Meet Gilang & Ayu: Luka dan Janji yang Mereka Bawa Pulang

Sesuatu mengenai kepala si pemuda lucu. Sesuatu itu cukup besar dan keras untuk membuatnya terbangun.

Gilang mengerang lirih, merasakan ubun-ubunnya nyeri. Saat membuka mata, samar-samar dia melihat seorang lelaki menjauh tergopoh sambil mencangklong ransel gemuk yang seakan-akan hendak meledak. Sosok tinggi lelaki itu merunduk di antara kursi-kursi biru dalam ruang putih berlangit-langit rendah, menyusul sosok-sosok lain di depan yang menghilang satu per satu lewat pintu kecil di ujung.

Dia mengerjap-ngerjap. Perempuan Tiongkok berseragam merah datang kepadanya, lalu tersenyum. “Kita sudah mendarat beberapa menit yang lalu.”

“Mendarat?” Dalam keadaan belum sadar sepenuhnya, Gilang bertanya.

“Saat ini, pukul delapan pagi lewat lima belas menit di Jakarta.”

Jakarta.

Pemuda itu mengerjap-ngerjap lagi. Dia memperhatikan ruang putih berlangit-langit rendah di sekelilingnya dan barisan kursi biru yang telah ditinggalkan. Ah, ya. Dia berada di kabin pesawat, di sudut belakang. Baru pemuda itu sadar. Satu hari sebelumnya, dia terbang dari London.

“Apa kami perlu membantu menurunkan tas Anda?”

“Tidak, terima kasih.” Gilang menggeleng, lalu bangkit perlahan-lahan. Ubun-ubunnya masih nyeri. Dia mengambil tasnya dari ruang penyimpanan di bagian atas kabin. Malas-malasan, dia menyeret benda itu ke pintu. Perempuan berseragam merah tadi mengantarnya.

Dia sempat berhenti di dekat sayap untuk mencari seseorang di kursi 23A. Gadis gila buku yang terbang dari London bersamanya. Tetapi, tidak ada siapa-siapa di sana. Tentu saja. Dia penumpang terakhir yang meninggalkan pesawat.

“Selamat jalan. Terima kasih telah terbang bersama kami. Sampai bertemu lagi,” kata perempuan berseragam merah.

Gilang mengangguk dan memaksakan segaris senyum.

Terminal 2 Soekarno Hatta ramai meskipun hari masih pagi. Ribuan orang menyesaki lobi. Suara-suara tumpang tindih. Obrolan, gerit roda koper, bunyi kaki-kaki yang berjalan cepat, pengumuman penerbangan. Tidak seramai Heathrow, memang. Heathrow, Sayang, bandara internasional paling sibuk di dunia. Soekarno Hatta tidak sebanding. Tetapi, bagi Gilang yang lelah fisik dan emosi, suara-suara tersebut cukup mengganggu.

Karena itu, setelah terbebas dari antrean imigrasi, dia cepat-cepat keluar dari terminal. Dia ingin mencari si gadis gila buku sekali lagi, tetapi percuma menurutnya. Lobi terlalu ramai. Lagi pula, dia terlambat turun tadi. Kemungkinan besar, si gadis gila buku sudah tidak ada di bandara.

Gilang berdiri di teras dan mengedarkan pandangan. Tasnya dibiarkan teronggok di lantai. Matanya mencari-cari. Beberapa sopir taksi mendekatinya, tetapi dia menggeleng. Dia dijemput temannya. Atau, begitulah rencananya. Hampir pukul sembilan. Temannya belum terlihat.

Sambil melepas jaket, Gilang menyalakan ponsel. Dia mengusap leher. Udara hangat dan lembap, membuatnya berkeringat.

“Hei, Shakespeare!”

Tepat saat dia hendak menghubungi temannya, sebuah mobil Eropa merapat ke teras. Lalu, pemuda necis bersetelan mahal yang seumuran dengannya keluar dari kendaraan. “Maaf. Macet di Sedyatmo. Lama menunggu?” Pemuda itu menyeringai.

Gilang tidak menjawab. Dia membawa barang-barangnya ke kendaraan. Setelah itu, dia duduk di sebelah kemudi. Kepalanya disandarkan ke jok. Mulutnya mengembuskan napas dengan berat. Dia hanya pergi selama delapan hari ke London, tetapi seperti bertahun-tahun keliling dunia.

“Langsung ke tempat indekos?”

Dia mengangguk. Kendaraan pun bergerak. Mereka melaju cepat dan halus.

“Kau kelihatan kacau. Enam belas jam penerbangan yang melelahkan, ya?”

