Meet Gandes: Dua

Yogyakarta bukan tempat kelahiranku. Aku pindah ke tanah kekuasaan Hamengkubuwana itu berbarengan dengan kepergian Simbok dan Mbakyu ke Jakarta. Asal kami adalah Sidoarjo, sebuah kota di Jawa Timur yang kelak, pada tahun 2004, terendam lumpur panas setinggi lebih dari tiga meter. Aku tidak diajak ke Ibu Kota lantaran Simbok ingin aku besar di lingkungan Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Maka, oleh Simbok aku dititipkan kepada kerabat kami di Kauman, di rumah peninggalan K.H. Ahmad Dahlan yang dihuni secara turun-temurun oleh anak-cucunya. Ketika itu aku baru akan masuk SMP.

Tiga tahun aku hidup dengan para santri dan selama itu pula aku sadar bahwa Muhammadiyah bukan untukku. Jangan salah mengerti. Tidak ada prinsip yang bertentangan di sini dan aku adalah seorang muslim yang taat, setidaknya aku tidak pernah melewatkan salat lima waktu. Yang ingin kukatakan adalah aku tidak berminat tergabung dalam kelompok agama apa pun. Tidak Muhammadiyah, tidak pula yang lain.

Itulah sebabnya mengapa aku meninggalkan Kauman selepas lulus SMP. Aku menemukan Kosima 76 dan mulai indekos di sana. Simbok tidak keberatan. Beliau perempuan hebat yang membesarkan enam anak sendiri. Jika ada seseorang yang paling paham isi hati putra-putrinya, maka itu adalah Simbok.

Selama aku di Yogyakarta, biaya indekosku ditanggung oleh Mbakyu sementara biaya sekolahku selalu tertutup oleh beasiswa. Wesel datang setiap awal bulan, seringkali terlambat hingga seminggu lebih. Ketika keterlambatan itu terjadi, sama halnya seperti Bu Darmaji, aku mengalami momen kritis.

*

Langkahku melintasi teras dari satu ujung ke ujung yang lain berulang kali. Mataku tidak lepas mengawasi pagar batu kali yang menjadi batas lahan. Hatiku tidak tenang diburu waktu.

“Ada apa, An? Gelisah amat.” Suara Nona terdengar samar-samar dari kamar kami.

Aku tidak menjawab. Kini aku mulai menggigiti kuku jari tanganku.

Lalu, Nona melongokkan kepala lewat jendela. Ekspresi rasa penasaran tergambar jelas di wajahnya. “Kamu nunggu siapa sih?” tanya gadis itu.

“Pak Pos,” jawabku, “Wesel dari mbakyuku belum datang, Non.”

Nona mengernyit. Gadis itu menghilang dari ambang kamar, lalu tidak lama kemudian dia muncul di teras dengan raut prihatin. “Sudah tengah bulan loh,” katanya.

“Iya, aku tahu.” Karena itu aku cemas.

Mbakyu memang sering telat mengirim uang, tetapi kali ini dia benar-benar keterlaluan. Hampir dua minggu aku menunggu dan selama itu pula Bu Darmaji senewen setiap bertemu muka denganku. Perempuan itu memang tidak berkata terus terang perihal biaya indekos yang belum kubayarkan, tetapi tatapannya yang menusuk dan nada bicaranya yang tidak enak didengar mewakili segalanya.

“Pakai uangku dulu saja,” Nona menawarkan bantuan.

Aku menggeleng. Aku paling tidak suka meminjam uang.

“Lalu, gimana kalau wesel tidak datang juga hari ini?”

“Gampang. Nanti biar gelangku sekolah lagi.”

Nona menghela napas. “Kalau begitu, minta antar Iwan ke Wijilan sana.”

“Iwan lagi sibuk, Non.” Sejak pagi Iwan tidak terlihat. Aku tahu Iwan magang di salah satu koran lokal. Biasanya, kalau lelaki itu tidak keluar seharian dari kamarnya, itu berarti dia sedang membuat esai, menyunting tulisan, atau semacamnya, dan aku tidak ingin mengganggu.

“Sudah, cuek. Sini, biar aku yang bicara dengan dia.” Nona menarikku berjalan menyusuri teritis timur di bagian luar Kosima 76. Kami mendatangi jendela kamar Iwan yang terbuka, lalu mengintip ke dalam dengan berhati-hati.

Benar, Iwan tengah berkutat dengan setumpuk kertas di meja belajarnya. Tetapi, dia tidak sendiri. Aku dan Nona juga melihat Ju di dalam ruangan yang sama. Lelaki itu duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dipan. Perhatiannya tertuju pada koran di pangkuannya.

“Iwan–”

“Julian.”

Sebelum Nona menyampaikan maksud kedatangan kami kepada Iwan, aku lebih dahulu menegur Ju. Aku punya ide lain.

