusimpan kembali ke dalam kotak sepatu di bawah tempat tidur, di mana selalu kusembunyikan semua barang berharga milikku.

Kini aku duduk menghadap jendela, memandangi kartu-kartu kesukaanku seperti yang sudah-sudah, menunggu waktu yang melangkah tertatih.

Lambat sekali.

Ah.


Aku ingin mati saja.


“Apa kartu-kartu ini tidak salah kirim?”

Petugas pos itu berdiri di luar pagar kayu rumah kami, di sebelah sepeda tua miliknya; berseragam biru, bertopi, dan berjaket tebal. Pada saat saya bertanya tadi, dia hanya tersenyum dan membiarkan saya memeriksa sendiri tumpukan kartu tahun baru di tangan saya. Kartu-kartu itu ditujukan untuk adik saya, Koto, karenanya dahi saya berkerut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali petugas pos mengantarkan kartu tahun baru untuk Koto, bertahun-tahun yang lalu, sebelum Koto berhenti sekolah dan mengurung diri di kamar.

“Bagaimana kabar Koto?”

Saya memerhatikan petugas pos itu dan baru menyadari ini kali pertama saya melihatnya. Dia bukan petugas yang biasa mengantarkan surat dari kantor pos, dia juga bukan salah satu warga yang tinggal di lingkungan kami, tetapi petugas itu bertanya seolah-olah dia mengenal dan mengetahui kondisi Koto.

“Kamu kenal Koto?”

Petugas pos itu mengangguk. Dia melepas topi yang dikenakannya. “Mungkin Koto tidak mengingat saya,” katanya, “tapi dulu kami berada di kelas yang sama,” kemudian dia menyebutkan namanya: Yuji.

Ada jeda yang cukup panjang setelah itu. Saya terbawa perasaan sentimentil yang tiba-tiba saja muncul, lalu hanyut dalam nostalgia pahit. Di sekeliling saya, salju pertama tahun ini turun memenuhi udara pagi.

Dingin.

Udara awal tahun membuatku menggigil pada saat matahari menghilang di balik deretan rumah bertingkat dua yang hampir seragam. Lampu-lampu di dalam rumah-rumah itu menyala satu persatu, begitu juga lampu-lampu yang berbaris di pinggir jalan. Orang-orang dewasa yang baru pulang bekerja melangkah dengan tergesa-gesa, anak-anak berlarian meninggalkan tempat bermain mereka, sementara aku memanyunkan mulut. Saat ini aku berjongkok di depan rumah, basah kuyub. Kakak belum pulang dan kunci yang biasa kubawa hilang bersama sebagian isi tasku.

Bukan salahku kunci itu hilang.

Apa yang harus kukatakan kepada kakak?


Koto berkata, “Aku terjatuh dan hampir hanyut di sungai belakang sekolah.”
Saya masih ingat, pada suatu sore di awal tahun, Koto pulang dengan tubuh basah kuyub. Seragamnya penuh lumpur dan dia kehilangan sebelah sepatunya. Dia juga kehilangan sebagian isi tasnya, beberapa buku dan alat tulis, serta satu set kunci rumah yang saya berikan kepadanya.

“Tidak bisakah kamu berhati-hati?”

Waktu itu saya memarahi Koto karena saya terpaksa harus membelikannya sepasang sepatu baru, padahal kami tidak punya banyak uang. Kedua orangtua kami sudah tidak ada, meninggalkan kami yang belum selesai sekolah dan rumah kecil yang cicilannya belum lunas. Koto kelihatan menyesal dan hampir menangis; matanya berkaca-kaca, hidungnya juga basah, dan dia tidak berkata apa-apa untuk membantah. Saya yakin betul, dia pasti jera.

Akan tetapi, selang beberapa hari kemudian dia kehilangan jam tangannya.

“Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tapi sepertinya seseorang menjambretku di kereta,” kata Koto.

“Kenapa kamu ceroboh sekali sih? Jam itu pemberian ayah kan?”

Koto tidak menjawab, sama seperti sebelumnya, tapi kali kedua itu dia menangis, sehingga omelan panjang yang sudah saya siapkan untuk anak itu terpaksa saya telan kembali.