“Dua puluh.” Gilang menukas. “Aku transit empat jam di Chek Lap Kok. Kau yang memesankan tiket untukku. Masa lupa?”

Temannya terkekeh. “Yah, kau minta dicarikan penerbangan yang paling menguntungkan, bukan yang paling cepat. Ada harga untuk segala hal,” dalih pemuda itu. “Oh, hei, bocah-bocah menelepon.”

Terdengar dering yang nyaring dari ponsel di atas dasbor mobil. Pengeras suara dinyalakan. Seseorang menyapa lewat perangkat elektronik itu. “Sudah sampai di Soekarno Hatta? Sudah ketemu Gilang?” Pemuda ketus yang tidak repot-repot berbasa-basi terlebih dahulu.

“Aku di sini,” sahut Gilang.

“Hei, hei, Gilang!” Pemuda lain menyeletuk sambil tertawa. “Pujangga kita sudah kembali. Selamat datang, Shakespeare.” Suaranya sangat mirip dengan pemuda yang pertama, sulit dibedakan, nyaris identik, sama-sama berat dan sengau. Tetapi, pemuda yang kedua ini jauh lebih riang. “Kami merindukanmu. Tidak asyik nongkrong tanpa kau.”

“Ya. Tidak ada yang dijadikan bulan-bulanan.” Pemuda yang pertama menanggapi.

“Berengsek kalian.” Gilang ikut tertawa.

“Minum-minum malam ini? Jack Daniel’s. Kita rayakan kepulanganmu.”

Tawa Gilang kisut seketika. Dia berdeham. “Lain kali, Teman-teman. Malam ini aku ingin sendiri.”

Dua pemuda di telepon kehilangan kata-kata. Sesaat kemudian, suara mereka berubah canggung. “Tentu, tentu. Kau pasti capai. Istirahat saja malam ini. Kita minum-minum lain kali.”

“Tapi kau bisa menghubungi kami kalau berubah pikiran.”

“Kapan saja. Kami tidak ada kerjaan.”

“Benar-benar tidak ada kerjaan.”

Lalu, pembicaraan berakhir. Layar ponsel di atas dasbor redup.

Gilang melempar pandangannya ke luar jendela. Pohon-pohon bergerak cepat. Daun-daun seperti gumpalan hijau yang acak. Di baliknya, matahari mengintai, mengikuti, dan tidak mau lepas. Sambil memperhatikan semua itu, dia memainkan gelang rajut di tangan kirinya. Jari-jarinya mengusap beberapa benang yang telah terurai. Benang-benang cokelat dan jingga.

“Bagaimana London?” Temannya bertanya tiba-tiba.

“Dingin,” jawab Gilang, “dan hujan turun terus-menerus.” Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela. “Tidak terlalu bersahabat.”

Hening setelah itu. Temannya mengangguk-angguk, tetapi sesungguhnya pemuda itu masih menyimpan rasa ingin tahu. Dia melirik Gilang. Beberapa kali dia membuka mulut, gatal ingin melontarkan pertanyaan yang sudah berada di ujung lidahnya. Setiap kali itu pula dia urung. Dia membiarkan Gilang membisu.

Di tengah Tol Sedyatmo, dia diminta menepi oleh Gilang. Dia menurut. Mereka berhenti di bahu jalan.

Gilang turun, lalu melompati pagar baja yang membatasi jalan aspal dengan tanah landai di sisi luar. Dia melepas gelang rajut di tangannya. Temannya beberapa langkah di belakang.

Dia, pemuda lucu kita, kembali mengusap benang-benang cokelat dan jingga yang telah terurai. Dadanya terasa sesak. Sebuah perasaan meluap. Perasaan yang membuat hatinya perih. Luka yang dia bawa pulang.

Pemuda itu menghela napas. Dia meremas gelang rajut tersebut. Dengan segenap kekuatan, dia mengayunkan tangannya. Benda yang semula berada dalam genggaman pemuda itu pun melayang di udara, lalu hilang di antara helai-helai rumput yang tinggi dan semak-semak yang rapat di kejauhan.

Sesaat, Gilang lega. Seakan-akan, dia telah terlepas dari siksaan. Dia melangkah ke arah kendaraan. Tetapi, tepat di batas jalan, dia tertegun. Kelegaan yang sempat dia rasakan menguap, digantikan oleh kehilangan dan penyesalan yang amat kuat.

