Meet Gandes: Satu

1974.

Ketika itu Yogyakarta masih lengang. Jalan-jalan yang membelah kota belum disesaki kendaraan-kendaraan bermotor yang menderu bising dan berasap tebal. Sepeda, becak, dan andong mendominasi; melaju pelan-pelan diiringi denting bel atau bunyi tapak kaki kuda. Hanya sesekali saja colt kampus melintas, membawa lima hingga sepuluh pelajar asing yang merantau dari tanah kelahiran mereka. Sementara itu sepeda motor dan sedan masih menjadi barang langka yang hanya dimiliki oleh segelintir orang dengan status sosial tertentu.

Selepas pancaroba sakura-sakura peninggalan Soekarno di sepanjang Jalan Kolonel Simanjuntak bermekaran. Aromanya memenuhi udara. Kelopak-kelopaknya bertaburan di tanah yang berlapis aspal kelabu. Ranting-rantingnya yang cokelat gelap berbunga lebat merupa tirai putih dengan sedikit sapuan merah.

Ya. Sakura.

Bertahun-tahun kemudian tidak lagi kudapati sakura di negeri ini, namun dahulu tumbuhan elok yang datang bersama Dewi Fujin itu menjamur di kota-kota besar di Pulau Jawa. Bahkan, ada satu tembang lawas yang populer karena bercerita tentang sakura. Sebaris liriknya berbunyi, ‘Bunga sakura indah juwita dipandang mata. Putih gemilang merah warnanya. Baunya memikat jiwa.’ Mbakyu aku sering mendendangkan itu, maka aku hapal betul.

Nah. Di balik tabir sakura berbaris rumah-rumah tua beratap sirap dan berpagar batu kali. Satu di antaranya dijuluki Kosima 76, sebuah tempat indekos yang penuh sesak. Ada delapan pemuda-pemudi menjejali kediaman milik Bapak Darmaji dan istri. Mereka tiga lelaki muda dan lima gadis; enam mahasiswa dan dua pelajar sekolah menengah.

Pada masa itu tidak menjadi masalah jika perempuan dan lelaki indekos di bawah satu atap yang sama. Dahulu tata krama dan nilai-nilai moral masih dipegang dengan teguh. Pengaruh buruk budaya asing belum mengancam. Seorang gadis memperlihatkan pundak masih merupakan hal yang tabu. Kalau ada pemuda-pemudi baik-baik berduaan di satu tempat, paling jauh mereka hanya akan berpegangan tangan atau saling menyikut lengan.

Di Kosima 76 aku menempati kamar paling depan bersama Nona, gadis Betawi asal ibukota yang seusia denganku. Jendela kami menghadap ke halaman muka, menyapa teras lebar dan satu set meja-kursi jati yang kerap dipakai untuk belajar bersama, berpacaran, atau sekadar duduk-duduk sambil makan baso.

Itu keasyikan tersendiri. Jendela dua daun yang seringkali dibiarkan terbuka membuat kami mengetahui banyak hal. Kami melihat siapa berbuat apa. Kami mendengar rahasia-rahasia. Dan, ini bagian terbaik, kami mendapat banyak koin cokelat sebagai ongkos tutup mulut.

Tetapi, barangkali cukup sebut aku karena sebenarnya Nona tidak terlalu senang melongok ke luar. Menurut dia, memata-matai orang lain bukan sesuatu yang patut dibudayakan, apalagi cuma untuk mengumpulkan jajanan anak-anak.

Berbeda dengan Nona, aku suka duduk berlama-lama di balik jendela, mengamati orang lalu-lalang dengan gerak-gerik bermacam-macam, menghitung berapa kali tetangga di seberang jalan menjemur kasur anaknya dalam seminggu, atau cekikikan melihat Bu Darmaji tawar-menawar harga labu siam dengan penjaja sayur keliling yang telah kelelahan. Bahkan, hampir di segala situasi, aku tidak bisa menahan diri untuk melirik keluar. Itu sudah menjadi kebiasaan.

Dan, pada satu siang kebiasaan itu membuat hariku merah dadu.

*

Aku sedang bersiap-siap sekolah. Kepangan rambutku hampir selesai. Nona menunggu di ruang keluarga seraya memanggil berulang kali meminta aku bergegas. Kulirik jam mungil di atas meja belajarku. Pukul tiga belas kurang sedikit. Kami memang terlambat. Sepuluh menit lagi gerbang sekolah ditutup dan idealnya saat ini kami sudah masuk kelas.

