Ballerina, Donald, and Daisy

Orang percaya bahwa apa yang kita sukai ketika hamil sesungguhnya adalah apa yang anak kita sukai kelak. Ada yang tiba-tiba saja harus makan telur asin setiap pagi padahal sebelumnya dia sama sekali tidak suka, itu semenjak dia hamil. Ketika si bayi dilahirkan, lalu tumbuh besar, anak itu menjelma penyuka telur asin. Dan, masih banyak cerita serupa yang menjadi bukti empiris teori di atas.

Yang akan saya ceritakan ini juga bukti empiris.

Ketika perut saya besar, kecintaan saya kepada buku teks menguap begitu saja. Saya lebih suka membaca buku cerita bergambar yang jauh lebih ringan dan tidak menambah mual harian. Secara spesifik, saya mendadak menggemari majalah Donal Bebek langganan Gendut dan tiada hari tanpa Donal, Kwik-Kwek-Kwak, Desi, juga Gober.

Maka, ketika Balerina sudah lancar merangkak dan keterampilan tangannya meningkat pesat (menjamah, meremas, menyobek) serta memasuki fase oral (mengunyah apa pun yang dia temukan), majalah-majalah milik ayahnya menjadi korban. Kami mempunyai kotak majalah di sisi tempat tidur. Ada Rumah Ide di sana, pun Mother & Baby, buku-buku dongeng Erlangga, Manjali dan Cakrabirawa, Kompas, Donal Bebek, dan lain-lain. Balerina senang mengambil sesuatu dari kotak itu, namun Donal Bebek adalah pilihan utamanya. Ya, dia menyingkirkan yang lain, membuangkan ke lantai jika apa yang diraih oleh tangannya bukan Donal Bebek.

Barangkali kebetulan saja, mungkin itu disebabkan Donal Bebek penuh warna.

Beberapa waktu lalu kami mengajak Balerina ke Depok Town Square, Mall padat yang mirip ITC, yang saya datangi hanya karena di sana ada toko penjual keperluan scrapbook. Ketika melewati penjual boneka, Balerina tampak senang. Jelas sekali, dia menginginkan sesuatu. Ada boneka Donal dan Desi di sana. Saya ambilkan Desi untuk Balerina, karena boneka Donal terlalu besar ukurannya sementara Desi hanya setinggi dua puluh lima centi.

Balerina tertawa geli ketika dihadapkan dengan Desi. Saya coba tawarkan boneka lain, seperti kucing, teddy bear, ulat, dan lain-lain, namun Balerina tidak suka. Saya sodorkan kembali Desi dan dia kembali tertawa. Maka, kami belikan dia Desi Bebek yang kemudian bulu matanya habis digerogoti.

Lihat, tidakkah keduanya mirip sekali? Seperti saudara kembar.




*note: this post is part of 30 Days of MEME.

1 comment:

  1. Jadi ini balerina waktu masih belum bisa memangkas pendek poninya? Hihihi lucunyaaa

    ReplyDelete