Dia berusaha bertahan, tetapi kehilangan dan penyesalan itu telanjur menyebabkannya lemah. Tawanya pecah. Geram sekaligus pilu. “Sial,” bisiknya. Lalu, dia cepat-cepat berbalik untuk mencari gelang rajut yang telah dia buang. Dia merunduk menyibak helai-helai rumput yang tinggi dan semak-semak yang rapat. Tangannya basah terkena sisa-sisa embun. Jari-jarinya gemetar.

Gelang rajut tersebut, Sayang, telah dimilikinya selama empat tahun. Pemberian sahabat yang dia kenal hampir sepanjang hidupnya. Gadis yang pernah—dan masih—dia rindukan. Cinta yang dia kejar ribuan mil, tetapi lalu dia lepaskan.

Dia menyembunyikan air matanya yang menitik saat gelang rajut tersebut ditemukan. Dari temannya, dia mendapatkan tepukan pelan di bahu.

“Kau bisa melalui ini. Jangan khawatir,” kata temannya.

Sebagai balasan, Gilang hanya menarik sedikit ujung bibirnya, memperlihatkan segaris senyum yang pahit. Dia mendahului temannya masuk ke kendaraan. Kepalanya tertunduk. Tangannya menyeka wajah.

Pemuda itu tidak yakin bisa melalui ini.

*

Barangkali, kalian bertanya-tanya. Bagaimana dengan si gadis gila buku? Ayu. Ke mana perginya dia? Bersama siapa dia meninggalkan Soekarno Hatta? Teman? Keluarga? Kekasih?

Kenyataannya, Sayang, Ayu meninggalkan Soekarno Hatta sendiri, menggunakan taksi yang dia setop di teras Terminal 2. Dia juga langsung pulang ke tempat tinggalnya seperti Gilang. Tetapi, tentu saja, dia tidak berhenti di tengah-tengah jalan untuk membuang—lalu mengambil kembali—sesuatu.

Dalam taksi yang membawanya ke selatan Jakarta, dia diam memandang ke luar jendela hampir sepanjang waktu. Barangkali, dia melihat pohon-pohon dan gumpalan hijau yang sama dengan yang dilihat oleh Gilang dua puluh atau tiga puluh menit kemudian. Sopir mencoba mengajaknya berbicara, tetapi dia hanya melirik lelaki di balik kemudi itu sekilas dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulut. Pada akhirnya, lagu-lagu di radio yang menguasai suasana.

Satu setengah jam kemudian, Ayu meminta sopir berbelok ke pelataran sebuah hunian. Mereka telah tiba di selatan Jakarta. Taksi yang ditumpanginya parkir di depan bangunan dua puluh lantai yang tampak baru, yang catnya belum ternoda dan lantainya masih mengilat. Dia memberi sopir tersebut beberapa lembar uang kertas, lalu turun menyeret tasnya. Taksi berlalu sementara dia masuk ke lobi.

Tempat tinggalnya ada di lantai kesepuluh. Lantai itu sepi sewaktu Ayu keluar dari elevator yang mengantarnya naik. Ada delapan pintu di kedua sisi selasar yang dia lintasi, tetapi hanya dua yang dihuni.

Ayu berhenti di depan pintu yang terletak paling ujung. Dia merogoh tas dan mengambil kunci. Derik pelan terdengar kemudian, disusul helaan napas Ayu yang mewakili perasaan lelah dan kecewa.

Dia telah pulang, pikirnya.

Yang menyambutnya adalah setumpuk kardus besar dan perabot-perabot yang belum ditata. Benda-benda itu menyesaki ruang duduknya, memenuhi sudut-sudut, berantakan, dan berdebu. Benda-benda itu bergeming, dingin.

Si gadis gila buku terbatuk. Dia mengibas-ngibaskan tangan. Ruang duduknya berbau cat dan pelitur, begitu menyengat. Lekas dia membuka pintu balkon, membiarkan udara luar menyerbu ruang duduknya. Perlahan-lahan, bau menyengat tadi pun hilang.

Di balkon, Ayu duduk. Dia menarik sebuah kursi dari dalam. Perabot itu masih terbungkus plastik. Ayu tidak repot-repot membukanya terlebih dahulu.

Dia menyalakan ponsel. Perangkat elektronik dalam genggamannya bergetar panjang, berkali-kali. Pesan-pesan bermunculan, sebagian di antaranya berumur satu atau dua minggu, ada pula yang baru dikirim beberapa jam yang lalu.