Kedua lelaki yang ada di hadapan kami menoleh kepadaku. Ju menjawab, “Hei, Gandes. Ada apa?”

“Boleh minta bantuan?”

Kulihat Nona menatapku dengan dahi berkerut, sama halnya dengan Iwan. Aku mengabaikan mereka. Tidak ada waktu untuk memberi penjelasan panjang lebar. Kataku kepada Ju, “Bisa antar aku ke Wijilan?” Naik sepeda motor pasti lebih cepat daripada naik colt kampus.

Ju mengiyakan tanpa pikir panjang. Lelaki itu meletakkan korannya, bangkit berdiri, lalu menepuk bahu Iwan untuk berpamitan. Barangkali ini hanya perasaanku, namun Iwan tampak tidak senang.

*

Kami bertolak ke Wijilan dengan sepeda motor. Jalan besar itu berada di pusat kota, tidak jauh dari keraton. Di sana rumah-rumah telah berubah fungsi, berubah menjadi toko atau tempat kerajinan tangan. Aku meminta Ju menghentikan kendaraan di depan sebuah bangunan tanpa pagar dan tanpa halaman yang bagian mukanya telah dirombak. Daun pintu dan jendela tua gaya Indis tidak lagi ada di sana, menjelma satu bidang kaca besar berbingkai kayu dengan pintu tunggal di sisi kirinya serta plang berbunyi ‘Pegadaian.’

“Pegadaian?” Ju bertanya bingung.

Aku tidak membalas, hanya tersenyum kecut.

Kami masuk ke pegadaian itu. Ruang di dalamnya tidak terlalu luas. Di dua sisi terdapat sejumlah lemari kaca setinggi pinggang yang berfungsi menyimpan sekaligus memajang barang. Di sisi lain ada satu set rak, meja, dan kursi kayu. Seorang lelaki seumuran Pak Darmaji duduk di balik meja tersebut. Dia sedang sibuk memilah-milah barang.

“Eh, ada Gandes,” lelaki itu menyapaku dengan ramah. “Sudah musim sekolah lagi, ya?” tanyanya.

“Iya, nih,” jawabku. Ini memang bukan kali pertama aku membawa gelang emas pemberian Simbok ke pegadaian.

Gelang itu bernilai lebih dari dua puluh lima ribu rupiah. Beratnya sekitar lima belas gram. Tetapi, aku tidak membutuhkan uang sebanyak itu. Sepuluh ribu atau sebelas rupiah sudah cukup, asal aku bisa mengembalikan sikap ramah Bu Darmaji. Karena itu aku dan Pakle, sang pemilik pegadaian, pakai istilah ‘sekolah’. Gelang pemberian Simbok sekadar dititipkan, bukan digadaikan. Begitu wesel kiriman Mbakyu datang, aku bisa menjemput gelangku pulang.

“Titip, ya, Pakle.” Aku melepas rantai emas yang melilit pergelangan tanganku. Ketika aku hendak meletakkan benda itu di atas meja, Ju menggamit lenganku.

“Kamu serius, Gandes?” tanyanya. Aku menangkap rasa khawatir dalam nada suara Ju.

“Cuma sementara. Simbok juga tidak akan tahu.”

“Itu gelang ibumu?”

Aku meringis begitu sadar salah bicara.

“Bocah ini memang nekad, kok.” Pakle ikut bersuara seraya terkekeh. “Tapi dia pintar, cuma ambil sepuluh ribu, jadi gelang simboknya tidak akan hilang.”

Ju menghela napas. Matanya menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Lalu, tiba-tiba lelaki itu melepas jam tangan miliknya. Kepada Pakle dia bertanya, “Kalau jam ini ditukar, kami bisa dapat berapa?”

“Julian!” aku buru-buru menghardik.

Ju tidak mengindahkan aku. “Berapa, Pak?”

Pakle mengamati jam tangan berbahan logam keperakan yang baru saja dia terima. Setelah beberapa saat, dia berkata, “Sepuluh ribu saja sih dapat.”

“Ya sudah. Ambil itu saja.”

Aku merengut melihat Ju membuat keputusan sendiri. Aku menggadaikan gelang simbokku atau tidak, itu sama sekali bukan urusan dia. Lagi pula, aku tidak suka dikasihani dan perbuatannya ini membuat aku merasa rendah diri.

Sebagai aksi protes, aku bungkam di sepanjang perjalanan pulang. Beberapa kali Ju mencoba memulai pembicaraan, tetapi tidak aku pedulikan. Biar saja pemuda ibukota itu tahu, ada harga yang harus dia bayar untuk keangkuhannya.