Lalu, kulayangkan pandangan ke halaman. Tidak ada maksud tertentu. Sebatas iseng. Di luar sana Pak Darmaji sedang menyiram tanaman-tanaman kesayangannya dengan kaleng bekas yang telah dilubangi dan diberi gagang kayu. Dia berhenti mendadak ketika melihat sepeda motor menghampiri Kosima 76. Kendaraan itu masuk ke pelataran, lalu berhenti sebelum mencapai teras.

Dua orang lelaki muda turun. Mereka menyapa Pak Darmaji. Yang satu tidak kukenal. Wajahnya asing. Yang satu lagi, yang membonceng di belakang kawannya, adalah Iwan. Dia penghuni Kamar 4 di sayap timur Kosima 76, mahasiswa Universitas Gajah Mada Jurusan Sastra Indonesia.

Kepada Pak Darmaji, Iwan memperkenalkan temannya. “Julian,” demikian samar-samar kudengar nama lelaki muda itu disebutkan. Ju, panggilan akrabnya.

“Oh, ya, ya. Mari, mari. Anggap rumah sendiri.” Pak Darmaji mengajak Ju duduk di teras, lalu dia mengutus Iwan ke dapur untuk mengambil minuman. “Kopi tubruk ya, Wan. Bilang Ibu, punya Bapak jangan dikasih gula.”

Aku mendekat ke arah jendela. Mataku mengamati tamu kami secara diam-diam. Lelaki itu berbicara dengan logat Betawi seperti Nona. Rupanya dia pendatang dari Jakarta. Itu menjelaskan sikapnya yang sedikit angkuh. Dia tidak mencium tangan Pak Darmaji ketika mereka bersalaman, juga tidak menundukkan wajah ketika mereka bertatapan. Cuma pemuda ibukota yang begitu.

Dan, Ju memang memiliki daya tarik pemuda ibukota. Tubuh tinggi berbalut busana trendi, kulit putih, wajah tampan warisan priayi, rambut ikal gondrong gaya Roy Marten, senyum percaya diri, serta sepasang mata yang berani. Sumpah demi Simbok, aku terlena memandanginya hingga tidak kuasa menahan senyum.

Lalu, tiba-tiba sepasang mata yang menawan itu menangkap basah aku. Aku terkesiap. Lekas aku sembunyi di balik tirai. Jantungku berdebar. Wajahku panas karena malu.

“An!”

Nona menghambur masuk ke kamar. “Lama betul, sih? Sudah, tidak usah kepang rambut!” hardiknya. Suara gadis itu seperti klakson colt kampus memanggil penumpang. Nyaring, melengking, bikin sakit telinga orang yang mendengar.
Aku merapatkan telunjuk ke bibirku sendiri, memberi Nona isyarat untuk diam, tetapi terlambat.

“An?”

Namaku disebut lagi. Kali ini dari arah teras. Detik berikutnya kepala Iwan menyembul melalui jendela. Lelaki itu menyeringai begitu mendapati aku.

“Nah, ketahuan! Anak Kecil, sedang apa di situ?”

“Tidak sedang apa-apa.”

“Sedang mengintip, kan?”

Aku memanyunkan mulut, merajuk. “Sedikit,” kataku.

Nona melotot mendengar pengakuanku. Amarahnya siap pecah, namun sebelum hal nahas itu terjadi aku buru-buru memberi dalih, “Tidak sengaja, Non. Salah Iwan. Aku lagi asyik-asyik mengepang rambut, dia datang bawa pulang Joni.” Joni adalah nama tokoh yang dimainkan oleh Roy Marten dalam Badai Pasti Berlalu. Gantengnya bukan main.

Kontan Iwan menjitakku. “Bocah, kenapa jadi aku yang salah?” protesnya.

Aku cekikikan sambil memegangi kepala.

Sementara itu tampaknya kesabaran Nona telah habis. Dia mendengus sebal. “Masa bodoh. Aku berangkat duluan,” katanya. Gadis itu pergi meninggalkan ruangan. Langkah kakinya dientak-entakkan untuk mengekspresikan perasaannya. Tidak perlu diambil pusing. Dia memang begitu, gampang emosi.

Mataku kembali mencari Ju. “Itu temanmu ya, Wan?” tanyaku. Iwan lebih tua tiga tahun, tetapi aku memanggilnya dengan nama, tanpa embel-embel ‘mas’ atau semacamnya. Dia juga tidak perlu repot-repot menyebut aku ‘dik’. Lagi pula, kami memang bukan kakak-adik.

