Meet Kai: "Too Drunk To Fuck"

Draggin The Line by http://fogke.deviantart.com

Went to a party. I danced all night. 
I drank sixteen beers. And I started a fight. 
But now I am jaded. You’re out of luck. 
I’m rolling down the stairs. Too drunk to fuck.

Sungguh, Kai paling tidak suka jika ponselnya menggumamkan lagu itu.

Silja menyanyikan “Let Me Go” berarti papanya yang suka main perintah atau mamanya yang cerewet menelepon untuk memberi ceramah moral. Camile menyanyikan “Making Plans For Nigel” berarti Pra sedang mencari musisi amatir yang mau dibayar murah untuk meramaikan kafenya. Daniella menyanyikan “Friday Night, Saturday Morning” berarti dia dan gitarnya sudah sangat terlambat untuk berlatih bersama grup musik mereka.

Lalu, “Too Drunk to Fuck”? Ponselnya menggumamkan “Too Drunk To Fuck” berarti gadis yang iseng dikencaninya beberapa waktu lalu tengah memohon agar tidak dicampakkan. Dan, Kai punya tiga alasan untuk tidak peduli.

Alasan pertama, sama dengan judul lagu itu, saat ini dia terlalu mabuk untuk berurusan dengan perempuan. Alasan kedua, dia memang tidak berminat berurusan dengan perempuan terlalu lama. Alasan ketiga, ini pukul tujuh pagi, demi Tuhan! Perempuan gila mana yang meneror orang pukul tujuh pagi?

Kai mengerang di atas sofa panjang berlapis beledu ungu tempat dia berbaring. Dia menarik selimutnya hingga menutupi kepala, lalu setengah memohon setengah memerintah dengan suaranya yang masih parau, “Matikan ponsel itu. Nadanya bikin telingaku sakit.”

“Matikan sendiri.”

Selimut Kai tersibak tiba-tiba. Kai berusaha mempertahankan kain flanel yang semula membungkus tubuhnya itu, tetapi rasa pengar yang sangat kuat menyebabkannya kalah sigap dari lawan. Padahal, lawannya adalah seorang perempuan; gadis cantik bertubuh Kate Moss yang setengah hati memberinya tempat menginap semalam.

Gitta, gadis itu, melempar sebuah ponsel kepada Kai. Ponsel itu masih saja menggumamkan “Too Drunk To Fuck”. “Berhenti mengerjai gadis tolol, Kai. Kalau kau tidak mau telingamu sakit gara-gara lagu itu, jangan meniduri sembarang gadis, lalu meninggalkannya begitu saja.” Gitta memaksa Kai untuk bangkit, lalu gadis itu duduk di sebelah pemuda yang masih setengah sadar di sofa untuk mengenakan bot cokelat pucat.

Melihat pakaian Gitta–blus sifon hitam berlengan pendek yang dipadukan dengan celana jins ketat–dan rona tembaga di wajah gadis itu, Kai tahu Gitta siap pergi. “Kau mau ke mana?” Kai bertanya. Dia mematikan ponsel di tangannya, tidak repot-repot menerima telepon dari–meminjam istilah Gitta–si gadis tolol terlebih dahulu. Matanya sedikit dipicingkan saat dia menatap Gitta. Sinar terang yang berasal dari jendela besar di belakang gadis itu menyilaukan.

“Kampus. Tidak seperti kau, beberapa orang memutuskan untuk menyelesaikan kuliah mereka. Termasuk aku.”

“Oh. Semester baru?”

Gitta tidak menjawab, hanya menaikkan alisnya sambil memeriksa isi tas.

Tangan Kai terulur untuk membelai rambut gadis itu, helai-helai lurus halus sepanjang bahu yang dicat cokelat gelap, beraroma bunga violet. “Hari pertama semester baru biasanya membosankan,” bisik Kai, sensual, “Lebih baik kau bersenang-senang denganku di sini.” Kai mendekat untuk mencuri cium dari bibir lawan bicaranya.