Menjelang sore kami tiba di Kosima 76. Iwan dan Nona menunggu kami di teras. Mereka duduk berdua menghadapi pekerjaan rumah masing-masing. Ju memarkir sepeda motornya di halaman seperti biasa. Aku cepat-cepat turun dari kendaraan itu, lalu bergabung dengan Iwan dan Nona. Kuenyakkan tubuhku ke kursi. Mulutku melepaskan desahan kesal.

Nona mengerutkan dahi begitu mendapati gelang emas masih melingkar di pergelangan tanganku. “Loh, tidak jadi? Kenapa, An? Tutup?” dia melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.

Aku tidak menjawab. Malas.

Iwan dan Nona saling bertukar pandangan, lalu perhatian mereka kembali tertuju kepadaku. Kata Nona, “An, Mas Iwan baru dapat honor–”

“Non, aku bukannya tidak punya uang. Wesel mbakyuku telat. Itu saja. Aku tidak suka dikasihani seperti ini.”

Suasana berubah hening selepas itu. Iwan, Nona, dan Ju tertegun, menatap aku dengan berbagai ekspresi. Iwan tampak kecewa, Nona kaget, dan Ju–. Ah, aku tidak bisa menerjemahkan apa arti tatapan Ju.

Lelaki itulah yang pertama berhasil merebut kesadarannya kembali. Dia menghampiriku. Tangannya merenggut tanganku. Lalu, dia menarik paksa aku agar ikut dengannya. “Sini.” Sementara itu Iwan dan Nona hanya bisa diam terheran-heran melihat aku dibawa pergi.

Kami keluar dari pelataran Kosima 76 dan berjalan ke arah barat untuk menjauhi tempat indekos tersebut. Jari-jari Ju terus mencengkeramku. Genggamannya baru merenggang ketika kami berhenti di depan sebuah rumah yang tidak ditempati.

“Dengar, Gandes. Jangan salah paham. Tidak ada yang mengasihani kamu,” kata Ju.

“Lalu, yang tadi kamu lakukan di pegadaian itu apa?” Aku menunduk, menolak melihat matanya. Kelopak-kelopak sakura berjatuhan dan mendarat di permukaan sepatuku.

“Lebih baik jam itu yang dijual daripada gelang ibumu.”

“Itu yang kumaksud. Jam itu bentuk rasa kasihan kamu.”

Ju terdiam sejenak. Dia menghela napas. Lalu, katanya, “Gandes–”

“An. Aku biasa dipanggil An.” Aku menukas dengan ketus.

“Oke. An. Kamu sadar tidak? Kamu bisa kehilangan gelang ibumu di pegadaian.” Ju melembutkan suaranya. Barangkali dia mengira dengan begitu aku bisa terbujuk. Salah besar.

“Tidak mungkin. Pakle bisa dipercaya.”

“Ya, sepertinya dia memang orang baik. Tapi, orang baik juga bisa kena sial. Gimana kalau dia dirampok? Atau, tokonya kebakaran.”

Aku tidak menjawab. Tidak pernah terlintas sekali pun di benakku hal tersebut.

“An, aku cuma tidak ingin kamu menyesal. Aku tidak kenal orang tuaku. Ibu dan Bapak pergi dan tidak meninggalkan apa-apa, jadi aku tidak punya kenangan sedikit pun tentang mereka. Kalau aku punya satu saja gelang seperti milik kamu itu, pasti kujaga baik-baik.”

Ju meraih tanganku sekali lagi dan memberikan amplop cokelat berisi uang yang dia dapatkan dari pegadaian. “Sekarang, kamu ambil ini. Nanti, kalau jam tanganku sudah lulus sekolah, kamu kembalikan kepadaku.”

Kupandangi amplop di genggamanku. Masih ada sedikit keraguan mengganjal di hati.

“Oke, An? Beres?” Ju terus mendesak.

Pada akhirnya aku mengangguk, mengiyakan apa yang diperintahkan Ju kepadaku. “Oke,” kataku lirih, “Terima kasih, Julian.”

Lelaki di hadapanku membalas, “Ju. Aku biasa dipanggil Ju.”

Perkataannya membuat aku tersenyum geli. Angin berembus kencang. Di sekeliling kami sakura bertaburan. Sejak itu, setiap kali aku mengalami momen kritis, jam tangan keperakan milik Ju menggantikan gelang emas Simbok sekolah di Wijilan.

*

Aku masih menyimpan benda itu hingga hari ini.

Di mobil, dalam perjalanan menuju Raffles Hills di mana Ju akan bersemayam untuk selamanya, penunjuk waktu yang telah usang tersebut tidak sedetik pun kulepaskan dari genggaman. Aku mencengkeram benda itu sampai tepi-tepinya yang tajam menyakiti telapak tanganku, seakan-akan dengan begitu aku bisa mencegah kepergian lelaki yang tidak pernah bisa kusingkirkan dari anganku.

