Meet Lana


Lana bekerja untuk National Geographic. Hampir seluruh waktunya dipakai untuk traveling dan berburu foto. Dia jarang berada di satu tempat untuk waktu yang lama. Dia perempuan mandiri yang membiarkan sepasang Ecco membawa dirinya pergi ke belahan dunia mana pun. 

Oke, sebelum saya melantur lebih jauh lagi mengenai Lana, perlu diketahui, ini berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya. Ya, racauan seputar Erod Matin. Pada akhirnya saya memutuskan bahwa buku kelima saya akan bercerita mengenai fotografer itu. Alasannya sepele. Saat ini ada luapan perasaan dalam diri saya yang sayang jika disia-siakan. Sebelum emosi ini memudar, saya akan memanfaatkannya.

Sosok Lana ini lahir ketika saya bertanya kepada seorang teman, "Perempuan seperti apa yang bisa memenangkan hati seorang Erod Matin?" Dan, teman saya itu, yang sesungguhnya adalah role model Erod Matin, menjawab, "Erod perfeksionis. Kalau perempuan itu tidak sempurna dan tidak sebanding dengan dirinya sendiri, dia hanya akan disukai secara parsial dan dengan cepat ditinggalkan." Well, saya setuju.

Maka, saya mulai mencari sosok seperti yang kami bicarakan itu. Dan, tiba-tiba Lana datang. Saat ini wujudnya belum solid dan utuh, tetapi saya sudah memiliki sedikit gambaran.

Lana akan menjadi perempuan yang cantik, cerdas, feminin, dewasa, dan tidak mudah (atau barangkali mustahil) untuk dimiliki. Sama seperti Erod, dia menyukai fotografi dan sangat ahli dalam hal tersebut. Tetapi, dia tidak akan menetap di Indonesia. Dia selalu melakukan perjalanan. Sesekali saja dia kembali ke Jakarta dan faktor ini yang menyebabkan hubungannya dengan Erod putus-sambung.

Pada dasarnya hubungan mereka memang tanpa komitmen. Mereka bersama saat Lana berada di Jakarta. Begitu Lana pergi berbulan-bulan ke Eropa atau Afrika, keduanya kembali memasang status single. Ya, kacau. Tetapi, itulah mereka. Dan, barangkali menarik jika pada satu titik mereka (atau salah seorang di antara mereka) mulai memikirkan komitmen.

No comments:

Post a Comment