Jari-jari Ayu bergerak di permukaan layar. Dia memeriksa pesan-pesan tersebut. Jumlahnya puluhan. Seakan-akan, dia menghilang, lalu dunia panik. Ibu dan kakaknya mencari-carinya. Editornya, bahkan, menghubunginya hampir setiap hari. Ayu membaca semua pesan dari editornya, tetapi sengaja melewatkan pesan-pesan dari ibu dan kakaknya.

Aku mulai putus asa. Ke mana kau? Kenapa kau tidak mengangkat telepon? Kenapa kau tidak membalas pesan-pesanku? Kau menerima pesan-pesanku, kan? Tidak mungkin tidak. Apa kau sengaja menghindar? Kuberi tahu ya, kau tidak bisa menghindar. Ini September. Kau janji memberiku sesuatu. Sesuatu, Ayu. Sinopsis. Sepotong paragraf. Apa pun itu.
Dia bisa membayangkan seperti apa editornya sewaktu menulis pesan tersebut. Raut muka perempuan itu datar, tetapi di matanya ada kilat tajam yang membuat banyak penulis menunduk takut. Suaranya tenang, dingin, menyurutkan keberanian. Satu telunjuknya di pangkal hidung, membenarkan kacamatanya yang hendak melorot.

Editornya tidak tahu dia pergi. Dan, dia memang menjanjikan sesuatu kepada perempuan itu.

Maka, Ayu menelepon editornya. Dia tidak menunggu lama. Nada sambung segera digantikan oleh suara editornya yang tenang, dingin, dan menyurutkan keberanian.

“Semoga kau punya sesuatu. Kalau tidak, sebaiknya kau punya alasan yang bagus,” kata editornya. Tidak ada “Halo,” atau, “Apa kabar?” Selalu begitu. Editornya tidak mengenal basa-basi.

Ayu memutar bola matanya. “Aku dua minggu lebih di London, baru kembali pagi ini.”

“London? Untuk menulis?”

“Bukan.”

“Riset?”

“Bukan.”

Editornya mendengus. Ayu buru-buru menambahkan, “Aku punya sesuatu.” Kali ini, editornya diam. “Masih sebatas ide, tapi aku sudah tahu apa yang akan kutulis untuk novelku selanjutnya. Aku mendapatkan ide ini di London.”

“Tentang apa?”

Ayu menengadah dan menggumam, menyuarakan hem yang panjang. Matahari terik. Dia sedikit memicing.

“Tentang apa?” Editornya bertanya lagi setelah menunggu beberapa detik.

“Aku harus mematangkan ide ini dulu. Senin depan, aku ke kantor redaksi.”

“Senin depan. Oke. Kutunggu. Bawa sinopsis yang menarik.” Lalu, telepon diputus begitu saja. Lagi-lagi, tidak ada “Terima kasih,” atau, “Sampai ketemu.” Tetapi, Ayu sudah terbiasa dengan perilaku editornya.

Dia bersandar ke punggung kursi. Langit di atasnya pudar dan kusam, seperti sapuan cat air yang terlalu encer. Meskipun demikian, bangunan-bangunan tetap menjulurkan tubuh, berlomba-lomba menggapai hamparan biru yang nyaris putih. Sementara itu, jalan-jalan di bawahnya padat, semrawut. Kendaraan-kendaraan berbaris panjang dan bising.

Ponselnya kembali bergetar. Nama ibunya tertera di layar. Perempuan itu mengirim pesan baru. Ayu diam menggigit bibir. Dia memandangi nama ibunya di layar, lalu mendesah. Gadis itu sadar, dia tidak bisa terus-menerus menghindar.

Kata ibunya,

Tolong kasih kabar kalau kau sudah pulang. Kakakmu butuh bantuan. Ibu tidak yakin dia bisa mengurus pernikahan sendiri.
Kakaknya. Luh. Sebelum ibunya, kakaknya pun mengirim pesan.

Menurutmu, kami harus pakai nama panjang atau nama panggilan di undangan? Ibu tidak setuju, tapi aku lebih suka Luh dan Em. Kesannya mesra.
Napas si gadis gila buku berubah berat setelah dia membaca pesan kakaknya. Seketika, hatinya gusar. Dia mematikan ponselnya. Setelah itu, dia meninggalkan balkon. Ponselnya dibiarkan telantar di sana.

Di ruang duduk, dia bergeming lama. Dia berusaha menekan kegusarannya. Hatinya berangsur tenang. Dia menarik napas panjang, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ke sudut-sudut yang disesaki kardus, dan ke perabot-perabot yang tidak tertata.

Tempat tinggalnya benar-benar berantakan. Ayu pindah dari rumah orangtuanya ke apartemen ini tepat sebelum dia pergi ke London. Dia telah membawa serta barang-barangnya, tetapi belum punya waktu untuk merapikan semua itu.