“Iya, teman satu kampus. Kenapa? Mau kenalan?”

“Boleh?” aku bertanya dengan girang.

Iwan tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih sambil mencubit hidungku. “Sekolah dulu, Anak Kecil,” ledeknya.
Sudah pasti aku kecele. Harapanku surut seketika. Sambil bersungut-sungut, aku menyambar tas sekolah yang tersampir di pintu. Kujulurkan lidah untuk membalas perbuatan Iwan. Setelah itu aku bergegas menyusul Nona, mengabaikan pujangga setengah jadi yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Aku keluar melalui pintu samping. Begitulah tata caranya dahulu ketika ada tamu bertandang ke rumah orang Jawa. Kutuntun sepeda tua milikku hingga melewati pagar. Nona sudah ada di ujung Jalan Kolonel Simanjuntak. Cepat betul dia memacu sepedanya.

“Non, tunggu!” seruku.

Gadis itu berhenti, lalu menoleh. Sayup-sayup kudengar dia membalas, “Ayo, cepat!”
Aku melompat ke atas sepeda. Tas sekolah kumasukkan ke keranjang. Sebelum aku beranjak, pandanganku melayang sekali lagi ke arah teras. Mataku kembali berserobok dengan mata Ju. Lelaki itu memberikan senyumnya kepadaku dan mendadak kakiku lemas.

Haduh Simbok, dia lebih menawan dari Roy Marten.

“Gandes Ayuuu!” Dari kejauhan Nona menjerit frustrasi.

*

“Namamu Gandes, tapi kelakuanmu kok tidak ada anggun-anggunnya sama sekali,” kata Iwan.

Lelaki itu, aku, Nona, dan para penghuni Kosima 76 lainnya sedang berkumpul di satu ruangan. Kami duduk mengelilingi meja panjang berbahan jati sambil menunggu jatah makan malam yang tidak lama lagi akan dibagi-bagikan oleh Bu Darmaji.

Menanggapi ledekan Iwan, aku berkelit, “Gandes itu nama pilihan simbokku. Dia bilang itu doa. Nah, kalau ternyata kelakuanku tidak sesuai dengan harapan, berarti sederhana saja: doa Simbok kurang manjur.”

“Ngawur,” kata Nona.

Iwan menggeleng-gelengkan kepala. “Cocok kamu jadi pengacara, An,” sindirnya.

“Maaf. Tidak minat kuliah hukum,” balasku.

“Bagus,” Nona menyambar, “Berarti aku tidak perlu khawatir telat kuliah setiap hari gara-gara satu jurusan dengan kamu.”

Kami bertiga tergelak. Sejak lama Nona memang bercita-cita menjadi seorang jaksa sementara aku masih belum tahu ke mana hidupku akan kubawa. Derai tawa kami kisut ketika Bu Darmaji datang membawa sangku nasi.

Wadah enamel yang sisinya berlubang kecil-kecil itu diletakkan di tengah meja. Asap mengepul dari dalamnya, menguarkan aroma rempah-rempah yang gurih-manis. Kami menjulurkan kepala untuk melihat apa yang dimasak oleh Bu Darmaji. Sesaat suasana hening, lalu detik berikutnya semua orang berseru kecewa.

“Yaaah, nasi goreng kacang.”

“Kacang lagi, kacang lagi.”

Bu Darmaji mendelik kepada kami sambil berkacak pinggang. “Sudah, tidak usah pakai protes. Masih bagus Ibu kasih nasi goreng pakai kacang, bukan nasi putih pakai kerupuk.”

Kami cekikikan diomeli begitu.

Begitulah. Nasi goreng terasi tabur kacang adalah makanan khas di Kosima 76 pada setiap akhir bulan. Ketika itu dompet belanja Bu Darmaji telah menipis. Jangankan menghadiahi kami botok, memberi senyum saja dia enggan.

“Kamu masuk Sastra Indonesia saja, An,” kata Iwan di tengah-tengah acara makan malam kami.

Aku menatap lelaki itu. Ini bukan kali pertama dia mencoba memengaruhi aku untuk menjadi pujangga seperti dirinya. Bagiku, ide itu selalu terdengar seperti lelucon. Aku tidak habis pikir mengapa ada orang yang mau menghabiskan sisa hidupnya bersama mesin tik dan majas personifikasi.

“Hem, boleh juga,” kataku.

Mata Iwan berbinar-binar menandakan kegembiraan hatinya. “Yang benar?”

Aku tersenyum mencemooh. “Jelas tidak.”