Seolah berpola, kejadian serupa terus berulang setelah itu. Pernah satu kali Koto kehilangan buku sketsanya. Dia bilang anjing penjaga sekolah merebut dan membawa pergi buku itu. Dia mencoba mengejar anjing itu tapi buku sketsanya tidak bisa diselamatkan. Lain waktu dia kehilangan seragam olahraganya dan berdalih pakaian itu diterbangkan angin saat sedang dijemur di atap sekolah. Dia mengaku sudah mencari ke mana-mana tapi setelan kaos dan celana itu tidak ditemukan juga. Barang yang paling sering Koto hilangkan adalah kotak bekalnya. Alasan yang dia kemukakan bermacam-macam: kotak itu tertinggal di kelas, terbawa oleh teman saat mereka saling bertukar bekal, atau dia berikan kepada anak penjaga sekolah karena kasihan. Bahkan dia pernah bersikeras sudah membawa pulang peralatan makannya, padahal belum, dan malah mengatai saya pikun. “Kalau tidak percaya, ya sudah! Cuma kotak begitu saja, aku bisa ganti dengan uang jajanku,” begitu racaunya.

Kebiasaan baru Koto menghilangkan barang lama-kelamaan membuat saya kesal. Saya tahu Koto mengada-ada seperti remaja-remaja seusianya yang suka memberontak dan mencari perhatian dengan berbagai macam cara, termasuk saat dia meminta uang sakunya dinaikkan dua kali lipat.

“Apakah uang sakumu selama ini tidak cukup?”

“Banyak yang harus kubeli.”

“Apa yang harus kamu beli?”

Koto tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak sambil menghindari tatapan mata saya, kemudian berkata dengan ragu-ragu, “Banyak sekali. Tidak bisa kusebutkan satu-satu. Pokoknya semua itu kebutuhan sekolah.”

Lagi-lagi dia mengada-ada. Semua kebutuhan sekolahnya sudah saya siapkan: seragam, buku teks, alat tulis, les tambahan, studi wisata; semua. Karena itu, tidak saya berikan apa yang dia minta dan ekspresi yang muncul pada wajah Koto kemudian bukanlah kesal, kecewa, atau ekspresi remaja yang gagal mendapat uang tambahan untuk –misalnya– membeli aksesoris rambut yang sedang tren.

Koto terlihat bingung dan takut.

Ada yang mengganjal di hati saya kala saya melihat ekspresi Koto tersebut dan rupanya itu bukan firasat belaka. Beberapa hari kemudian pihak sekolah menghubungi saya, memberitahu bahwa Koto belum menyerahkan uang iuran studi wisata yang sesungguhnya sudah saya berikan kepadanya sejak lama. Malamnya kami bertengkar hebat karena masalah ini. Saya marah besar, sementara Koto menangis meraung-raung dan tidak mau memberitahu untuk apa uang tersebut dia pergunakan.

Dia menjadi malas-malasan ke sekolah setelah kejadian itu. Awalnya dia berpura-pura sakit. Dalam seminggu, dia tidak masuk sekolah tiga sampai empat kali banyaknya. Senin dia bilang kepalanya pusing, mungkin dia anemia. Rabu dia sakit perut karena malam sebelumnya –akunya– dia salah makan. Kamis dia dehidrasi lantaran Rabu dia bolak-balik buang air. Dan begitu seterusnya selama beberapa minggu sampai kesabaran saya habis.

Saya paksa Koto kembali pergi ke sekolah. Di luar dugaan, dia menolak dengan keras. Dia kembali meraung-raung. “Aku tidak mau sekolah! Aku tidak mau sekolah!” teriaknya, tetapi tidak saya gubris dan, setelah saya ancam dengan sedikit bentakan, keesokan paginya Koto berangkat sekolah. Langkahnya berat saat meninggalkan rumah. Matanya menatap saya dengan sorot penuh kemarahan seolah-olah saya sudah melakukan kejahatan besar terhadap dirinya.

Aku benci kakak!

Aku capai menangis sampai air mataku kering dan suaraku habis, tetapi kakak tidak mengerti juga. Sudah kukatakan aku tidak ingin pergi ke sekolah, tetapi dia malah membentakku. Hari ini dia membuang selimutku dan menyeretku ke kamar mandi. Aku sempat meronta tapi badanku lebih kecil dari badan kakak. Sudah pasti aku kalah tenaga dan gara-gara itu kakiku terantuk daun pintu, betisku lebam dan nyeri.
Tidak kusentuh sarapanku sebagai balasannya. Bekal makan siangku juga kubiarkan tertinggal di rumah. Biar saja nasi kepal itu basi! Aku tidak mau makan apapun yang dibuat oleh kakak. Kupelototi dia saat aku berangkat tadi dan aku tidak menyesali sikapku. Untuk apa menyesal? Aku mengalami kesialan yang sama di sekolah hari ini seperti hari-hari sebelumnya.

Kali ini gara-gara kakak!

Dia tidak mengerti!


Sikap Koto semakin sulit untuk saya pahami. Dia berubah susah diatur. Adik saya itu sepenuh hati melakoni perannya sebagai remaja-remaja seusianya yang suka memberontak dan mencari perhatian, seolah-olah dia sedang melancarkan serangan balasan kepada saya. Atas dasar apa dia melakukan itu, saya tidak tahu.

