Hujan dan Souffle

Hujan kerap dikaitkan dengan kesedihan.

Dalam banyak film, terutama film-film bertema cinta yang sering ditonton oleh Arlet sembari menangis tersedu-sedu, hujan selalu hadir ketika para tokoh mengalami momen melankolis–penantian yang sia-sia, perpisahan, patah hati, atau kehilangan seseorang yang disayangi.

Demikian pula dalam buku-buku fiksi senada, hujan memiliki peran yang sama: menemani sosok-sosok kesepian yang menyusuri jalan sepi sendirian.

Blog-blog di dunia maya pun berubah biru kala butir-butir air tercurah dari langit. Dalam seketika, muncul ribuan tulisan pendek yang menimbulkan rasa hampa di relung dada para pembaca, menggugah rasa haru, dan memancing senyum pilu.

Bahkan, Charlie Chaplin, lelaki paling lucu sepanjang masa yang pintar memancing tawa, senang berjalan di tengah hujan karena dengan begitu tidak akan ada yang melihat dia menangis.

Tetapi, aku bisa memahami hal tersebut.

Hujan menutup matahari dengan gumpalan-gumpalan awan kelabu yang bergelayut berat, mengubah langit biru yang ceria menjadi muram. Hujan menyapu titik-titik bintang, juga memberi udara dingin, membasahi tanah hingga becek, dan menyebabkan sepatu mahal berbahan suede kotor. Hujan menghentikan berbagai acara ruang terbuka yang menyenangkan–festival, piknik, kencan.

Barangkali, itu sebabnya mengapa hujan akrab dengan kekecewaan, frustrasi, kesendirian, dan air mata.

Tetapi, Arlet menyambut hujan dengan cara yang berbeda.

Arlet menyukai hujan. Dia akan bersorak dan menari-nari girang begitu melihat jejak air di jendela. ‘Waktunya bikin kue,’ katanya. Lalu, selama satu jam berikutnya dia sibuk sendiri di dapur; membuat adonan, melelehkan cokelat, dan memanggang.

Kue yang telah jadi; entah apakah itu pai, biskuit, atau muffin; dibawa ke beranda, di mana aku kerap duduk santai memandangi tirai air di halaman belakang rumah kami. Kami memakan kue itu sambil mengobrol tentang apa saja ditemani dua cangkir teh panas dan bisikan hujan.

‘Kenapa kau selalu masak kue saat hujan, sih?’

Satu sore aku bertanya seperti itu kepada Arlet. Sore itu hujan mengguyur Jakarta selama berjam-jam dan Arlet membuatkan aku soufflé cokelat, salah satu kue panggang yang paling sering dia buat kala hujan.

Arlet menjawab pertanyaanku dengan ringan, ‘Karena, An, hujan adalah saat yang paling tepat untuk masak kue.’

‘Iya, oke, tapi kenapa?’

Dia mengedikkan bahu. Sendok miliknya tengah asyik mengumpulkan krim kental di dasar mangkuk putih dalam genggamannya, menimbulkan bunyi denting yang samar. ‘Emm, entahlah,’ katanya, ‘Tapi, ini asyik, kan? Makan soufflĂ© hangat berdua saat hujan. Aku suka.’ Dia menatapku. Senyumnya mengembang dan dia sedikit memicingkan mata.

Aku tertawa kecil melihat ekspresinya yang lucu. ‘Ya, ini memang asyik,’ jawabku. Ini tidak melankolis sama sekali.

Hujan bersama Arlet selalu manis.


*taken from Afternoon Tea

No comments:

Post a Comment