Iwan langsung cemberut dan cahaya di matanya redup. Rasakan. Ini balasan atas perbuatannya tadi siang. Satu sama sekarang.

*

Julian, atau Ju, atau Joni Roy Marten, datang lagi ke Kosima 76 pada Jumat siang di pekan yang sama.

Hari itu aku tidak sekolah. Nona juga tidak. Semua murid SMA 1 Yogyakarta diliburkan sementara guru-guru mengadakan rapat intern yang membahas persiapan ujian semester. Tetapi, itu bukan berarti para murid bisa bersantai-santai sepanjang akhir pekan karena tentu saja kami berlimpah pekerjaan rumah.

Ketika Ju masuk ke pelataran Kosima 76 dengan motornya yang mentereng, aku sedang duduk di meja belajar, menghadapi kertas gambar dan mewarnai peta Indonesia. Nona tidak bersamaku. Dia pergi ke Kota Gede untuk menemui bibinya. Meskipun Nona lahir di Jakarta, ibunya keturunan Jawa.

Ju disambut oleh Bu Darmaji yang kebetulan sedang memanen kemangi di halaman. Induk semangku berkata, “Masuk, Julian. Iwan sedang salat Jumat. Tidak lama lagi selesai.” Nada bicaranya tidak bisa dibilang ramah, bahkan cenderung ketus. Penyebabnya, bulan telah berganti, tetapi para penghuni Kosima 76 belum menyetor uang indekos.

“Terima kasih, Bu. Saya di sini saja.” Ju memilih menunggu di teras. Dia duduk tenang di sana selama hampir satu jam, ditemani sebuah buku tebal yang tampak kumal.

Selama itu pula aku mengawasinya. Sambil mencipta ulang Water Lily (entah kenapa peta buatanku lebih mirip kolam teratai Monet daripada negeri seribu pulau), sesekali aku mencuri lihat keluar jendela. Aku sedikit berharap pandangan kami bisa bertemu lagi seperti tempo hari, tetapi–sayang–sepanjang waktu Ju hanya diam di kursinya dan fokus membaca.

Syukurlah, aku tidak pernah kehabisan akal. Aku tahu Bu Darmaji belum menyuguhkan apa pun kepada Ju. Lebih tepatnya, dia tidak akan menyuguhkan apa pun. Pada momen-momen kritis seperti saat ini, Bu Darmaji sangat perhitungan. Gula saja dia sembunyikan.

Karena itu lekas kutinggalkan pekerjaanku supaya aku bisa pergi ke dapur dan membuat segelas setrup dingin. Minuman merah bening itu kubawa ke teras dengan baki perak yang tidak pernah dipakai oleh Bu Darmaji kecuali pada hari raya. Langkahku kubuat sehalus mungkin agar aku tampak gandes, supaya Simbok tidak perlu terlalu bersedih.

Kuletakkan setrup buatanku di hadapan Ju, di meja bundar kayu yang berhias taplak bordir bunga anggrek ungu, lalu aku berdeham.

Perhatian Ju pun beralih. Lelaki itu menatap setrup di meja, kemudian dia menengadahkan mukanya.

Aku menyambut tatapannya dengan segaris senyum lebar. “Barangkali kamu haus,” kataku.

Ju balas tersenyum. “Terima kasih, Gandes,” katanya.

Aku mengangguk, lalu buru-buru menarik diri dan kembali ke kamar. Hatiku girang bukan main. Rasanya aku ingin melonjak-lonjak untuk merayakan apa yang baru saja terjadi. Beginilah gadis remaja pada masaku. Mendapat senyum dan ucapan terima kasih dari pemuda ibukota sudah cukup untuk menyulap hari menjadi sempurna. Dan lagi, tadi namaku disebut dengan lembut.

Terima kasih, Gandes, katanya. Aih, Simbok.

Oh. Tunggu. Gandes?

Aku melongok melalui jendela. Mataku mencari Ju. “Kok tahu?” tanyaku.

Ju mengernyit mendengar pertanyaan itu. “Apa?”

“Gandes. Namaku. Iwan yang kasih tahu, ya?”

Ju tersenyum. “Bukan. Aku yang tanya.”

Pengakuan Ju itu membuatku tertegun. Wajahku memanas. Tetapi, rasa malu yang kurasakan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini rasa malu itu disertai kegelisahan aneh yang menyebabkan aku salah tingkah.

“Tidak apa-apa, kan?”

Aku menggelengkan kepala dengan rikuh, lalu berlagak sibuk meneruskan pekerjaan rumahku. Kepalaku merunduk menghindari tatapan Ju. Entah kenapa mendadak aku tidak berani bertemu pandang dengannya.