Lawan bicaranya, dengan tenang, menampik. Sambil tertawa sinis, gadis itu mendorong tubuh Kai agar menjauh. “Kau berantakan dan bau bir. Mandi sana. Aku masih menyimpan beberapa bajumu di lemariku. Kalau mau sarapan, ada pizza di kulkas. Setelah itu, tinggalkan apartemenku. Titipkan kuncinya di lobi.”

“Bagaimana dengan kopi? Kau tidak membuatkan aku kopi?”

Tidak ada balasan. Gitta meninggalkan Kai tanpa berkata apa-apa lagi. Pintu apartemen berdebum keras bersama kepergian gadis itu, lalu menyisakan senyap di ruang duduk mungil yang ditata apik dengan dominasi corak retro dan warna dingin.

Kai diam di sofa untuk beberapa saat. Pemuda itu menatap nanar poster Coco d’Or–grup musik jazz asal Jepang kesukaan Gitta–yang terpasang pada dinding polos di hadapannya, merasakan kepalanya berat dan tubuhnya limbung karena dia terlalu banyak minum semalam.

Ini apartemen Gitta; letaknya di bagian selatan Jakarta; tidak jauh dari studio tempat Kai, Gitta, dan seorang pemuda bernama Jun biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memainkan jazz. Sesekali, memang, Kai bermalam di tempat ini saat dia terlalu lelah atau tidak cukup sadar untuk mengendarai mobilnya pulang. Dia tidur di sofa. Dahulu dia tidur di ranjang sang pemilik apartemen. Tetapi, itu sudah lama berlalu sejak Gitta menyadari bahwa Kai pemuda yang berengsek.

Teringat pada kopi, Kai berdiri malas-malasan dan berjalan gontai ke pantri yang ada di salah satu sudut ruangan sambil memijit-mijit keningnya. Dia mengambil cangkir dan tin dari lemari, lalu berusaha menyeduh kopi. Tidak lama kemudian, uap wangi mengepul dari permukaan cairan hitam pekat yang diaduknya dengan sebatang sendok logam. Dia meniup pergi uap itu dan berlahan-lahan menyeruput minumannya.

“Sial,” maki pemuda itu kemudian. Dia meringis. Kopi buatannya tidak enak sama sekali.

Dia membuang kopi itu ke bak cuci dan mencari gantinya di kulkas. Sebotol air mineral dingin ditenggaknya sampai tandas. Tiga potong pizza dimasukkannya ke oven untuk dipanaskan. Lalu, dia kembali ke sofa, menikmati sarapan sambil mengganti-ganti saluran televisi.

Dia menikmati sarapannya dengan santai. Dia tidak terburu-buru. Buat apa? Tidak ada yang ingin dilakukannya hari ini. Bahkan, sebenarnya, tidak ada yang ingin dilakukannya dalam hidup. Tidak ada sama sekali.

Jarum jam telah bergeser ke angka delapan saat Kai selesai dengan tiga potong pizza itu dan memutuskan untuk beranjak ke balkon. Dia membuka pintu kaca yang menjadi pembatas transparan antara ruang dalam dengan ruang luar. Udara hangat menyambutnya. Sinar matahari menampar pelan wajahnya.

Dia menyandarkan tubuhnya ke railing. Kedua tangannya memegang bagian paling atas pagar besi itu sementara kedua matanya terpejam. Hidungnya menangkap bau usang ibukota. Telinganya mendengar macam-macam bunyi modernitas yang tumpang tindih. Dan, di antara semua itu, ada keputusasaan yang begitu kentara.

Rasa yang dia kenal betul.


*taken from Hanna-Kai

6 comments:

  1. ih ga sabar nunggu novel ini terbit deh :"D
    ditunggu kak mba windry

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe masih lamaaa. aku suka banget pas nulis ini. semoga ada kabar baik dari penerbit secepatnya :p

      Delete
  2. i promise to read this one. ily kak windry hihi :)

    ReplyDelete
  3. awww, thank you so much. ily too hihihi

    ReplyDelete