Million Dollar Baby

Setiap ada kesempatan, Mas Yusi selalu bertanya kepada saya: mengapa saya tidak menulis novel dengan latar belakang dunia arsitektur. Saya katakan saja: walau saya arsitek, bukan berarti saya harus menulis novel tentang arsitek. Padahal, itu hanya dalih karena sesungguhnya saya tidak punya gambaran sedikit pun mengenai apa yang harus ditulis. Tema tersebut memang sangat dekat dengan kehidupan saya, tetapi saya tidak melihat ada hal menarik di sana yang bisa saya ceritakan dalam bentuk novel.

Sekitar dua tahun yang lalu, saya membaca Million Dollar Baby, kumpulan cerpen karya F.X. Toole. Seluruh kisah di dalamnya bertemakan tinju. Sang penulis memang seorang mantan pelatih tinju dan cutman. Yang menarik perhatian saya pada awal pembacaan adalah cerpen-cerpen Toole tidak hanya menampilkan petinju, tetapi juga cutman dan pelatih, dan sosok-sosok itu diceritakan dengan sudut pandang yang sangat intim -sesuatu yang memang hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar tahu dunia tinju.

Konflik yang dihadirkan sangat membuka wawasan. Sebelum membaca Millon Dollar Baby, saya tidak menyukai tinju -sama sekali. Saya heran mengapa manusia bisa bersorak menyaksikan dua manusia lain adu jotos. Barbar! Setelah membaca cerpen pertama, cara pandang saya langsung berbalik. Mendadak saya ingin tahu lebih banyak mengenai dunia tinju dan simpati kepada orang-orang di dalamnya. Bahkan, ada sedikit rasa kagum. Sungguh, itu pengalaman yang mengherankan dan barangkali begitulah afeksi sebuah karya cemerlang.

Tentunya kisah yang menarik dapat tersampaikan dengan baik jika ditulis dengan baik pula. F.X. Toole punya cara berkisah yang bikin iri. Barangkali tanpa sadar saya menirunya karena suara tulisannya memengaruhi suara tulisan saya dalam Metropolis. Selain itu, buku ini diterjemahkan dengan sangat baik oleh Banana. Rasanya seperti membaca tulisan F.X. Toole yang dapat berbahasa Indonesia dengan baik (terima kasih, Mas Yusi).

Buku ini pun lantas menjadi inspirasi. Saya menjadi tahu apa yang bisa saya kisahkan mengenai dunia saya. Ternyata banyak sekali hal menarik dalam arsitektur. Selama ini saya tidak dapat melihatnya. Berkat buku ini, kini saya sedang menulis novel ketiga dan itu mengambil tema arsitektur.


*note: this post is part of 30 Days of MEME.

No comments:

Post a Comment