Tidak lama kemudian, di antara bunyi gesekan pensil milikku, terdengar debum buku bertemu meja, disusul derik kayu bersanggit lantai dan suara langkah perlahan yang mendekat ke arahku.

“Hari ini tidak sekolah?”

Aku mendongak dan tahu-tahu saja Ju sudah ada di hadapanku. Lelaki itu berdiri tidak jauh dari jendela. Kedua tangannya disembunyikan di saku celana.

“Emm, libur,” kataku. Bicaraku gugup. Jantungku berpacu.

“Libur tapi banyak tugas, ya?”

Aku mengangguk. Air mukaku kubuat memelas, memohon belas kasihan.

Ju tertawa kecil. “Mau dibantu?” tanyanya.

Tanpa menunggu jawaban, dia mengambil kursi, lalu duduk di dekat ambang kamar. Meja belajarku menempel dengan jendela dan permukaan perabot itu sama tinggi dengan batas bawah kusen, sehingga aku dan Ju seperti sedang duduk berseberangan di satu meja. Padahal, sesungguhnya kami dipisahkan oleh dinding.

Aku memberi Ju pensil hijau supaya dia bisa mewarnai Kalimantan. Untuk beberapa saat, sekitar sepuluh atau lima belas menit, kami berdua tidak saling berbicara, hibuk menyelamatkan peta Indonesia milikku yang kelihatan menyedihkan.

Sumpah demi Simbok, itu sepuluh menit terpanjang yang pernah kulalui.

Pasalnya lebar meja belajar milikku tidak sampai empat jengkal. Aku dan Ju sama-sama mencondongkan badan, maka jarak yang empat jengkal itu pun menjadi berkurang. Lagipula, Kalimantan dan Samudera Hindia di petaku tidak seberapa jauh. Kalau tidak ingat namaku Gandes, aku sudah berlagak tidak sengaja membuat tangan kami bersinggungan.

Ya, sedekat itu aku dengan dia. Jadi, wajar kalau debaran jantungku tidak kunjung melambat.

Lalu, ketika Kalimantan sudah beres dan dia sedang merapikan pulau-pulau kecil di sekeliling Sumatera, sambil melirik kepadaku, Ju berkata, “Omong-omong, namaku Julian.”

Senyumku mengembang tak tertahan. “Iya. Aku tahu.”

“Iwan yang kasih tahu?”

“Bukan. Aku curi dengar.”

Ju kembali tergelak dan aku pun menyambung derai tawanya.

Berkat dia, selepas waktu salat Jumat kolam teratai buatanku tampak sedikit lebih mirip negeri seribu pulau.

* * *


Catatan: 
Ini merupakan potongan kisah Gandes Ayu dari apa yang seharusnya menjadi proyek bersama saya dengan Winna Efendi, Morra Quatro, dan Hanny Kusumawati. Karena semula ini dimaksudkan sebagai novella, maka bertempo cepat. An dan Ju hadir sebagai sosok dan pasangan yang berbeda dengan An dan Ju di Afternoon Tea.

9 comments:

  1. Bagus banget kak windry :D ini nggakjadi dibikin novel? saya pasti beli kalo ini dibikin novel. settingnya nggak biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. suatu saat akan dibikin novel, tapi nggak dalam waktu dekat. tema utamanya agak rumit dan aku belum sempat riset :)

      Delete
  2. Settingnya bagus, detail, gampang dibayangin. Sukaaaaa :)
    Btw, novel montasenya bagus bgt loh kaak, aku suka :3

    ReplyDelete
  3. Bagus deskripsinya Kak! :D

    Tapi, ada sedikit catatan sih. Di bagian rapat sekolah, kenapa 'semester' yah? Bukankah jaman 70an itu lebih sering pakai caturwulan atau sebangsanya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh, iya. pemakaian semester di atas harusnya sudah benar. sistem caturwulan baru berlaku sejak 1989.

      Delete
  4. Suka sekali cerita ini, Windry. Ah, semoga nanti ada novelnya. Bayangin Gandes seperti.. gadis-gadis dari jaman dulu yang bersikap blak-blakan, asik, naik sepeda tua kayak sepeda simbahku.. dan pastinya ayu. Dia bisa dibilang kemayu nggak, sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih. pasti akan ada novelnya, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. tokoh Gandes ini terinspirasi dari mamaku. mandiri, cuek, supel, dan agak kenes ^^.

      Delete