Saya sibuk bertanya-tanya sendiri sampai pada satu saat saya teringat bahwa Koto memiliki buku harian. Sejak lancar menulis hiragana, dia rajin membuat jurnal. Saya mencari buku harian tersebut –atau tulisan-tulisan lain yang serupa– secara diam-diam. Buku itu saya temukan di dalam kotak sepatu miliknya yang dia sembunyikan di bawah tempat tidur.

Di salah satu halaman dia menulis: Kenapa senpai-senpai melakukan semua ini?

Saya membaca halaman-halaman selanjutnya. Koto menulis: Bagaimana agar mereka berhenti menggangguku? Saya membaca ini juga: Mungkin aku harus pura-pura sakit agar tidak perlu datang ke sekolah. Mungkin aku harus berhenti sekolah. Aku benci senpai-senpai. Pada halaman berikutnya dia menulis: Aku benci kakak. Dia tidak mengerti.
Dan yang terakhir Koto tulis adalah:

Aku ingin mati saja.


Kami duduk di beranda, saya dan Yuji, ditemani satu kotak kue mochi dan dua cangkir ocha hangat di hadapan kami. Wajah Yuji tertunduk. Petugas pos itu menatap kepulan uap panas dari cangkir miliknya. Ekspresinya sendu.

Dia berkata, “Di sekolah, tidak perlu melakukan kesalahan untuk dikurung di dalam WC. Tidak perlu punya alasan untuk menenggelamkan temanmu di sungai. Itu yang terjadi.”

“Para guru?”

“Guru tahu tapi diam saja,” Yuji berhenti sebentar, kemudian menambahkan, “Saya juga diam.” Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan suara pelan yang menyiratkan penyesalan.

Saya menanggapi Yuji hanya dengan seulas senyum pahit. Saya tidak ingin menyalahkannya. Siapa pun bisa menjadi penakut saat berhadapan dengan senpai-senpai mereka di sekolah. Mau bagaimana lagi? Mereka bisa bernasib sama jika berani mencoba menjadi pahlawan.

“Saya membaca di internet tentang siswi bernama Komori,” kata Yuji lagi setelah hening yang cukup lama.

Kasumi Komori. Saya juga membaca kisahnya. Dulu sekali. Di banyak surat kabar. Apa yang dialami olehnya mirip dengan apa yang dialami oleh Koto.

Saya jadi kembali teringat, pada hari yang sama dengan hari saat saya mencuri baca buku harian Koto, adik saya itu membawa pulang luka-luka di lutut, siku, dan keningnya. Saya segera menghambur memeluknya begitu dia memasuki rumah, masih sambil memegang buku harian tersebut. Saya tidak tahu apakah luka-luka itu adalah akibat Koto dikerjai teman-temannya di sekolah atau hasil usahanya bunuh diri seperti yang saya takutkan. Yang jelas, pada hari berikutnya, saya tidak berani memaksa Koto berangkat ke sekolah.

“Itu kamar Koto.”

Saya menunjuk sebuah pintu berwarna pastel di ujung selasar rumah kami, memberitahu Yuji. “Dua tahun Koto mengurung diri di dalam sana, duduk di tepi jendela sepanjang waktu, sambil membaca tumpukan kartu pos lama,” kata saya.

Lambat laun Koto berubah seolah dirinya mengalami gangguan psikologis.

Itu tidak saya katakan.

“Saya takut apa yang menimpa Komori akan menimpa Koto juga, karenanya saya dan teman-teman di sekolah mengumpulkan kartu tahun baru. Kami berharap kartu-kartu itu bisa menyemangati Koto agar kembali ke sekolah.” Yuji memberi penjelasan.

Saya kembali tersenyum. Kartu-kartu yang dimaksud oleh Yuji masih berada di tangan saya. Saya lepaskan pita yang mengikatnya. Saya baca kartu-kartu itu satu persatu. Pesan-pesan yang tertulis di permukaannya menghangatkan dada dan senyuman di bibir saya mengembang karena itu.

Kamar Koto sudah lama kosong.

Itu juga tidak saya katakan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Yuji dan berkata akan meletakkan kartu-kartu itu di depan pintu kamar Koto agar pada saat dia keluar dari ruangan itu, untuk pergi ke ruang makan atau ke kamar mandi, dia akan menemukan dan membacanya. Saya juga berkata kepada Yuji, Koto pasti akan segera kembali ke sekolah, lalu kami menghabiskan ocha dalam cangkir kami masing-masing dan salju turun semakin lebat.

No comments:

Post a Comment