Tiga puluh tahun telah berlalu sejak terakhir kali aku ke Wijilan. Itu berarti jam tangan kepunyaan Ju lebih lama mendekam di kotak perhiasanku daripada melingkar di pergelangan pemiliknya. Berkali-kali aku mendapat kesempatan untuk mengembalikan benda itu, tetapi pada saat-saat terakhir aku selalu dihentikan oleh rasa ragu, kalah oleh sebagian diriku sendiri yang tidak ingin melepaskan kenangan.

Aku mendesah. Tanganku mengepal semakin erat. Sekarang saja aku tidak siap. Ah, barangkali sampai kapan pun aku tidak akan pernah siap.

“An.”

Jemari Iwan merangkup tanganku. Sentuhannya yang lembut membuat aku tersentak. Aku menegakkan kepala dan serta merta menemukan sepasang mata teduh dalam rengkuhan kelopak tipis berkerut yang selalu setia menyambutku setiap pagi.

“Kita sudah sampai?” aku bertanya kepada lelaki di hadapanku.

Dia mengangguk pelan.

Aku menatap ke luar jendela. Kendaraan yang kami tumpangi telah berhenti di depan sebuah rumah duka. Bangunan itu berdiri di tengah lembah hijau yang berpayung langit muram, berhias aneka bunga segar dalam rangkaian putih syahdu. Mawar, lili, krisan.

Di teras dan di dekat pintu masuk berkumpul sejumlah orang. Mereka mengenakan jas atau gaun tertutup berwarna kelam, berbicara satu sama lain dengan eskpresi wajah yang sendu, dan sebagian di antaranya menangis dalam diam sembari mengusap butir-butir air mata dengan jemari atau tisu.

Itu bukan pemandangan baru. Di usia selanjut ini, aku telah terbiasa dengan suasana pemakaman. Lautan hitam manusia yang tengah berduka. Peti kayu berlapis polimer. Bau tanah merah bercampur aroma bunga. Batu nisan bertuliskan nama yang kukenal. Dan, kenyataan bahwa dua-tiga bulan yang lalu pemilik nama itu masih menemaniku minum espresso di Bakoel Koffie.

Ya, banyak kerabat dan sahabat yang meninggalkan aku dalam sepuluh tahun terakhir ini. Sebagian dari mereka pergi dikarenakan faktor usia, seperti Simbok dan Rosihan Anwar, sementara sebagian yang lain digerogoti gaya hidup tidak sehat persembahan globalisasi atau semata-mata dikarenakan waktu mereka di dunia ini telah habis.

Memilukan sekaligus melelahkan, menjadi seseorang yang selalu berdiri di sisi pusara bersama sepi dan penyesalan.

“Ayo, An.” Iwan menyodorkan kotak kayu seukuran rangkupan tangannya kepadaku. Kotak itu menganga dan memperlihatkan bagian dalamnya yang berlapis beledu merah menyala.

Aku membuka kepalan tanganku, menatap sejenak jam tangan kepunyaan Ju, kemudian memasukkan benda itu ke kotak. Kurasa, siap atau tidak siap, inilah saatnya.

Pintu mobil terbuka. Lelaki tegap dalam balutan seragam militer menyapa kami dengan sikap resmi. Iwan keluar lebih dahulu dan aku menyusul. Tepat ketika kakiku menjejak tanah beraspal, awan-awan kelabu yang menggelayut berat di atas kepalaku mencurahkan air matanya setitik demi setitik hingga menghasilkan gerimis yang lirih.

Aku merapatkan selendang kasmir yang mendekap pundakku, lalu menengadah, membiarkan wajahku basah.

Hari itu pun hujan turun. Bedanya, hari itu hujan turun begitu lebat. Air mengalir deras di bahu jalan, menuruni tanah landai. Tubuhku basah kuyup kala mengayuh sepeda. Tangan dan kakiku gemetar. Gigiku gemeletuk.

* * *


Catatan:
Ini merupakan potongan kisah Gandes Ayu dari apa yang seharusnya menjadi proyek bersama saya dengan Winna Efendi, Morra Quatro, dan Hanny Kusumawati. Karena semula ini dimaksudkan sebagai novella, maka bertempo cepat. An dan Ju hadir sebagai sosok dan pasangan yang berbeda dengan An dan Ju di Afternoon Tea.

5 comments:

  1. bagus sekali kak windry...
    ditunggu lanjutannya :)

    ReplyDelete
  2. Dear Mbak Windry,
    Saya suka sekali tulisanmu. Tulisanmu, Mbak, selalu menyihir dan bikin iri. Saya selalu menantikan tulisan-tulisanmu, mbak :')

    ReplyDelete
  3. Sukaa dan ingin segera tahu kelanjutannya. Itu saja.

    ReplyDelete