Dia harus merapikan semua itu. Segera. Sekarang juga, pikirnya. Tidak mungkin dia bisa tinggal di tengah-tengah kekacauan.

Ayu mulai dengan membongkar isi tas. Gadis itu mengeluarkan pakaian-pakaian kotor dan buku-buku yang dia kumpulkan dari toko-toko kecil di London. Buku-buku berusia puluhan tahun yang kertasnya kuning dan tepinya berbintik-bintik cokelat. Cetakan-cetakan pertama.

Di London, dia berhasil mendapatkan Empire of The Sun, novel semi biografi J. G. Ballard yang diterbitkan pada 1984. Sampulnya bernoda tanah. Ayu mengusap noda itu sambil memberengut. Dia juga menemukan Pride and Prejudice Jane Austeen. Bukan cetakan pertama, sebenarnya, tetapi cukup tua. Lalu, Night and Day Virginia Woolf yang nyaris mulus. Villette Charlotte Bronte. Burmese Days George Orwell.

Si gadis gila buku tertegun.

Dia mengangkat Burmese Days ke udara. Seketika, dia teringat kepada Gilang. “Ah, sial,” katanya. Dia lupa memberikan buku itu. Kini, dia harus mencari Gilang di Facebook dan menanyakan alamat. Repot benar. Mengapa pula dia membeli buku itu?

Bersama Empire of The Sun, Pride and Prejudice, Night and Day, dan Villette, Ayu membariskan Burmese Days di rak kayu yang memenuhi salah satu dinding apartemennya. Tetapi, buku-buku itu tampak kesepian, seperti titik kecil di selembar kertas lebar. Maka, dia membuka kardus di sudut ruangan yang diberi label “langka”, lalu mengisi rak kayu tersebut dengan cetakan-cetakan pertama yang lebih dahulu dia miliki.

Gadis-gadis lain mengumpulkan tas dan sepatu. Ayu mengumpulkan buku-buku tua yang langka. Benar-benar. Dia memang gadis gila buku sungguhan. Obsesinya adalah memiliki Wuthering Heights Emily Bronte cetakan pertama. Sampai saat ini, sayangnya, dia belum berhasil.

Sesuatu menyelinap keluar dari salah satu buku di kardus. Foto.

Foto tersebut jatuh ke kakinya. Ayu menunduk, lalu menahan napas. Hatinya, seperti tadi, gusar.

Dalam foto tersebut, dia bersama seorang pemuda. Mereka bersisian. Lengan pemuda itu merangkul bahunya. Kepalanya di dada pemuda itu. Wajah mereka sedikit merah. Senyum mereka sama-sama rikuh.

Perlahan-lahan, Ayu membungkuk. Tangannya terulur meraih foto tersebut. Jari-jarinya gemetar. Begitu mendapatkan foto tersebut, dia membaca tulisan di kiri atas kertas.

Ayu dan Em.

Lalu, dia melepaskan napas yang ditahannya. Pada saat yang bersamaan, ah yang pilu terdengar dari mulut gadis itu.

Gadis itu hendak menangis, tetapi buru-buru menahan diri. Dia menggeleng keras-keras. Dia harus kuat. Dia tidak boleh lemah.

Di London, dia berjanji untuk bertahan tanpa lelaki.

Jari-jarinya yang gemetar mengepal, begitu kuat seakan-akan dengan demikian dia sanggup menghilangkan masa lalu yang tersimpan dalam foto di tangannya.


* * *

* taken from Pluviose

6 comments:

  1. aku juga menarik napas panjang setelah baca ini mba. Ah, Ayu ternyata... :(

    ReplyDelete
  2. mbak,....Ayu kok ga beruntung terus :(

    ReplyDelete
  3. pacarnya direbut kakaknya?! kasihan ayuu :(

    ReplyDelete
  4. oh my oh my. kenapa cerita hidupnya ayu seperti gilang? mbaaaa aku ngga sabar pake bgt sama kisah gilang-ayu. selese baca After Walking You , aku malah penasaran sama ayu.

    ReplyDelete
  5. Seneng banget akhirnya ayu dan gilang punya cerita yang utuh di buku :) gak sabar nunggu PO angel in the rain nya mbak windry. Semangat ya mbak windry, aku suka banget sama karya2 mbak windry :)

    ReplyDelete
  6. mbaaaa aku ngga sabar pake bgt sama kisah gilang-ayu. selese baca After Walking You , aku malah penasaran sama ayu.

    ReplyDelete